Apa Arti Kemenangan Jokowi-Ahok?

28 September 2012 14:15:39 Dibaca :

Dari hasil hitungan cepat dan didukung oleh keputusan KPUD hari ini, pemenang pemilukada DKI Jakarta adalah pasangan Jokowi dan Ahok. Kemenangan ini mempunyai banyak arti, tergantung dari mana kita melihatnya. Dalam tulisan ini saya mau mengupas arti kemenangan tersebut bertitik tolak dari pernyataan DR Marzuki Alie.


Marzuki Alie: Al-Quran sebagai Pedoman Memilih


Sebelum memasuki masa kampanye pemilukada DKI putaran kedua, pasangan Jokowi – Basuki mendapat serangan black campaign. Isu yang dilontarkan adalah soal agama; dan yang melontarkannya adalah Haji Rhoma Irama dan DR Marzuki Alie.


Memang apa yang dilakukan oleh Rhoma Irama dan Marzuki Alie bukanlah suatu bentuk kampanye. Mereka tidak dengan terang-terangan mengajak masyarakat, khususnya umat muslim, untuk memilih pasangan Foke – Nara. Mereka hanya secara terselubung mencegah umat islam untuk memilih pasangan Jokowi dan Ahok. Tidak memilih Jokowi – Ahok sama artinya memilih Foke – Nara. Untuk menguatkan tujuannya ini Rhoma Irama malah sampai tega menebarkan fitnah kepada Jokowi.


Untuk meneguhkan pernyataan terselubung agar memilih pasangan Foke – Nara dan menolak (tidak memilih) pasangan Jokowi – Basuki, kedua tokoh panutan ini menggunakan al-quran sebagai dasar pembenarannya. Bagi mereka berdua al-quran merupakan pedoman dalam memilih pemimpin. Al-quran mengajarkan agar umat islam memilih pimpinan yang seiman/seagama (baca: beragama islam). Artinya, umat islam disarankan untuk memilih pemimpin yang beragama islam. Semua orang islam terikat kewajiban untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh al-quran. Al-quran adalah pedoman hidup umat muslim, selain hadits nabi. Jadi, seperti yang dikatakan oleh Marzuki Alie, seseorang yang mengaku dirinya islam akan patuh pada ajaran al-quran. Berkaitan dengan pemilukada DKI Jakarta ini artinya orang islam akan memilih pasangan nomor urut satu, yaitu Foke – Nara.


Mengapa? Dari dua kandidat calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, pasangan nomor urut satu yang murni beragama islam. Baik calon gubernur maupun calon wakil gubernur sama-sama beragama islam. Sementara pasangan lain, Jokowi dan Ahok, dilihat tidak murni alias pincang. Jokowi memang beragama islam, tapi Ahok bukan islam, melainkan kristen. Malah Haji Rhoma Irama mengatakan bahwa orang tua Jokowi beragama kristen. Tentulah pernyataan ini untuk mempengaruhi pikiran orang. Karena itu, orang islam, yang benar-benar islam, karena taat setia berpegang pada al-quran, tidak akan memilih pasangan nomor urut tiga, yaitu pasangan Jokowi dan Basuki. Al-quran tidak menganjurkan. Al-quran mengajarkan untuk memilih pasangan yang beragama islam. Maka, orang yang benar-benar islam akan melaksanakan ajaran al-quran dengan memilih pasangan Foke – Nara.


Tapi apa yang terjadi? Pasangan Foke – Nara, sekalipun asli Betawi, kalah. Dan yang menang adalah pasangan Jokowi – Ahok. Ada apa ini?


Arti Kemenangan Jokowi – Ahok


Sampai dengan pukul 17.00 WIB, semua hasil perhitungan cepat pada tanggal 20 September menunjukkan kemenangan pasangan Jokowi dan Basuki. Hasil ini diperkuat lagi dengan keputusan KPUD yang baru menyelesaikan perhitungannya hari ini, 28 September, di mana pasangan Jokowi – Ahok mendapat 53,82 % suara sedangkan pasangan Foke – Nara memperoleh 46,17% suara. Publik akhirnya tahu Jokowi dan Ahok adalah pemenang pemilukada DKI Jakarta. Merekalah yang pantas dan layak menduduki kursi DKI-1.


Dikaitkan dengan uraian di atas, apa arti kemenangan Jokowi dan Basuki ini? Saya melihat ada 3 arti kemenangan pasangan ini.


1. Ada kemungkinan umat beragama islam tidak sebanyak yang diperkirakan. Padahal Lembaga Survei Indonesia mengungkapkan bahwa pemilih muslim DKI sebanyak 85 persen. Jika semua suara itu (85 persen) masuk ke pasangan Foke – Nara, tentulah pasangan ini otomatis menang. Tentu ini mengandaikan umat islam taat setia pada al-qurannya. Apalagi pasangan Foke – Nara pernah mendapat dukungan dari kelompok etnis Tionghoa.


2. Ada 85 persen suara pemilih islam dan Jokowi – Ahok yang menang. Ini memperlihatkan ada atau bahkan banyak orang islam yang memilih pasangan Jokowi – Basuki. Mungkin hal ini dapat diartikan bahwa orang islam ini tidak benar-benar islam, karena tidak taat pada perintah al-quran; mereka tidak mengindahkan ajaran al-quran. Muncul pertanyaan: apakah al-quran tidak lagi memiliki “nilai” jualnya ataukah ia tidak bisa dijadikan pedoman untuk dunia sekuler?


3. Selain dua arti di atas, arti terpenting dari kemenangan pasangan Jokowi dan Ahok adalah pemilih Jakarta sudah cerdas. Sekalipun Haji Rhoma Irama dan DR Marzuki Alie membawa masalah ini ke ranah agama, masyarakat benar-benar tidak terpancing. Mereka sama sekali tidak terpengaruh. Rakyat sudah sungguh cerdas. Mereka tahu mana yang baik dan layak. Masyarakat tidak mau dibodoh-bodohi oleh orang-orang pintar, terhormat dan terpandang. Hati nurani masyarakat sungguh berperan. Karena itulah, kemenangan ini merupakan juga kemenangan rakyat dan kemenangan hati nurani


Tg Balai Karimun, 28 September

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?