john brata
john brata

lahir di Bogor tanggal 08 Februari 1941

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Transportasi "Online" Adalah Tuntutan Kebutuhan Masyarakat!

21 Maret 2017   19:29 Diperbarui: 21 Maret 2017   20:59 370 2 1
Transportasi "Online" Adalah Tuntutan Kebutuhan  Masyarakat!
Suasana saat terjadinya bentrok antara kelompok sopir angkot dengan pengojek online di Jalan Raya Sangiang, Kota Tangerang, Rabu (8/3/2017) sore. Keributan dipicu demo dari sopir angkot yang disebut memperlakukan ojek online dengan kasar dengan cara sweeping. (KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA)

Model transportasi online itu adalah tuntutan masyarakat. Sebab, utamanya ya harus kita sadari bahwa transportasi yang disebut konvensional di negara kita ini termasuk katagori buruk. Selain itu, masa sih kita bisa menghalangi tuntutan zaman? Coba ingat-ingat dulu transportasi darat itu dimeriahkan dengan yang dinamakan oplet. Improvisasi kendaraan bermotor (ranmor) model Morris, Opel ya muat sepuluh penumpang plus seorang dekat sopir. Oplet disukai sebab sopirnya sopan taat peraturan. Berhenti-menurunkan penumpang di tempat yang aman. Tidak sembarangan di tikungan dan di tengah jalan.

Masih patuh pada rambu-rambu yang dipasang. Jangan harap opelet mau berhenti bila penumpangnya berdiri di bawah tanda S. Polisi zaman itu masih rajin menegur, bahkan menangkap pelanggar. Tilang belum ada. Traffick light juga belum ada, tapi tidak ada serobotan menang-menangan. Pengamen brengsek belum ada, preman yang sering menakut-nakuti penumpang dengan mengatakan baru keluar dari penjara belum ada. Orang zaman dulu malah malu bila diketahui baru keluar dari bui. Banyak yang buang sial dengan menggunduli kepalanya. Zaman sekarang malah gak tahu malu. Jadi sampah masyarakat kok malah bangga!

Delman, becak juga masih banyak. Lama-lama masuklah alat transportasi lain yang disebut Bus Kota, angkot yang di Jakarta disebut Metro Mini atau apa saja. Masuk juga moda transportasi seperti Colt, lanjut Kijang dll. Yang perlu dicermati: tidak ada tuh sopir oplet pengemudi becak dan sais delman yang protes apalagi demo dan dengan tidak tahu malu mengatakan, "Wah, rezeki kita jadi berkurang lantaran kalah saing dengan transportasi baru." Lha, sekarang kok malah golongan transportasi yang dinamakan konvensional itu ribut marah berbuat konyol karena kehadiran transportasi online. Logika orang waras begitu muncul transportasi online dan merebut pasaran, maka publik atau masyarakat jatuh cinta dengan moda transportasi ini ya karena dapat memenuhi kebutuhan orang banyak dong! Mengapa harus dimusuhi? Jangan iri dong. Perbaiki diri.

Memang transportasi online pasang tarif lebih rendah dari tarif angkot? Bila lebih murah dari taksi biasa ya memang. Pertanyaannya mengapa transportasi online yang kondisinya bagus bisa menerapkan ongkos lebih murah dibanding taksi biasa? Soal KIR. Lha, KIR itu apa sih? Memang dilaksanakan dengan konsekuen? Masa lulus KIR masih ada ranmor umum yang di-start dorongan. Jendela pecah, pintu rusak, lampu mati. Jangan dikatakan kotornya bukan main. 

Transportasi online itu tuntutan kebutuhan masyarakat. Pakai logika lagi, masa yang baik harus kalah dari yang buruk? Justru transportasi konvensional yang harus mengikuti kondisi transportasi online. Upgrade pengemudinya, didik sopan-santun, Jangan jorok. Hormati publik pengguna alat transportasi.

Masyarakat Indonesia sebagai manusia-manusia yang beragama mestinya harus menjadi manusia yang cinta kebersihan dan sopan. Katanya harus amanah. Jangan berpakaian sembarangan, necis, rapi, bersih, simpatik. Jangan ngupil sembarangan, jangan buang ingus seenaknya. Meludah sembarangan menjijikkan. Kelakuan yang dituntut kan gak sulit-sulit amat. Yang jelas juga sang sopir harus punya SIM. Patuh peraturan. Kasihan dong sama penumpang diturunkan di tengah jalan, di perempatan. 

Celakanya kok penumpangnya mau juga dirurunkan di tempat yang membahayakan dirinya. Bahkan penumpang yang seyogyanya disebut intelek, pakai jaket almamater mahasiswa, dodol banget menghentikan angkot di temnpat terlarang seperti di tikungan, di tengah jalan, di bawah rambu-rambu larangan. Yang lebih memprihatinkan para petugas lapangan Polantas seperti LLAJR amat baik sekali, tapi jangankan menindak, mengingatkan, menegur pun gak mau. Ya mungkin takut menyinggung perasaan para sopir yang gombal itu.

Inti posting-an ini semoga Kementerian Perhubungan dan instansi terkait jangan mengalah kepada tuntutan gak berdasar orang-orang yang tidak menyadari kekurangannya!

Bila transportasi online bisa lebih bagus, lebih murah, dan disukai masyarakat, mengapa transportasi konvensional tidak bisa atau tidak mau mencontohnya?

( John Brata )