Lihat ke Halaman Asli

Wachid Hamdan

Mahasiswa Sejarah, Kadang Gemar Berimajinasi

Gadis Berkemul Malam

Diperbarui: 26 April 2023   22:22

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

 

"Setop, Bang!" teriak gadis berkerudung dari bangku belakang bus yang kubawa.

***

Kendaraan berkelir emas, yang sudah tiga turunan di wariskan oleh pendahulu keluargaku, merapat halus di sebuah plang yang bertuliskan Wanito Ndalu. Sebuah jalan sempit, di pinggir kota, entah menuju ke mana. Kalau bisa di banggakan, aku sampai hafal tempat pemberhentian setiap penumpang. Termasuk si gadis ini.

"Okeh, Mbak! Hati-hati, ini kembaliannya," kuberikan uang itu, lantas si gadis memasuki gang tersebut.

Banyak cerita memang dari penumpang yang kubawa. Tetapi, perempuan yang berbusana tertutup itu sangat misterius bagiku. Duduk selalu di bangku belakang, diam, dan tidak pernah bersuara. Berbeda dengan penumpang lain yang selalu berisik.

"Ayoo! Pojok beteng, pojok beteng!" teriakku, lantas melajukan bus.

Gemerlap kota pelajar di depanku memang berbeda. Para mahasiswa berkeliaran menyerbu jantung kota, mengisi kepenatan setelah selesai ngampus. Pemandangan sekelompok orang dengan gitar dan sorai nyanyian menjadi bumbu kemeriahan kota gudek ini.

"Itu tadi perempuan dengan tampilan muslimah, kok malah masuk gang situ yaa?" tanya penjual jamu padaku.

"Sudahlah, mbak! Tidak penting membahas urusan orang."

"Lha tapi kan ndak pantas to, Mas! Masak berbusana tertutup kaya gitu, masuk gang yang sering dibuat jajan lelaki belang," nyinyirnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline