Liberal Sekularisme = Propaganda Zionis?

07 Juni 2012 00:35:09 Dibaca :
Liberal Sekularisme = Propaganda Zionis?
Waspadai Gerakan Liberal Sekularisme Indonesia (nahimunkar.com)

Follow Me : @assyarkhan

Suka tidak suka itu urusan Pembaca Pro Liberal Sekular, Saya akan tetap ingin bangsa ini selamat dari cengkraman zionis, dan akan terus berjuang untuk itu walaupun mungkin berat.  Sangat berat bahkan, tetapi akan terus dilakukan dan apapun kata pembaca termasuk yang pro terhadap zionis, liberal, sekuler dan sebagainya, karena faham-faham ini merupakan faham yang sengaja dibuat oleh Zionisme untuk merusak tatanan sebuah bangsa.

Beberapa waktu lalu ada Isue Lady Gaga, Irhsad Manji yang merupakan propaganda zionis dibidang budaya, bahkan diberbagai Negara di dunia menyatakan Korupsi tumbuh subur di sistem pemerintahan liberal Sekular.

Henry Ford, pendiri dan pemilik perusahaan mobil Ford Amerika Serikat yang semula tak yakin adanya konspirasi Zionis atas dunia, akhirnya menulis sebuah buku yang membongkar program-program jahat itu. Dalam buku yang sempat dimusnahkan Yahudi AS itu, Henry Ford–yang membongkar kebusukan lobi Yahudi, menyimpulkan, untuk mencapai tujuannya kalangan Yahudi menggunakan cara-cara yang sesuai karakter mereka, yakni: dominasi atau hancurkan!

Ford semula tidak begitu percaya keterlibatan Yahudi Internasional dalam berbagai peperangan dan peristiwa besar di dunia. Ia melakukan penyelidikan, menggali fakta-fakta, dan menyewa investigator. Penyelidikan Ford ini kemudian dikenal sebagai Jewish Question. Dari penyelidikan itu, Ford yakin tangan-tangan Yahudi Internasional bermain dalam berbagai peristiwa dunia. Dan, menurutnya, tangan-tangan itu harus dipatahkan.

Melalui Dearborn Independent, surat kabar kecil yang dibelinya di Michigan, Ford menurunkan hasil investigasinya yang membeberkan kebusukan Yahudi Internasional di Amerika. Salah satu temuan Ford adalah Protocol Zionis. Dokumen ini berisi strategi Yahudi Internasional menguasai dunia, politik internasional, keuangan dan bisnis, media dan budaya.

Publikasi terhadap Protokol Zionis tersebut menuai kecaman. Ford dianggap Anti-Semit. Dokumen itu oleh kalangan Yahudi dinilai palsu. Ford tidak ingin terjebak perdebatan asli atau palsu. Ia mengatakan, ”…dari apa yang saya ketahui, semua yang terjadi sekarang ini di dunia, sesuai dengan isi dokumen itu.”

Artikel-artikel di surat kabar Dearborn Independent memicu kemarahan kalangan Yahudi. Mereka menuntut Ford minta maaf. Bisnisnya dipersulit sampai mengalami krisis keuangan. Dalam situasi sulit itu, Ford dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan mobil secara misterius.

Pada 1977, artikel-artikel Ford itu dibukukan dalam The International Jew. Buku ini sempat menjadi buku terlaris, terjual lebih dari 10 juta copy. Kalangan Yahudimemborong buku ini, membakarnya,merazia toko-toko buku, dan bahkan mencurinya di perpustakaan untuk dimusnahkan.

Kini, Yahudi Internasional diyakini tangannya telah merambah ke seluruh dunia, ke segala kalangan. Pengaruhnya mendunia, mendominasi segala wacana. Pengikutnya pun menyebar ke mana-mana, ke segala profesi dan strata sosial kemasyarakatan. Pengikut, disadari maupun tidak disadari, pengikut langsung ataupun tak langsung, bahkan sekadar menjadi fans pengidola dari pengikut tak langsungnya, Termasuk menyabarkan artikel dan menulis dengan cara pandang liberal Sekular walaupun penulisnya bukan liberal sekular, misalnya Artikel Kisah Umar & Pemabuk yang menurut Saya Salah Tafsir jika tidak ingin disebut sengaja disalah tafsirkan .

Tangannya mengontrol segala peristiwa. Termasuk tak terkecuali, rentetan peristiwa dalam rangka agenda menghancurkan Palestina, dimana dunia Arab malahan hampir tidak melakukan apa-apa. Mereka hanya menjadi penonton saja, saat Palestina dihancurkan. Dan, kita yang di sini pun disibukkan dengan urusan politik dan pertengkaran antar kita-kita, termasuk ‘berkelahi’ dalam hal rencana konser Lady Gaga di sini—sementara sang Zionis dengan gerakan bawah tanahnya bisa jadi sedang terkekeh-kekeh ‘menonton’ ribut-ribut antara yang pro dan kontra Gaga.

Dalam agenda penghancuran generasi muda, Indonesia adalah salah satu sasaran utamanya. Kekayaan alam yang melimpah dan penduduknya yang mayoritas Muslim, menjadikan negeri ini sebagai sasaran yang sangat menggiurkan untuk dijadikan ‘mangsa’. Zionis tak perlu bangsa ini mengganti keyakinannya di KTP, apalagi menjadi Yahudi. Terlebih lagi, bagi Zionis, Yahudi sebagai bangsa pilihan, mustahil menjadikan orang non-Yahudi menjadi Yahudi. Maka, adalah aneh ada  komunitas yang menyebut dirinya sebagai Komunitas Yahudi, padahal bukan Yahudi, dan Zionis Yahudi sendiri tak suka orang non-Yahudi menyebut dirinya Yahudi, karena bagi mereka  Yahudi itu  sebuah nama untuk  bangsa pilihan. Tapi, mungkin pihak Zionis membiarkan saja hal ini, karena mereka berkepentingan komunitas  yang menyebut dirinya dengan embel-embel Yahudi itu sebagai bagian untuk melancarkan misi mereka. Sebagai fakta Anda boleh membaca Berita yang heboh di eropa dengan pernyataan seorang RABI : Kecuali Yahudi, Semua Bangsa Di Dunia Idiot.

Zionis sengaja menciptakan generasi yang lemah dari non yahudi di masa mendatang, sehingga dapat "dijajah" dan diambil kekayaan negaranya, dan inilah Indonesia hari ini. Hedonisme, dunia malam, pergaulan bebas, video porno dan sebagainya menjadi budaya remaja hari ini, terlenalah dan lupalah dengan masa depan, ujian nyontek bentuk lain dari pembodohan, sehingga puluhan tahun mendatang lahirlah Generasi yang lemah sesuai dengan targert Zionisme International.

Jadi, bagi Zionis,  tak perlu berganti nama dan keyakinan. Cukup pola pikir dan kelakuan non-Yahudi itu berubah. Maka, dengan penetrasi budaya lewat sosok yang digandrungi, diidolai dan digila-gilai, sehingga generasi ini meniru cara berpakaian sang idola yang vulgar, itu merupakan langkah awal untuk menguasai dan mengendalikan ‘korban’nya. Program ini sudah tertuang dalam protocolat Zionis Yahudi yang berisi 24 atau 25 butir kesepakatan, di antaranya:

“…Beberapa sarana untuk mencapai tujuan adalah: Minuman keras, narkotika, perusakan moral, seks, suap, dan sebagainya. Hal ini sangat penting untuk menghancurkan norma-norma kesusilaan masyarakat. Untuk itu, Konspirasi harus merekrut dan mendidik tenaga-tenaga muda untuk dijadikan sarana pencapaian tujuan tersebut.Maka dalam hal pemberian Grasi kepada CORBY oleh Susilo Bambang Yudhoyono pun tak perlu heran, saya sudah menulisnya dalam Artikel : Soal Grasi Corby, SBY Dalam Ancaman Freemason

Berikutnya, Protocolat Zionis Yahudi berbunyi :

Pemuda harus dikuasai dan menjadikan mereka sebagai budak-budak konspirasi dengan jalan penyebarluasan dekadensi moral dan paham yang menyesatkan. .Program-program hiburan dunia yang penuh dengan Hedonisme dan melalaikan anak-anak muda merupakan bagian dari Zionisme International.

Paham Liberal Sekular merupakan bagian dari propaganda Zionisme dan akan terus ditebar di seluruh generasi muda beragama mau apapun agamanya sehinggaa kelak dengan sendirinya anti dengan aturan agama. Dalam satu butir Protocolat Yahudi:

Paham Liberal harus kita sebarkan ke seluruh dunia agar pengertian mengenai arti kebebasan itu benar-benar menimbulkan dis-integrasi dan menghancurkan masyarakat non-Yahudi.” Dalam konteks ini, jelas kehadiran Irshad Manji dan lainnya, misalnya, tak berdiri sendiri. Tapi membawa misi.

Selanjutnya, “Kita harus berusaha agar opini umum tidak mengetahui permasalahan sebenarnya. Kita harus menghambat semua yang mengetengahkan buah pikiran yang benar. Hal itu bisa dilakukan dengan memuat berita lain yang menarik di surat kabar. Agen-agen kita yang menangani sektor penerbitan akan mampu mengumpulkan berita semacam itu. Pandangan masyarakat harus kita alihkan kepada hiburan (dunia entertainment, pen), seni (musik, pen) dan olah raga.” (Cat. Semoga Artikel Ini tidak dihapus karena dianggap menghambat program zionis, karena media sebagian besar sudah dikuasai Zionisme)

Tidak hanya Lady Gaga, banyak artis Hollywood dan pemimpin dunia yang bergabung dengan gerakan penghancuran ummat melalui propaganda Liberal Sekular. Menyebarkan symbol-simbol persaudaraan dalam kode Illuminati dan paganisme. Illuminati adalah sebuah kelompok Zionis Yahudi yang memiliki hubungan erat dengan Freemasonry, kelompok rahasia dan bawah tanah Zionis. Illuminati adalah sekte Luciferian (iblis) yang memiliki arti Sang Pembawa Cahaya. Sekte ini memiliki misi untuk menghancurkan bangsa-bangsa non-Yahudi melalui ide pemikiran rusaknya yaitu Liberal Sekularisme.

Kampanye-kampanye terselubung lewat seni sangat dalam sekali, misalnya tema konser Lady Gaga yang keliling dunia tersebut “BORN THIS WAY” adalah kampanye Kehidupan kaum SODOM, dengan Lesbianisme dan gaya hidup Gay dan Transgender. Salah satu lirik lagu Gaga “Born This Way” yakni : “..No matter gay, straight, or lesbian, transgendered life… I’m on the right track, baby I was born to survive. (Tidak peduli gay, lurus, lesbian, kehidupan transgender. Saya dijalur yang benar).

Jadi, jika Freemasonry yang merupakan kelompok garis keras dan bawah tanah Zionis Yahudi, maka Illuminati adalah organisasi lebih atas lagi. Lebih rahasia. Penuh misteri. Sayangnya, banyak umat Islam yang tidak menyadari. Karenanya, para tokoh Islam atau yang memahami tentang Zionis Yahudi, sudah seharusnya dengan serius memberikan informasi tentang bahaya Illuminati, Freemason, dan lainnya yang berhubungan dengan Zionis Yahudi. Termasuk para pembawa misi kelompok-kelompok Zionisme

Seperti pernah dilansir Dailymail, salah satu pekerja di Hotel Intercontinental, London menceritakan, bahwa Lady Gaga tersebut telah meninggalkan cairan mirip darah dalam jumlah besar di bak mandi hotel. Semua staf hotel sangat yakin Gaga telah mandi di sana, atau setidaknya menggunakan cairan itu untuk mendandani kostumnya. Sudah tak mengherankan lagi, karena Lady Gaga memang terkenal sebagai boneka illuminati yang memiliki ritual pagan sebagai keharusan.

Kemudian perlu diketahui pembaca bahwa konflik, kerusuhan,  pencitraan yang buruk terhadap tokoh umat dan ormas Islam, pemunculan aliran sesat—termasuk munculnya nabi-nabi palsu—dan lainnya, itu merupakan bagian dari modus Zionis Yahudi untuk menguasai lawan-lawannya yang non-Yahudi. Dan Indonesia, hampir tiap pagi beritanya bentrok dan rusuh selalu menghiasi Televisi kita.

Menyebut apa yang lakukan Lady Gaga, Irshad Manji, Salman Rusdi, Ahmadiyah dan sebagainya sebagai kebebasan berekspresi merupakan bagian dari hasil dari pemikiran Liberal Sekulerisme, Liberal Sekulerisme merupakan bagian dari Propaganda Zionis, Artinya Kaum Liberal merupakan bagian dari kaki tangann Zionisme International yang merusak. Termasuk merusak tatanan berbangsa dan bernegara, sebagaimana Saya sebutkan diatas salah satu temuan di berbagai Negara Sekular Liberal bahwa Korupsi itu tumbuh Subur di Negara yang Sekular Liberal.

Indonesia secara judul memang Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, tetapi secara konten pelaksaaan tata kenegaraan saat ini dalam kungkungan liberalisme. Tidak ada jalan lain bagi bangsa Indonesia untuk selalu dan selalu membuat program positif, berita positif, iklan positif, Film Positif disemua media termasuk media sosial seperti Facebook dan Twitter dan mendekatkan generasi muda bangsa Indonesia pada agamanya, pada keyakinannya masing-masing, ta’at pada aturan Tuhan dan Nabinya.

Berharap dengan doa yang kuat dan kampanye-kampanye yang bertolak belakang dengan Agenda Zionis maka kelak 20 tahun mendatang kita berharap :  Masa Depan Bangsa Indonesia Cerah. Amin Ya Rabbal 'alamin.

Sumber :

Dakwatuna.com

Globalmuslim.com

Dailymail.com

Arrahmah.com

Kompas.com

Kompasiana.com

Rakyatmerdeka.com

Artikel Lain :

Masa Depan Bangsa Indonesia Cerah

Bandung, 7 Juni 2012

Adi Supriadi

/adisupriadi

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Writer, Trainer & Public Speaker. Working as HR Manager Di Perusahaan Penanaman Modal Asing Jepang.
"Dunia ini adalah tempat bekerja bukan tempat menerima pahala dan Akhirat itu tempat menerima pahala bukan tempat bekerja, maka bekerjalah ditempat yang tidak ada pahala untuk tempat yang tidak ada pekerjaan "(Assyarkhan)

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?