Lihat ke Halaman Asli

Epistemologi Eksistensial, Menciptakan Manusia yang Abadi

Diperbarui: 16 Maret 2019   16:05

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi Istimewa | Sumber: islami.co

Bagi penikmat sejarah, mungkin tidak asing dengan peradaban Mesopotamia. Sebuah potret masa lalu yang menjadi embrio dari kehidupan masa kini, bahkan dalam beberapa hal dengan segala kemajuan teknologi, kita tak mampu mengungguli keahlian mereka. Dari hasil budaya mereka-lah, lahir konsep negara kota, dari mereka pula kiblat sistem sosial, pemerintahan, filsafat terbentuk.

Begitu pula dengan The Golden Age of Islam, masa keemasaan Islam dari abad ke-7 hingga abad-15. Pada masa itu, Damaskus menjadi teropong dan kiblat ilmu pengetahuan dunia.

Intinya, setiap peradaban lahir dengan warna pengetahuan tersendiri. Mengutip dari ungkapan Muzaffar Iqbal dalam karya masterpiece Toby Huff berjudul The Rise of Early Modern Science; Islam, China and West mengatakan; "different civilizations have produced distinctively different sciences", bahwa peradaban yang berbeda secara jelas akan melahirkan corak pengetahuan yang berbeda. Setiap peradaban itu, membawa corak pengetahuan bergantung pada kondisi sosial masyarakat di mana peradaban itu tercipta.

Dengan pencapaian dan kemajuan peradaban tersebut, saya mendapati kemajuan masyarakat dengan segala pencapaiannya lahir dari sebuah kesadaran tunggal yaitu budaya menulis atau tradisi komunitas ilmiah.

Menulis adalah kerja peradaban dan peradaban tidak akan lahir tanpa membaca dan menulis. Tokoh seperti Ibnu Sina dalam hidupnya melahirkan ratusan karya multidisiplin, al-Baqilani bahkan ceritanya tak akan tidur bila belum menulis 35 halaman setiap malam. Melalui karya, sejarah masa lalu dikenang, begitupula dengan manusia.

Kehidupan manusia itu terbatas, namun karya hasil pemikiran akan abadi tak lekang oleh waktu. Yang mampu mengubah manusia adalah pengalaman dan membaca, dengan pengalaman manusia akan dewasa, dengan karya manusia akan dihargai oleh Tuhan dan seisi makhluk.

Pesan pertama Tuhan kepada manusia adalah membaca, tradisi keabadian adalah menulis. Maka, membaca dan menulis artinya melanjutkan pesan tuhan dan menuangkan hasil bacaan adalah rekognisi pencipta berupa keabadian.

Menulis itu adalah derajat paling tinggi dari sistem masyarakat karena ia berisi doktrin yang  hanya dapat mengubah takdir dan perjalanan sejarah manusia. Lewat karya revolusi itu tercipta. Maka, bagi saya keabadian manusia bila tradisi membaca dan menulis terbangun dengan baik.

Kembali pada aspek relasional peradaban, hampir peradaban besar dunia secara demografis dekat dengan perairan. Seperti saya sebutkan di atas, peradaban Mesopotamia adalah peradaban yang hadir di sepanjang sungai Eufrat dan Tigris, Irak saat ini. Begitu pula, peradaban Mesir, hadir di sepanjang sungai Nil.

Pusat peradaban selanjutnya, Baghdad dan Damaskus pun, mengikuti jalur aliran sungai. Saya ingin membangun sebuah paradigma baru, jika hari-hari ini, peradaban yang pernah lahir di daerah perairan itu hanya menyisakan peninggalan, maka satu-satunya harapan bahwa peradaban selanjutnya lahir di bumi Nusantara.

Bagi saya, Nusantara ditakdirkan untuk menjadi sentra peradaban timur selanjutnya. Meskipun ini hanya sebatas imajinasi, karena kita belum memiliki modal sosial berupa tradisi ilmiah.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline