HIGHLIGHT

Menjadi Penjaga Rumah Ketika Lebaran

10 Agustus 2012 01:00:04 Dibaca :

Ini episiode hidup saya dan istri saya di awal-awal di perantauan sekitar tahun 2000. Awal-awal perantauan juga merupakan masa awal kami menikmati masa indahnya sebagai pasangan muda. Kami tinggal di rumah kontrakan sederhana di Medan. Sangat sederhana karena satu rumah dihuni oleh beberapa keluarga dan kami kebagian di ruangan dekat garasi.


Gaji kami sebagai pegawai baru di sebuah perguruan tinggi negeri di Medan saat itu masih cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk keperluan perjalanan jauh, kami harus memutar otak mencari tambahan penghasilan. Kami harus memendam dalam-dalam urusan pulang kampung, bahkan saat lebaran sekalipun.


Sebagai perantau, kami tak memiliki keluarga di Medan. Keluarga kami adalah para tetangga dan teman-teman sejawat. “Keluarga” baru inilah yang membuat kami betah di perantauan. Kami memiliki hubungan yang sangat dekat sedekat keluarga sendiri. Pernah suatu ketika, istri saya mengalami keguguran. Tak disangka para tetangga dan warga komplek mengumpulkan dana untuk membiayai pengobatan istri saya seluruhnya. Subhanallah, sungguh Allah meberikan kemudahan pada kami.


Rasa kekeluargaan inilah yang menghibur kami meski kami tidak bisa pulang kampung saat lebaran tiba. Maklum waktu itu, dengan gaji sekitar Rp. 500 ribu, kami tak banyak mempunyai uang untuk pulang kampung. Tak apalah, toh kami bisa menikmati Ramadhan sebulan penuh mengurus tempat ibadah dan tidak terganggu aktifitas lain. Waktu itu, kami juga menjadi ‘pengurus’ atau marboth di sebuah mushola perumahan dekat rumah kontrakan kami.


Selain mengurus mushola, dua hari menjelang lebaran hingga sepekan setelah lebaran saya selalu mendapat limpahan “rezeki” baru. Apa itu? Menjadi penjaga rumah salah satu tetangga yang sangat dekat dengan kami. Tetangga kami biasanya pulang kampung selama 10 hari dan rumahnya dan kami diminta menempati rumah beliau. Alhamdulillah.


Tentu saja kami bersyukur. Meski ini merupakan amanah tidak ringan, namun kami bersyukur bisa menikmati rumah dengan fasilitas yang sangat nyaman daripada rumah kontrakan kami. Makanan lezat juga disediakan di kulkas dan di dapur selama kami tinggal disana. Kami juga bisa menikmati fasilitas lain seperti kamar yang bagus dan fasilitas hiburan di rumah yang kami jaga. Kami juga bisa memakai kendaraan bermotor dan berkeliling shilaturahim ke tetangga dan teman kerja. Kami merasakan hidup yang lebih nyaman karena berkah Ramadhan dan berlebaran di perantauan.


Menjadi ‘penjaga’ rumah tetangga ketika lebaran tiba saya alami selama tiga tahun. Bahkan pada satu waktu, kami pernah menjaga dua rumah sekaligus. Ini tidak ringan sebab di masa-masa banyak orang mudik, justru keamanan di komplek perumahan justru sangat rawan. Alhamdulillah, kami bisa menjalankan amanah tersebut dengan baik.


Itulah kisah kami menjadi penjaga rumah dari satu rumah ke rumah lain di saat lebaran. Saat dimana banyak orang berkumpul dengan keluarga tercinta, kami justru menikmati “amanah” menjaga harta orang. Ketika orang ramai melakukan reuni, kami justru menjadi “petugas keamanan tambahan” di lingkungan warga.


Sungguh pengalaman berkesan berlebaran di perantauan.

Achmad Siddik

/achmadsiddikthoha

TERVERIFIKASI (BIRU)

Perawat Komunitas Pohon Inspirasi yang cinta pada Yang Mencipta Pohon. Ingin menghembus sejuknya inspirasi, merentang teduhnya persahabatan, menghunjam kokohnya akar kedamaian dan menghias lebatnya buah kebaikan di bumi. Juga menulis buku KETIKA POHON BERSUJUD. Follow @achmadsiddik
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?