Rhoma Irama Benar, Dalam Demokrasi SARA adalah Salah Satu Alat Kampanye

31 Juli 2012 17:35:06 Dibaca :
Rhoma Irama Benar, Dalam Demokrasi SARA adalah Salah Satu Alat Kampanye
Rhoma Irama Dalam Kampanye Foke-Nara (merdeka.com)

Follow Me : @assyarkhan

Sepertinya ada yang takut kalah saat Rhoma Irama dan Jimly Assidiqy menyatakan bahwa isu SARA bisa dibenarkan, Siapa mereka ? tidak lain adalah Kelompok Liberal Sekular dalam Pilkada DKI Jakarta. Hampir dipastikan pendukung Jokowi-Ahok kebanyakan dari pengusung Liberal Sekular yang berusaha memisahkan urusan Agama dari Aturan Pemerintahan, orang-orang yang selama ini tidak suka adanya KUA sebagai bentuk campur tangan Pemerintah terhadap urusan Agama bahkan dalam pandangan mereka Departemen Agama kalo perlu dibubarkan.

Apa yang dinyatakan Rhoma Irama sebagaimana dirilis Kompas bahwa Isu SARA dibenarkan sangat tepat sekali, dimana kontek ini Rhoma Irama melihat ini sebagai “Hak-Hak Berdemokrasi”. Dalam Demokrasi semua itu menjadi dibenarkan, sama halnya ketika Jokowi menunjukan "JARI METAL"nya, Itu juga bentuk "Pramordialisme" dalam bentuk yang lain. JARI METAL Jokowi-Ahok bertujuan agar semua orang yang menyukai Rock, Rocker dan Metal serta penggemar simbol-simbol menjadi memilihnya di Pilkada. Misalnya Jokowi dalam kampanyenya membawa "Jawa" maka targetnya adalah Pemilih "Jawa" , ketika Jokowi membawa Penyanyi Rock atau Jokowi menyanyikan lagu Rock dalam kampanyenya maka sesungguhnya Jokowi meminta dukungan dari Penggemar Rock atau fans Rocker. Ada yang salah? Tidak, lalu mengapa orang membawa Dangdut dan Betawi disalahkan? Aneh!

Sama halnya ketika Foke membawa Raja Dangdut Rhoma Irama dalam kampanyenya dipastikan Foke berharap dukungan dari seluruh penggemar Rhoma Irama dan penggemar Dangdut tentunya. Ketika  Foke-Nara dalam kampanye membawa Ulama, Habaib dan sebagainya harapannya adalah mendapat dukungan dari pengaruh Sang Ulama dan Habaib. Kok Ada yang menyalahkan, Kita ingin berdemokrasi tapi kok ga siap menerima kenyataan Demokrasi. Piye to ? Hanya orang-orang yang berpolitik kekanak-kanakan saja yang menyalahkan atau orang-orang yang takut kalah saja yang masih mempermasalahkan kondisi ini.

Raja dangdut Rhoma Irama yang juga merupakan tim kampanye pasangan calon gubernur Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli menuturkan, kampanye yang mengusung suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dibenarkan. Hal ini disampaikannya saat memberikan ceramah shalat tarawih di Masjid Al Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat, Minggu, (29/7/2012) (Kompas.com)

Coba Anda simak baik-baik pernyataan H. Rhoma Irama berikut ini : "Di dalam mengampanyekan sesuatu, SARA itu dibenarkan. Sekarang kita sudah hidup di zaman keterbukaan dan demokrasi, masyarakat harus mengetahui siapa calon pemimpin mereka," kata Rhoma Irama sebagaimana diliput Kompas.com. Coba dengan jernih berfikirnya wahai kaum liberal sekular, Apa yang salah dari pernyataan Rhoma ini? Anda seperti tidak siap berdemokrasi padahal Anda mengkampanyekan Demokrasi. Piye to?

Dalam Konteks Demokrasi dimana selama tidak menyalahi aturan Pemerintah dan Pemilu, misalnya menjelek-jelekan kandidat lain maka membawa Pendukung dengan pendekatan Keagamaan, Kesukuan masih dapat dikatakan benar karena inilah Demokrasi, dimana Demokrasi adalah meraih dukungan suara terbanyak, seperti yang Saya katakan tadi diatas, Siapa yang menyalahkan Jokowi membawa “Jiwa Rocker”nya dan “Metal”nya dalam kampanye, Toh itu juga sebagai alat kampanye untuk mendapat dukungan “Primordialisme” sesame pecinta Rock dan penganut kebebasan.

Saya melihat Rhoma Irama dan Jimly Assidiqie sangat menikmati Demokrasi, itu bagus. Rhoma Irama  memberikan pernyataan tersebut dalam Konteks DEMOKRASI  dengan mengimbau para jamaah untuk memilih pemimpin yang seiman. "Islam itu agama yang sempurna, memilih pemimpin bukan hanya soal politik, melainkan juga ibadah. Pilihlah yang seiman dengan mayoritas masyarakat Jakarta," ujarnya (Kompas.com). Sekali lagi Saya tanyakan, Dimana salahnya? Kecuali Anda tidak siap berdemokrasi atau Anda melakukan standar ganda dalam demokrasi.

Standar Ganda Kaum Liberal Sekular

Liberalisme, Sekularisme satu paket pengusung Pluralisme dan berpura-pura Humanisme merupakan “cara halus” Zionisme mengambil hati pendukung untuk tegaknya Pemerintahan Zion dimuka bumi ini, tahun 2012 ini merupakan kampanye terbesar Kaum Zionisme diseluruh Dunia dengan pengaruh mereka.

Penggemar Liberal Sekular menggunakan Standar Ganda dalam perilaku politiknya, disisi lain agar demokrasi berjalan dengan baik dan disisi lain mengkampanyekan orang-orang jauh dari agamanya, memisahkan urusan agama dengan politik dan pemerintahan, TETAPI disisi yang lain menghalangi orang lain menikmati demokrasi, Menurut Saya “Isu SARA” bisa dikatakan bentuk menikmati Demokrasi. Soal Efektif dan tidak efektif Demokrasilah yang menentukan pada akhirnya.

Anehnya lagi , Setelah orang ramai-ramai meninggalkan agama mereka akibat kampaye kaum liberal sekular ini sehingga orang yang beragama meninggalkan partai berbasis agama mereka, Kemudian apa yang dilakukan kaum liberal sekular ini? . Secara diam-diam mereka merektut dan mengajak  orang-orang yang sudah berhasil dijauhkan dari Ulama, orang-orang yang sudah berhasil dijauhkan dari Aturan Agama ini  mereka "datangi" untuk mendukung mereka agar bisa memenangi dalam Demokrasi ini. Ini tidak fair, standar ganda yang menjijikkan.

Jika pembaca jeli dan cerdas membaca berita, maka apa yang dilakukian Kelompok ini Aneh, disatu sisi membangun Opini "Isu SARA sudah tidak zamannya lagi, sudah tidak efektif lagi, sudah tidak wajar lagi", TETAPI  disisi yang lain rame-rame mereka berkomentar menentang dan melawan  Isu SARA. Piye to?

Saya justru Khawatir Isu SARA ini datangnya bukan dari tim sukses FOKE-NARA, bisa jadi dari pendukung-pendukung JOKOWI-AHOK yang membesar-besarkanya. Lho Kok Bisa? Ya bisa aja. Logikanya begini. Coba tanya yang memiliki pasangan kandidat beda agama siapa? Foke atau Jokowi? Sudah pasti terjawab Jokowi, Mengapa Pendukung Jokowi yang kemungkinan membesar-besarkan Isu SARA ini?, Kepentinganya tidak lain dan tidak bukan  untuk menjatuhkan Foke-Nara, karena logikanya tidak mungkin masyarakat akan menuduh “Jokowi-Ahok” menggunakan Isu SARA ini. Sudah pasti pihak yang tertuduh adalah Foke-Nara. Wow, kotor sekali jika benar demikian.

Disatu sisi kemungkinan besar mereka (Pendukung Jokowi-Ahok) menyebar Isu SARA terkait Agama Ahok . TETAPI disisi lain mereka menyebar opini ke media dengan kata-kata “Ah, bukan zaman lagi SARA, SARA sudah tidak Efektif lagi, SARA itu kampungan, Jakarta sdah cerdas bla..bla...bla ” atau dengan Opini “Kandidat yang menyebar ISU SARA adalah Kandidat yang Kalap, Kandidat yang takut kalah”. Pertanyaanya adalah? Siapakah yang dituju, Opini ini dikembangkan untuk menjatuhkan Foke-Nara dengan Isu SARA, padahal bisa jadi yang menyebar ISU SARA bukan dari Foke-Nara melainkan dari pendukung Jokowi-Ahok sendiri. Ketika Isu SARA sudah menyebar, disisi lain mereka berhasil "mencomooh" Isu SARA. Coba Anda tanyakan lebih keras : “Siapa yang paling disalahkan?” Jawabanya : Hampir semua media menyalahkan dan menuding Foke-Nara. Padahal bisa jadi yang mengkampanyekan ISU SARA ini datangnya dari Pendukung Jokowi-Ahok karena bisa jadi dalam kajian Tim Sukses mereka jika Isu SARA dilemparkan ke Publik maka yang pantas dipersalahkan adalah Foke-Nara dan meningkatlah Sentimen Negatif terhadap Foke-Nara dan Meningkatlah Dukungan kepada Jokowi-Ahok. Jika ini benar terjadi maka sungguh Liciknya dan kotornya Politik dalam PILKADA DKI JAKARTA 2012 kali ini.

PULITIK (Nipu Kanu Leutik). Waspadalah dengan permainan seperti ini

Sumber :

Rhoma Irama : Kampanye SARA Dibenarkan Dalam Demokrasi

Jimly Asshidiqie : Kampanye SARA Itu Tidak Masalah

Bandung, 1 Agustus 2012

ADI SUPRIADI (Assyarkhan)

Baca Juga Artikel Saya yang lainnya :

Lucu Aja Cara Ahok Melawan Arus Isu SARA

Ketika Seorang Muslim Memilih Pemimpinnya

Jokowi-Ahok Bisa Menang Pada Putaran Kedua, Apabila...

Inilah Alasan Mengapa Jokowi-Ahok Tidak Menang Satu Putaran

Ingin Berkuasa, Bersekutulah Dengan Dajjal

Mengerikan, Indonesia Akan Dikuasai Pemuja Setan

Adi Supriadi

/adisupriadi

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Writer, Trainer & Public Speaker. Working as HR Manager Di Perusahaan Penanaman Modal Asing Jepang.
"Dunia ini adalah tempat bekerja bukan tempat menerima pahala dan Akhirat itu tempat menerima pahala bukan tempat bekerja, maka bekerjalah ditempat yang tidak ada pahala untuk tempat yang tidak ada pekerjaan "(Assyarkhan)

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?