Belajar Pada Sang Pembebas 3000 Budak

10 Juni 2012 04:32:03 Dibaca :
Belajar Pada Sang Pembebas 3000 Budak

Dunia terlihat kejam, orang-orang yang bersuara lantang mengenai kebenaran selalu didepak sehingga terpental dari sistem, aktivis-aktivis pembela kebenaran banyak yang dibunuh dan hilang secara mesterius tanpa ada proses hukum yang jelas. Seperti Iqbal Masih yang meninggal ditembak karena membebaskan 3000 budak. Saya salut dan tersentuh hati saat tahu sosok Iqbal Masih. Terharu karena usianya masih muda, dipaksa menjadi budak, dan mampu membebaskan 3000 anak budak lainnya yang merupakan teman kerjanya. Menyentuh hati karena sosok kecil tersebut meninggal tertembak dalam memperjuangkan pembebasan perbudakan.

Sosok kecil bernama Iqbal Masih lahir pada tahun 1982 di Muridke, desa terpencil di luar wilayah Lahore. Sejak kecil Iqbal ditinggal ayahnya, sementara sang ibu, Inayat, bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Pada saat Iqbal berusia 4 tahun, kesulitan ekonomi memaksa ibunya terbelit hutang sebesar 600 Rupe (setara Rp. 102.000,-.) dan harus mengirim Iqbal  menjadi budak ke Hussain Khan. Disinilah penderitaan Iqbal berawal. Iqbal dipaksa untuk bekerja lebih dari dua belas jam sehari. Iqbal terus-menerus dipukuli, dicaci maki, dan dirantai ke alat tenun nya oleh pemilik pabrik karpet.

Iqbal pernah mencoba melarikan diri dari perbudakan  dan terpaksa tinggal di sebuah makam selama 3 hari. Makam ini merupakan sumur tua, terkubur di bawah halaman, ditutup oleh kisi di kaki tangga, lembab dan licin. Tak ada cahaya di bawahnya. Namun upaya pertama ini gagal, Hussain Khan berhasil menemukan Iqbal. Ia dan beberapa temannya yang ikut dalam pelarian kemudian dirantai ke alat tenun sehingga tidak bisa kabur lagi.

Pada usia 10 tahun, Iqbal berhasil melarikan diri dari perbudakan ini. Iqbal pun segera mencari pertolongan dan akhirnya bergabung dengan Front Pembebasan Buruh Pakistan (BLFF). Melalui gerakan inilah Iqbal akhirnya dapat membebaskan sebanyak lebih dari 3.000 anak yang bernasib sama dengan dirinya. Ia bahkan dengan berani berpidato tentang budak anak yang terjadi di seluruh dunia. Cerita Iqbal kemudian menjadi sebuah buku.

Sebagai seseorang yang bergabung dengan BLLF (Bonded Labor Liberation Front of Pakistan), sebuah kelompok yang didedikasikan untuk membebaskan perbudakan pada anak., ia berbicara dengan anak-anak tentang hak mereka berdasarkan undang-undang yang melarang tenaga kerja berikat. Sebagai juru bicara internasional untuk BLLF, ia pergi ke AS dan Eropa menyerukan untuk mengakhiri perbudakan pada anak.

Iqbal berbicara lantang, percaya diri, dan kuat dan kritik tanpa kompromi perbudakan anak. Kata Iqbal penyemangat untuk anak-anak lain dan kesediaannya untuk berbicara menentang perbudakan anak bebas telah membantu banyak anak-anak secara ilegal terikat lainnya. Pada saat kematiannya, dia terdaftar di sekolah untuk anak-anak dibebaskan berikat, di mana dia adalah seorang mahasiswa cerah dan energik. Mimpinya untuk masa depan adalah untuk menjadi pengacara. Dengan begitu, ia beralasan, ia bisa terus memperjuangkan kebebasan atas nama tujuh Pakistan dan setengah juta anak-anak secara ilegal diperbudak.

Ironisnya, pada hari Minggu 16 April 1995, tepat diusianya yang ke-12, Iqbal ditemukan tewas mengenaskan dengan luka tembakan dari bagian belakang dengan senjata laras panjang ukuran dua belas ketika sedang bersepeda dengan temannya. Kuat dugaan, ia dibunuh oleh 'mafia karpet' yang menjadi musuhnya selama ini.

Berkat perjuangan Iqbal, seruan untuk memboikot produk karpet Pakistan di dunia sangat berpengaruh sehingga pada tahun 1992, ekspor karpet kel uar Pakistan anjlok untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade. Begitupun pada tahun-tahun berikutnya. Selain itu, dalam pembebasan budak, Iqbal menerima penghargaan  pada Januari 2009, Kongres Amerika Serikat membuat Iqbal Masih Award, sebuah penghargaan tiap tahun bagi pejuang perbudakan anak. Iqbal juga dianugerahi Penghargaan Hak Asasi Manusia Reebok pada tahun 1994.

Perjuangan-perjuangan Iqbal dalam membesakan perbudakan anak, perlu jadi contoh bagi kita semua.  Sekitar 20 juta buruh terikat di Pakistan, setidaknya 7,5 juta dari buruh terikat adalah anak-anak. Lebih dari 500.000 anak-anak, seperti Iqbal, bekerja di industri karpet. Karena pemilik pabrik karpet, pria biasanya kaya dan berpengaruh di komunitas mereka, sering di bawah perlindungan polisi setempat, hukum terhadap anak memperbudak jarang ditegakkan. Disinilah lemah hukum yang selalu tunduk pada penguasa dan pengusaha kaya.

Telah banyak kasus penyiksaan terhadap TKI oleh majikannya.  Hal ini harus dihentikan sehingga tidak ada lagi kekerasan dalam perbudakan, sehingga budak-budak hidup wajar tanpa ada tekanan, penyiksaan dan penindasan.

STOP KEKERASAN PADA BUDAK..!!

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?