Kritis dan Berani, Pengharapan kepada Anak Bangsa

19 Mei 2017 10:14:06 Diperbarui: 19 Mei 2017 10:51:12 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Membaca tulisan dari Afi Nihaya, seorang gadis remaja murid sebuah SMA di Banyuwangi Jawa Timur membuat saya kagum. Tulisannya bagus dengan bahasa yang indah, runtut, alurnya jelas dan sangat masuk akal, jadi teringat akan seseorang yang beberapa waktu lalu cukup menghebohkan di jagat Kompasiana, seorang - yang ngakunya santri sebuah pesantren di Jawa Barat - yang di usia muda dengan tulisan-tulisannya mampu menghipnotis Kompasioner dan menimbulkan pro dan kontra karena tulisan-tulisannya yang mengangkat tema yang menurut saya anti mainstream dan out of the box pada saat itu.
 
Ada sedikit persamaan diantara keduanya, yaitu di usia yang sama-sama muda bisa menghasilkan tulisan yang cukup menghebohkan dan menjadi viral walaupun berbeda alamnya. Maksudnya, kalau Dewa Gilang di alam Kompasiana sementara Afi Nihaya di jagat media sosial yang bersifat lebih umum, Facebook.
 
Di luar konteks isi tulisan mereka berdua, mungkin masih ada lagi dan diharapkan banyak anak-anak muda yang bisa dan mampu menulis, menuangkan pikirannya dalam bentuk essay, jurnal atau entah apa namanya sebagai bentuk kekritisan terhadap kondisi lingkungan sekitar, pemerintahan dan sebagainya. Dengan lebih mudahnya akses informasi serta banyaknya fasilitas dan perangkat yang dapat membantu dalam membuat suatu hasil karya, hasil pemikiran serta ide dan wacana, rasanya tak sulit untuk menemukan anak-anak muda yang kritis dan berani menuangkan 'kekritisan pemikirannya' dalam bentuk tulisan yang runtut dan jelas alurnya, tentunya secara tidak langsung akan sedikit menggugah para pembuat keputusan dan memotivasi anak-anak muda lainnya untuk aktif dan berani menuangkan hasil pemikirannya juga.
 
Sebenarnya kegiatan tulis menulis itu bukan hanya semata bakat, akan tetapi bila sering dilatih akan mampu menghasilkan penulis-penulis handal. Bermodalkan sering membaca, berinteraksi dengan orang lain, berani dan mau belajar maka kemampuan menulis akan semakin terasah. 
Apakah seorang wartawan itu memiliki kemampuan menulis berita dikarenakan memiliki bakat? Saya rasa tidak juga. Seperti diumgkapkan di atas, alah bisa karena biasa. Ayah saya yang seorang pensiunan wartawan pernah mengatakan, untuk menjadi seorang wartawan tidak butuh bakat menulis, yang penting harus mau belajar dan berani menulis. Beliau berkata, sebelum menjadi wartawan sering mengirim tulisan ke berbagai surat kabar dan memang tidak semua berhasil ditayangkan. Tak kenal menyerah. Walaupun tidak punya pengetahuan tentang menulis tapi akhirnya dapat diterima sebagai wartawan di sebuah suratkabar yang cukup ternama di negeri ini.
 
Intuisi, kemampuan mengolah data serta jeli untuk melihat situasi dan kondisi merupakan sebagian kunci untuk bisa membuat sebuah tulisan yang tidak hanya berbentuk artikel, berita, puisi atau cerita akan tetapi juga bentuk lainnya. Semakin kita sering menulis, akan semakin kritis dan jeli kita melihat situasi yang ada. Sayangnya sistem pendidikan di negeri ini masih belum maksimal dalam menciptakan anak-anak muda yang kritis dan bisa menuangkannya dalam bentuk tulisan. Semoga di kemudian hari akan ada pembuat keputusan di sektor pendidikan yang mau memperhatikan hal tersebut. Diharapkan dengan munculnya anak-anak muda yang kritis dan berani akan mampu mengubah masa depan negeri ke arah yang lebih baik. Sekian.
 
Salam Berkarya!

 

Irman Triharyanto

/adeirman

TERVERIFIKASI

simpel2 aja, gak usah dibikin ribet...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana