Lihat ke Halaman Asli

Dita Siska, Tersangka atau Korban?

Diperbarui: 13 Mei 2018   21:32

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Seorang  kawan mengirim Kartu Tanda Penduduk  yang sedang viral di media.Dari  KTP pelaku terduga teroris itu terbaca berjenis kelamin perempuan usia delapan belas tahun. Yang membuat  terkejut adalah berasal dari daerah dimana kami tinggal, Temanggung.

Maka tak sabar menunggu pagi dan memacu sepeda motor  menuju alamat tertera, sekitar 13 Km dari pusat kota. Ternyata tak susah mencari alamat yang kami cari. Terlihat Penduduk kampung Jambon , Gemawang Temanggung itu seakan sudah siap dengan kedatangan tamu dari luar. Kami diantar kerumah orang tua  Dita siska Milenia, gadis yang tengah di interogasi di mako Brimob karena kedapatan membawa gunting dan konon mendapat tugas amaliyah melakukan penusukan terhadap aparat disana.

Kami disambut dengan baik oleh keluarga yang sedang berkumpul dirumah  itu. Orang tua Dita adalah petani biasa, tak terlihat dia mengikuti ajaran Islam radikal. Tampilanya sederhana, ibunyapun demikian. Menggunakan kerudung seperti kebanyakan perempuan desa pada umumnya. Terlihat mata sembab karena menangis pada perempuan setengah baya itu. Bisa kami pahami betapa remuk hatinya melihat pemberitaan tentang anaknya.

Dita adalah anak kedua dari tiga bersaudara keluarga tersebut. Tak ada perubahan yang menonjol  pada Dita sejak sekolah disebuah pondok pesantren Muhamadiyah di Patean Kendal tersebut. 

Dia pulang biasanya enam bulan sekali. Dita sudah hampir menyelesaikan pendidikan di Pondok pesantren tersebut. Saat ini Dita sudah memasuki tahun ke empat dimana sedang menyelesaikan program pengabdian dan mengajar di Majenang. Tak ada keterangan lebih lanjut dimana tempat dia melakukan pengabdian itu. 

Orang tuanyapun menganggap program itu bagian dari pendidikan yang harus dia selesaikan sehingga ketika  sekitar lima hari yang lalu ketika mengabarkan ingin pulang , orangtuanya justru marah karena menurut mereka itu tidaklah benar. Setelah itu tak ada khabar dari Dita hingga foto dan kartu tanda penduduk atas namanya bertebaran di media online mengabarkan tertangkap di Mako Brimob sebagai terduga pelaku teroris. Hancurlah hati keluarga itu.

Di daerah kecamatan Gemawang & Kandangan anak-anak yang bersekolah di pondok pesantren tempat Dita menuntut ilmu tidak sedikit. Sebuah sumber menyebutkan keluarga yang tidak menyekolahkan anaknya di tempat tersebut seperti dikucilkan dikampung mereka , karena tidak mengutamakan agama. 

Dia juga menyebutkan sekolah itu tidak ada upacara bendera dan tidak libur di tanggal --tanggal libur nasional. Tidak semua anak yang masuk Pompes tersebut kemudian menikmati , ada beberap anak yang memilih keluar dan bersekolah disekitar daerah Temanggung.

Melihat keluarga dan lingkungan dimana Dita berasal, berbeda dengan kebanyakan pelaku teroris yang pernah ada . Secara ekonomi keluarga itu terlihat cukup baik, bukan dari kalangan ekonomi lemah dan secara sosial juga tidak berbeda dengan yang lain, terlihat banyak dukungan dari para tetangga yang berdatangan bersimpati terhadap keluarga tersebut.

Yang menarik justru bagaimana kemudian Dita bisa terlibat dalam jaringan garis keras itu, pencucian otak seperti apa yang dia alami, atau jangan-jangan dia tidak tahu apa yang dia lakukan ,semacam dibawah pengaruh hipnotis atau tekanan. Bagaimana semestinya bangsa ini melakukan sebuah tindakan kongkrit menyelamatkan anak bangsa dari ajaran-ajaran membahayakan seperti itu.

Harus ada sebuah kebijakan yang akan menyelamatkan generasi kita dari bahaya intoleransi yang bisa berakibat fatal bagi persatuan bangsa, umpamanya dengan memasukan materi  keberagaman dalam kurikulum pendidikan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline