Antara Ki Hajar Dewantoro, Antarina SF Amir dan High Scope Indonesia

02 Mei 2011 15:53:32 Dibaca :

..

..........................................................................

Siang tadi cuaca sedikit mendung, namun hati tetaplah cerah secerah wajah anak anak dan juga para praktisi di dunia pendidikan. Semangatku pun tak kalah dengan semangat mereka, jika mereka mengadakan upacara hardiknas mungkin agak beda. Hari ini semangat karena ketemu sahabat lama yang ternyata juga bekerja di dunia pendidikan. Retno, salah satu guru elementary di High Scope Jakarta itu cerita banyak hal. Hari ini adalah moment penting dalam sejarah negeri ini. .............................................

............................................................................................................

Tanggal 2 Mei  ritual diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Penghargaan yang begitu besar terhadap  Ki Hajar Dewantoro  ialah salah satu aktivis pendidikan Indonesia. Ia lahir pada 2 Mei 1889. Pria yang dilahirkan dengan nama Raden Mas Soewardi  Soerjaningrat ini adalah seorang pelopor pendidikan bagi kaum pribumi pada saat dijajah Belanda.

Ia mendirikan perguruan Taman Siswa dengan tujuan memberi kesempatan bagi pribumi agar memperoleh pendidikan. Tulisannya yang terkenal adalah seandainya aku seorang belanda :

..........................................................

"Sekiranya aku seorang Belanda  aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya".

Artikel ini dimuat dalam surat kabar De Expres milik Dr Douwes Dekker pada 1913. Latar belakang pembuatannya berkaitan dengan rencana pemerintah Belanda mengumpulkan sumbangan dari Hindia Belanda (Indonesia), yang saat itu masih belum merdeka. Tujuan penarikan sumbangan itu adalah untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Prancis.

............................................................

Kihajar Dewantoro dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Tanggal kelahirannya  2 Mei dijadikan Hari Pendidikan Nasional. Sampai saat ini  perguruan Taman Siswa masih berdiri. Perguruan ini memiliki sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Sejauh apapun manusia melangkah, hanya kepada-Nya juga menuju. Akhirnya Ki Hajar Dewantoro wafat pada 26 April 1959.  Beliau  dimakamkan di Wijayabrata, Yogyakarta.

............................................

Ki Hajar Dewantoro telah pergi menghadap Sang Pemilik Hidup, Generasi baru pun lahir dan tumbuh. Darah pendidik pun mengalir dan menurun pada sang cucu. Antarina SF. Amir,  mungkin belum dikenal di kalangan masyarakat luas. Namun di kalangan dunia pendidikan cucu Ki Hajar Dewantoro ini adalah sangat popular sebagai salah seorang penggagas metode  belajar yang melibatkan peran serta siswanya. Antarina SF. Amir yang juga pemilik sekolah Highscope sebuah sekolah internasional yang berlokasi di Jl. TB. Simatupang Jakarta Selatan

Kurikulum High Scope Indonesia yang dipegang saat ini, dimulai pada tahun 1974 di Amerika Serikat, namun baru dibawa ke Indonesia sekitar 22 tahun kemudian. Pada tahun 2000, dibukalah program Elementary, tepatnya dikampus utamanya yang saat itu masih berada di sebuah rumah di Jalan Intan, di kecamatan yang sama.

...............................

"Ilmu anak seharusnya harus lebih tinggi dari orang tua, seorang Bill Gates tidak mungkin mampu menciptakan karya besar kalau ilmunya di bawah orang tuanya.  Tujuan tulisan ini adalah sekedar berbagi info bahwa Ibu Antarina SF amir adalah generasi penerus dari Kihajar Dewantoro, tokoh pendidikan di Indonesia.  Karena keterbatasan referensi. Mohon jika ada yang berkenan menambahi dengan senang hati dipersilahkan.

Salam Kompasiana...

Arya Ningtyas

/9681

Perempuan biasa ikhtiar dalam kebaikan-Nya belajar lewat tulisan...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?