Perempuan Seharusnya Tidak Bekerja, Betulkah?

05 Desember 2011 17:04:49 Dibaca :


Di tengah gaungnya emansipasi, perkembangan gaya hidup dan kesetaraan jender, proporsi pekerja perempuan semakin meningkat dari waktu ke waktu. Akibatnya kini jumlah pekerja perempuan hampir berimbang dengan laki-laki.


Pandanganku tentang perempuan bekerja memang sangat kolot yang menganggap bahwa sebaiknya perempuan itu tinggal di rumah, cukup menjadi ibu dari anak-anak saja. Dan Alhamdulillah, aku juga berhasil mendapatkan istri yang sejak berpacaran bersedia untuk hanya menjadi ibu dari anak-anak.


Berikut ini 2 hal besar yang merupakan plus-minus dari istri yang bekerja berdasarkan pengamatanku di sekitar lingkungan rumah, tempat bekerja dan keluargaku  :



Positif :


1. Perempuan bekerja otomatis akan menghadirkan uang lebih banyak daripada yang hanya suaminya saja yang bekerja.


2. Perempuan bekerja cenderung lebih merawat diri dibanding yang tidak bekerja dan tentunya akan mempercantik mereka di hadapan suami.


Negatif :


1. Perempuan yang bekerja akan menyerahkan urusan anak pada pengasuh selama ia bekerja, akibatnya  di pergaulan sosial, anak sering berlaku  sekehendak hati dan cendrung tidak hormat dan tidak nurut pada orang yang lebih tua.


2. Perempuan bekerja cenderung terlalu percaya diri di hadapan suami sehingga banyak perceraian yang dimulai dari kondisi demikian.



Ketika kedua anakku mengeluh repotnya naik kendaraan umum, aku coba tawarkan sesuatu : “Kalau mamah bekerja kita pasti sudah kebeli mobil, gimana…?”. Anakku yang berusia 5 dan 3 tahun sepakat menjawab “nggak, mending gak punya mobil daripada mamah harus pergi tiap hari”.



Bagaimana dengan anda...??

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?