Lihat ke Halaman Asli

Willibrodus Nafie

Doa Terbaik Adalah Melakukan Kebaikan

Kisah Pilu Anak-anak Yatim Berjuang untuk Hidup di Tengah Gunung Sampah

Diperbarui: 19 November 2021   15:15

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Anak yatim Pondok Pesantren Nurjadiid, sedang memulung di Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat (Foto: Willi Nafie)

Perjuangan hidup sebagai anak-anak yatim di tempat pembuangan sampah terpadu (TPST), Bantargebang, Bekasi sungguh berat. Di usia masih belia mereka harus berpikir keras bagaimana bisa bertahan hidup selepas ditinggal orang tua.

Walau masih bisa sedikit memiliki harapan lantaran ditampung sebagai santri di Pondok Pesantren Nurjadiid, Kampung Ciketing, RT003/RW 003, Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat.

Tetapi jangankan untuk mendapat fasiltas pendidikan yang layak, untuk makan sehari-hari saja anak-anak yatim di Pondok Pesantren Nurjadiid masih kesulitan. Bahkan setiap hari rela bergantian memulung di sekitar tempat pembuangan sampah. Barang-barang bekas yang dipungut dijual ke lapak. Hasilnya digunakan untuk menopang biaya konsumsi sehari-hari.

Foto Willi Nafie

Tidak ada donatur. Pendiri Pesantren Nurjadiid hanya seorang pemulung bernama Saung Galing. Penghasilan Rp100 ribu sehari dari pria berusiah 28 tahun itu tidak mampu mencukupi kehidupan sehari anak-anak yatim di sana.

Aktivitas belajar pun terbatas selain mengandalkan guru yang mengajar hanya dalam seminggu sekali, fasilitas pendidikan seperti buku pelajaran, alat tulis dan sarana terkait lainnya juga minim. Namun pendidikan Islam terus diajarkan bagi anak-anak di sana.

Bagi Saung Galing fondasi utama mengubah masa depan anak-anak itu menjadi orang yang berguna adalah mengerti agama yang diyakini sejak belia.

Persoalan keterbatasan tidak hanya berhenti pada hal-hal di atas. Para anak-anak yatim di sana juga tidur di atas tikar bekas tanpa bantal, ditambah basah kuyup akibat tampias air hujan yang masuk lewat celah-celah atap.

Mata para santri juga mengalami kesakitan lantaran kerap kemasukan serbuk campuran semen dan pasir akibat dinding tembok masih kasar belum 'aci'.

Ketika berada di lantai dua, para santri tidak bisa leluasa. Sedikit lengah saja berisiko jatuh ke bawah. Tingginya sekitar 3,5 meter. Pagar di balkon tak kokoh, karena tak ada biaya terpaksa menggunakan bambu sebagai tiang penyanggah guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan tetapi rasa takut jatuh tetap membayangi anak-anak yatim itu.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline