HEADLINE HIGHLIGHT

Assange Perlihatkan Diri, Inggris Sakit Kepala

20 Agustus 2012 04:47:11 Dibaca :
Assange Perlihatkan Diri, Inggris Sakit Kepala

Setelah dua bulan tidak mendapat kabar secara langsung tentang pendiri Wikileaks, Julian Assange, hari Minggu (19/8) kemarin, memperlihatkan dirinya di atas balkon kedutaan Ekuador di pusat London menghadap ke jalan dimana sejumlah pendukungnya berdemonstrasi dan sejumlah pers dari seluruh dunia telah menantinya sejak issue memanasnya hubungan Ekuador dan Inggris.

Assange  yang telah masuk dalam daftar interpol sejak Desember 2012 lalu setelah membocorkan ratusan ribu kawat diplomatik AS di sejumlah negara dianggap oleh pemerintah AS telah menciptakan sejarah hitam dalam kerahasiaan informasi intelijen AS.

Dalam pernyataannya Assange menyampaikan kepada Inggris dan AS agar berhentilah memburunya, lebih baik memfokuskan pada konvensi Jenewa (Wina) sehingga tidak melanggar ketentuan yang menjadi standarisasi kesepaktan dunia dalam dunia diplomatik. "Inggris harus memberi contoh teladan bagaimana konvensi Wina harus dihormati di seluruh dunia. Jangan sampai terjadi pembicaraan tolol  untuk menuntut media manapun entah itu Wikileaks ataupun  New York Times," katanya.

AS, katanya, sedang berada di persimpangan jalan dengan kebijakan seperti itu. Assange mengharapkan agar AS membebaskan Bradley Meaning, salah satu marinir AS yang bertugas di Afghanistan yang telah memberikan kontribusi informasi untuk Wikileaks, karena alasan kebebasan informasi dan hak azasi manusia.

Ia menyindir semangat pergerakan wartawan masih mendapat penindasan akibat tekanan dan kekhawatiran teramat dalam menyampaikan informasi yang benar keada publik. Ia mengaharapkan agar para wartawan(pers) seluruh dinia yang membawa revolusi kebenaran dalam menyampakian informasi tidak lagi berada dalam bayang-bayang kekhawatiran seperti dirinya.

"Saya kira presdien Obama bertindak dengan benar, harus meninggalkan memburu Wikileaks.  AS harus berjanji tidak akan mengejar wartawan yang mengedepankan kebenaran. Penindasan terhadap Whistleblower harus segera diakhiri, katanya tenang dengan suara lantang. (sumber : http://www.huffingtonpost.com).

Di hadapan seratusan pengunjuk rasa dan puluhan wartawan dan 50 petugas kepolisian Inggris, Assange juga mengaitkan soal penahan grup musik Punk Rock, Pussy Riot  yang ditahan pemerintah Rusia saat beraksi di depan Katedral terbesar di Moskow  pada Februari 2012 lalu. Tiga penyanyi eksotik itu menyanyikan lagu yang menyindir kembalinya Vladimir Putin ke Kremlin.

Reaksi Inggris

Media cetak dan elektronik Inggris melansir berita seru tentang reaksi dan pernyataan Assange. The Guardian menurunkan judul berita hangat bagaimana komunikasi chating Assange dan Presiden Ekuador yang berada sejauh 6000 mil tersebut sehingga telah membuat Inggris sakit kepala.

The Telegraph memberitakan tentang posisi dilematis pemerintah Inggris jika berani intevensi ke kdutaan asing meskipun di negerinya sendiri karena akan membuat seluruh kedutaan Inggris di beberapa belahan dunia akan tidak aman atau bersiko.

Mantan duta besar Inggris untuk Rusia (2004-2008), Sir  Tony Brenton memberikan penilaiannya tentang pentingnya menghormati konvensi Wina itu tidak sekadar melanggar konvensi tapi juga berakibat buruk bagi seluruh kantor kedutaan dan konsulat di Inggris di manapun. "Saya kira kementrian luar negeri Inggris akan sangat melampaui batas dalam masalah ini karena persoalan praktis dan hukum." katanya. (sumber : http://www.telegraph.co.uk/news).

Sementara itu, pemerintah kerajaan Inggris masih bereaksi datar-datar saja atas pernyataan Assange. Menlu Inggris William Hague menyampaikan bahwa tidak ada perjanjian atau momitmen apa-apa dengan AS. Inggris hanya melaksanakan UU  (UU Diplomatik dan Konsuler Premises) yang tehah disetujui oleh Parlemen Inggris pada 1987 yang memungkinkan Inggris memasuki kedutaan negara asing setelah pengelaman penembakan satu polisi wanita Inggris di kedutaan Iran pada 1984 lalu.

Secara keseluruhan pemerintah Inggris belum memberi reaksi terbuka atas pernyataan Assange kemarin. Pejabat negara Iggris hanya memberikan reaksi terhadap pemerintah Ekuador yang sengaja memberi pengertian yang salah terhadap pilihan hukum Inggris saat menyampaikan dapat memasuki kedutaan untuk tujuan Assange tersebut.

Di Swedia sendiri, salah satu mantan Jaksa di kota Stockholm Sven Erick Alhem menyatakan, keputusan pemerintah Sweida mengekstradisi Assange sangat tidak profesional, tidak masuk akal, tidak adil dan tidak proporsional.

Sementara itu, persatuan menlu negara Amerika selatan (OAS) telah melakukan pertemuan di Quito dan memberikan dukungan atas langkah Ekuador yang mereka sebutkan sebagai sebuah langkah kemenangan besar. Negara-negara yang telah memberikan dukungannya adalah Argentina, Bolivia, Nicaragua, Venesuela dan Peru. Sedangkan Brazilia,Columbia, Mexico dan Chile belum memberikan reaksi mereka.

Jika sudah demikian, apa dan bagaimana perkembangan berikutnya tentang hikayat perburuan si wajah melankolis Assange yang berhati baja ini? Mari kita nantikan perkembangannya.

Assange bukan saja telah membuat pusing AS, kini Inggris dan blok persemakmuarannya dan Ekuador dengan blok Amerika Selatannya juga dibuat sakit kepala.

Salam Kompasiana

abanggeutanyo

Abanggeutanyo

/abanggeutanyo

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pengamat itu : Mengamati dan Diamati
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?