Lihat ke Halaman Asli

Akhlis Purnomo

TERVERIFIKASI

Copywriter, editor, guru yoga

Bahaya Konsumsi Berlebihan Suplemen Tinggi Protein

Diperbarui: 20 April 2021   12:38

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi suplemen tinggi protein (Thinkstockphotos)

Dengan makin merebaknya pusat kebugaran, tren six pack alias "roti sobek", dan budaya nge-gym di kalangan anak muda urban di kota-kota besar di Indonesia, rasanya lumrah bagi para pria yang ingin berbadan lebih kekar dan berotot untuk mengonsumsi suplemen makanan dengan kandungan protein tinggi.

Merebaknya sindrom Adonis/bigorexia (keinginan untuk terus menerus membesarkan otot-otot di tubuh) yang akhir-akhir ini makin terasa, juga mendorong berlomba-lombanya produsen menjual produk-produk suplemen yang menyasar pria-pria muda terutama yang sangat ingin tampil lebih gagah, tegap dan kekar bak Arnold Schwarzenegger dan Sylvester Stallone. 

Di Asia sendiri, konsep maskulinitas ala Adonis ini semula terasa asing. Dulu, laki-laki Asia biasanya mengidolakan pria-pria yang kuat dan berotot tapi dengan proporsi fisik yang sedang, tidak berlebihan ukuran ototnya. 

Lihat saja Bruce Lee, Amitabh Bachan atau jika di Indonesia Onky Alexander. Cuma karena pengaruh budaya Barat makin kencang, akhirnya makin banyak pria Asia yang menginginkan tubuh mereka lebih kekar dan besar.

Ilustrasi pria yang berbadan kekar dan berotot (Foto: Wikimedia Commons)

Produk-produk suplemen berprotein tinggi ini yang populer di antara para penggemar olahraga misalnya susu whey, bubuk protein, protein shakes, protein drink, protein bar, dan sebagainya.

Namun, sebagai konsumen, pernahkah kita bertanya secara kritis: Apakah memang konsumsi suplemen sejenis itu diperlukan tubuh?

Ternyata tidak juga lho!

Meskipun memang ditujukan untuk mendukung program peningkatan massa otot (muscle mass), ilmuwan tidak menyarankan kita untuk mengonsumsinya secara terus menerus. Dalam jangka panjang, konsumsi berlebihan suplemen semacam ini akan berdampak negatif pada kesehatan, bahkan mengurangi umur!

Dalam sebuah studi ilmiah yang dilakukan di University of Sydney Charles Perkins Centre, ditemukan bahwa konsumsi asam amino tambahan yang wujudnya bermacam-macam di pasaran ini bisa memicu gangguan kesehatan bila konsumsinya terlalu berlebihan.

Di samping manfaat yang digembor-gemborkan, efek samping yang tak banyak diketahui orang dari suplemen protein yang mengandung asam amino (BCAAs) ialah mempengaruhi suasana hati (mood) dan memicu kenaikan berat badan. BCAAs memang jitu menggenjot massa otot. Hanya saja, semua itu ada ongkos yang harus ditanggung konsumennya.

Peneliti menganalisis peran kompleks pola makan dan dampaknya pada beragam aspek kesehatan seperti metabolisme, reproduksi, nafsu makan dan penuaan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline