HEADLINE HIGHLIGHT

Benarkah Suku Dayak Boleh Free Sex?

09 Januari 2011 05:31:17 Dibaca :
Benarkah Suku Dayak Boleh Free Sex?

Masalah video porno Ariel dan seluruh wanita pendukung film bertabur birahi tersebut kini mulai menuai problem baru, salah satunya adalah demonstrasi besar-besaran di bebrapa kota akibat pernyataan salah satu guru besar dan sosiolog Universita Indonesia Thamrin Amal Tomagola yang bukan berasal dari masyarakat Dayak ketika ditanyakn kepadanya nya tentang pendapat apa atas nasasalah dab hukuman terhadap Ariel.

Thamrin  melemparkan "bola panas" tentang perilaku seks bebas di Indonesia hal yang biasa, bahkan -katanya- di dalam suku Dayak pun, hal itu merupakan sesuatu yang biasa. Inilah lontaran kata-kata yang  membuat telingan masyarakat Dayak khususnya seperti api  membara.

Kita tidak mendengar langsung memang dengan apa yang diorasikan oleh Thamrin mengenai hal tersebut, hanya saja mengutip berbagai informasi yang kita rangkum dari media cetak dan elektronik kira-kira statemen Thamrin yang paling tidak produktif bahkan justru memancing destruktif adalah, hasil salah satu penelitian Thamrin mengenai Suku Dayak, bahwa bersenggama tanpa diikat perkawinan pun oleh masyarakat di sana sudah dianggap biasa.

Mengagetkan sekali pernyataan ini. Karena justru di dalam masyarakat Dayak, dikenal apa yang disebut dengan istilah mengendepankan prinsip Belom Behadat dalam interaksi sosial sehari-hari yang terus menerus didengungkan oleh Tumenggung Suka Dayak. Prinsip itu adalah "Hidup Bertatakrama dan Beradat."

Bagi kita sering masuk ke pedalaman Kalimantan dan sering melihat suku Dayak dapat dengan jelas melihat dan merasakan sentuhan dan senyuman masyarakatnya yang polos dan jujur. Hal yang sama di kota juga banyak kita temukan masyarakat Dayak yang telah modern dan memiliki statuta sosial yang mapan, mereka tetap menjunjung seni kesatuan dan persatuan yang dirangkum oleh prinsip Belom Behadat .

Apa hukuman dan ancaman jika melakukan perselingkuhan apalagi free seks dalam kalanan masyarakat Dayak? Hukumannya justru lebih jelas, lebih nyata dan lebih tegas yakni hukuman mati.! Di panah, atau dirajam dengan lembing dan tombak.! Dan ini sudah menjadi keseakatan para Tumenggung di dalam masyarakat Dayak, jadi sangat ketat dan keras jika melanggar konsekwensi tersebut.

Jika mengacu kepada prinsip tersebut rasanya tidak ada tempat untuk berbuat maksiat  apalagi melakukan free seks di dalam masyarakat . Jika ada satu kasus atau dua kasus, tentu tidak merupakan generalisasi yang memberi kredit universal bahwa masyarakat Dayak seperti yang diutarakan Thamrin guru besar kaliber Universitas Indonesia.

Apa yang terjadi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah saat ini? Demomstrasi besar-besaran. Protes atas pemberian label amoral dan mensubordinasikan masyarakat Dayak yang justru lebih memiliki moral dan mental positif ketimbang masyarakat kota yang sebagian besar telah terdistorsi nilai-nilai moralnya akiabt perilaku hedonisme dan primordialisme yang semata-mata mengahambakan diri hanya kepada tahta, harta dan segenab urusan dunia lainnya yang justru menistakan nilai-nilai keluruhan moral dan etika.

Tanpa bermaksud membersar-besarkan nyala api yang sedang meledak ini, adanya permintaan dan tuntutan maaf Thamrin memang harus dilakukan secepatnya. Permintaan maaf itu tentu saja tidak cukup, karena menurut beberapa kalangan orang-orang Dayak yang ditemui hari ini Kalimantan Barat ada beberapa masukan -hasil diskusi- menyebutkan hukumannya bukan saja permintaan maaf, tapi juga mendapat hukuman Adat dari Masyarakat Dayak dan Hukuman Moral dari Negara.

Cukupkah hukuman itu?  Hanya nurani seorang  Guru Besar itulah yang merasakannya.  Apakah ada yang menyampaikan bahwa kejadian ini untuk membelokkan maslah pornografi Ariel dan teman-teman selingkuhannya? Kita harap bukan seperti tujuannya. Tujuannya adalah agar kita berempati dan meningkatkan toleransi sesama kita dalam bersikap dan menyampaikan kata-kata...

Salam Kompasiana

abang geutanyo

Abanggeutanyo

/abanggeutanyo

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pengamat itu : Mengamati dan Diamati
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?