Lihat ke Halaman Asli

Windarsih

Penikmat Bumi Manusia

Puisi - Teater di Jalanan

Diperbarui: 4 Mei 2019   18:50

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Aku hidup dari setetes air,

yang tak ada kerelaan tumpah dari ibuku.

Mati berhadap-hadapan,

jatuh satu aliran bersama sungai-sungai bumi.

Konkordansi riwayat hulu-hilir hidupku,

dibacakan pada demonstrasi-demonstrasi mahasiswa.

Alih-alih mengisi teriakan dalam perut,

suara mereka kubakar habis menganga.

Menghormat barisan cokelat yang Tuan kirim,

takut mereka menerobos palang besi.

Prasangka apa semalam Tuhan kirim,

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline