PILIHAN

Ketika Blogger Mencari Kebenaran

19 Januari 2017 10:20:56 Diperbarui: 19 Januari 2017 10:37:09 Dibaca : 194 Komentar : 3 Nilai : 9 Durasi Baca :
Ketika Blogger Mencari Kebenaran
Koleksi Pribadi

Global village menjadi fenomena kekinian dalam masyarakat informasi yang telah meningkatkan rasa keterikatan (interconnectedness) masyarakat untuk semakin terdorong menjalin hubungan-hubungan sosial melalui jaringan-jaringan media sehingga secara bertahap hubungan tersebut akan melengkapi jaringan sosial kemasyarakatan ataupun menggantikan komunikasi tatap muka.

Kondisi di atas, membuat saya peka bahwa sekarang ini saya hidup dalam abad informasi. Sebuah era dimana media komunikasi menjadi titik sentral dari semua kegiatan yang saya lakukan. Saya harus selalu menggunakan teknologi komunikasi untuk menembus kehidupan pribadi dan profesional; kelompok dan organisasi, masyarakat, bahkan komunitas dunia.

Berbagai perkembangan yang terjadi di bidang teknologi informasi dalam beberapa tahun terakhir, saya tanggapi tidak dengan sikap cemas melainkan waspada. Saya selalu waspada dalam menghadapi perkembangan tersebut sehingga saya harus melihat new media dari sisi positifnya sambil menyiasati berbagai kemungkinan untuk ikut memetik keuntungan dari perkembangan teknologi informasi ini. Walaupun pada akhirnya, saya pasti akan merubah banyak hal dalam masyarakat, mulai dari gaya hidup, kebutuhan komunikasi, hingga pandangan interaksi saya sehari-hari. Tapi, saya tidak mau terperangkap dalam perubahan-perubahan tersebut atau malah menjadi “budak” teknologi. Bahkan, terlahir sebagai generasi pecandu internet sekalipun.

Hingga akhirnya, keberadaan blog seringkali dikaitkan dengan masalah integritas dan harmoni dalam masyarakat. Satu sisi, blog diharapkan dapat mempertahankan atau bahkan mendukung terwujudnya keteraturan sosial. Sedangkan sisi lain, blog dihadapkan pada kondisi pluralistik dalam masyarakat, yang mana ada banyak sekali budaya, nilai atau norma-norma yang digunakan sehingga memunculkan pertanyaan, budaya atau nilai-nilai mana yang harus dijaga keteraturannya oleh internet.

Kombinasi dari interaktifitas dengan beberapa fitur inovatif untuk komunikasi massa, seperti isi media yang tak terbatas, jangkauan publik yang semakin bebas, dan perilaku komunikasi global yang terkompilasi dalam suatu wahana blog mengantarkan saya pada satu konklusi bahwa blog bagaikan “rimba belantara”. Akankah kita tersesat didalamnya atau bahkan menjadi mangsa binatang buas untuk santapannya ?!?

Fenomena yang saya temukan hampir diseluruh blog memang membuktikan bahwa para user,admin, atau blogger bebas melakukan apa saja karena tidak ada sensor atau batasan-batasan tertentu. Ada pemikiran yang mengatakan bahwa ngeblog mendeskripsikan semua tabiat manusia. Jika manusia itu baik, maka ia mengelola akun blog untuk hal-hal positif. Jika dia seorang entrepreneur, maka ia akan mengelola akun blog untuk mendapatkan keuntungan ekonomis bagi dirinya. Jika dia seorang politikus, maka ia akan mengelola akun blog demi kepentingan citra dan reputasi politiknya. Jika dia seorang komunis, maka dia akan mengelola akun blog dengan mengajak semua orang untuk memusuhi Tuhannya. Demikian seterusnya. Untuk itu, saya yang hanya seorang manusia biasa mencoba memenangkan hari demi hari dengan menjadi seorang blogger yang bisa berbagi ilmu saja, meskipun saya bukan ilmuwan.

Ketika menjadi seorang blogger, saya berusaha memanfaatkan hobi baca dan tulis yang sudah saya tekuni sebelumnya. Memang, biasanya saya hanya menulis untuk koleksi pribadi saja, tapi saat ini saya harus mulai berbagi di dunia maya. Blogger telah menjadi bagian dari profesi manusia modern seperti saya yang selalu berusaha memberikan informasi tentang pemberitaan, keberadaan, perasaan, pengakuan, pujian, dan segala hal yang sedang dilakukan oleh saya. Everytime, everywhere, everything, saya selalu berusaha terkoneksi satu sama lain dengan blogger lainnya untuk interaksi secara tepat menyebar dan saling berkomentar atau sekadar menyukai tulisan singkat yang mendeskripsikan situasi dan kondisi saat itu, biasa dikenal dengan istilah blogwalking.

Saya hanya berusaha untuk membuat personal branding agar lebih menjadi orang yang berguna. Saya juga selalu memperingatkan para blogger yang memproduksi situsnya dengan karya-karya yang tidak bertanggung jawab. Sebut saja, golongan orang-orang bermoral ‘bejat’ yang menggunakan blog untuk mempublikasi foto-foto dan video-video porno guna menarik perhatian dalam menyebar kemaksiatan. Termasuk dalam golongan ini juga para blogger yang kerap membuat tulisan-tulisan berisi fitnah (hoax) atau hanya sebatas copy paste saja. Ada juga beberapa blog yang terkadang menjadi pintu masuk berbagai modus penipuan. Saya tidak mau tersesat seperti mereka…!!!

 Berbagai potret realita tersebut dapat menjadi ancaman profesi blogger. Misalnya, ancaman serbuan yang dahsyat dari nilai-nilai budaya asing yang disebarluaskan lewat blog tersebut. Hingga akhirnya, saya mencoba untuk terapkan creative thinking. Ancaman justru dapat kita ubah menjadi peluang. Kita dapat memanfaatkan keglobalan media tersebut. Kita dapat menawarkan nilai-nilai keindonesiaan dalam percaturan informasi ini. Yang terpenting adalah menumbuhkan kesadaran mengenai fenomena ngeblog untuk kemudian mencoba mengambil sejumlah peluang yang tersaji dihadapan mata.

 Misalnya, saya mengelola blog untuk memberikan kontribusi pada integrasi sosial dengan memberikan perhatian pada kelompok masyarakat yang kurang beruntung. Atau bagaimana memanfaatkan blog untuk mempromosikan dan memberikan informasi mengenai kebudayaan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Dengan begitu, siapa tahu saya dapat membalikkan arah imperialisme budaya yang dibawa oleh perkembangan dibidang teknologi informasi ini menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk anak cucu nanti.

Sebagai blogger, saya juga harus menerapkan disiplin diri. Pertama, disiplin diri dalam mengelola waktu. Jangan sampai saya terlena ber-posting ria dengan mengabaikan hal-hal lain yang lebih positif. Kedua, saya juga harus disiplin hukum. Berarti, tidak meremehkan hukum dan keteraturan masyarakat dengan mendukung secara simbolis untuk pencegahan terjadinya tindak kriminal di dunia cyber. Apalagi, Indonesia telah mensahkan UU ITE. Ketiga, disiplin dalam berbagi informasi dengan ekstra hati-hati terutama dalam kesepakatan pengaturan standar pengamanan sebuah blog dan jejaring sosial. Dan keempat, disiplin dalam mengelola blog saya sendiri dengan menyesuaikan pengaturan privasi sesuai kebutuhan untuk mencegah kejahatan pada akun pribadi di blog apapun itu. Berarti, tingkat otonomi penggunaan (degree of autonomy) harus saya kontrol isinya atau penggunaan media yang berkenaan dengan tingkat privasi (degree of privacy) yang terpersonalisasi juga harus tetap diwaspadai.

Dengan demikian, saya tak akan cemas terhadap perkembangan teknologi informasi ini. Apalagi, dengan pilihan saya menjadi seorang blogger. Saya yakin bisa memenangkan hari demi hari yang akan saya hadapi. Saya berharap perkembangan teknologi dan apapun profesi didalamnya pasti memberi pengetahuan yang banyak dan berguna bagi orang-orang yang dapat memanfaatkannya secara positif. Jadi, perkembangan teknologi bukan sesuatu yang cemas, tetapi sesuatu yang harus digali manfaatnya agar kita menjadi semakin cerdas.

Mari, kampanyekan disiplin dalam berteknologi untuk blogger yang cerdas dan mampu mendapatkan kebenaran dalam setiap tulisan*

Achmad Humaidy

/achmadhumaidy

TERVERIFIKASI

I'm a blogger, challenger, and entertainer* Seorang yang hobi membaca, menulis, dan menjelajah dunia maya . . . My IG: @me_eksis My Twitter: @me_idy Http://perjalananhidupseorangachmadhumaidy.blogspot.co.id
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana