Lihat ke Halaman Asli

Syarifah Lestari

TERVERIFIKASI

www.iluvtari.com

Mengambil Hikmah dari Kisah Khulu' Pertama

Diperbarui: 3 Mei 2021   15:34

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Photo by

"Aku kan ninggalin Mama karena patuh suami!" begitu kata Lili, nama samaran.

"Memangnya suamimu nabi!" jawab Yeye, nama samaran juga.

Aku mendengar kisah itu dari Mimi, samaran lagi. Kalau ada gibah syariah, mungkin ini termasuk di antaranya.

Mimi menceritakan tentang anaknya yang meninggalkan ia bersama cucu-cucu di rumah, demi suami yang tak mau serumah dengan mertua dan anak-anak sambung.

"Kenapa bawa-bawa Nabi?" tanyaku.

"Ya kan dia bawa agama, patuh sama suami," kata Mimi.

Sambil menganalisis, aku berpikir, dari mana memulai penjelasan terkait kepatuhan dan orang-orang yang melegitimasi syahwat atas nama agama?

Baca juga: Alasan Anak Jangan Dilarang Memanjat  

Habibah binti Sahl Menggugat Cerai

Sebagian ulama menyebut kisah ini adalah milik Habibah binti Sahl, sebagian lagi mengatakan Jamilah binti Abdillah bin Ubay bin Saluul. Terlepas dari siapakah shahabiyah yang dimaksud, kita tetap bisa mengambil pelajaran dari inti kejadiannya.

Katakanlah Habibah, ia mengadu kepada Nabi tentang suaminya, Tsabit bin Qois. Ibnu Abbas meriwayatkan:

"Bahwasanya istri Tsabit bin Qois mendatangi Nabi shallallahu 'alayhi wasallam dan berkata, 'Wahai Rasulullah, suamiku Tsabit bin Qois tidaklah aku mencela akhlaknya dan tidak pula agamanya, akan tetapi aku takut berbuat kekufuran dalam Islam.' Maka Nabi berkata, 'Apakah engkau (bersedia) mengembalikan kebunnya (yang diberikan sebagai mahar)?'

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline