Lihat ke Halaman Asli

Valina Khiarin Nisa

Seorang Pembelajar yang Menekuni Bidang Psikologi, Kesehatan Mental Keluarga

Mengelola Ekspektasi: Penerimaan dan Lika-Liku Pejuang Long Distance Marriage

Diperbarui: 21 Oktober 2020   21:16

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

"Pernikahan itu adalah ibadah seumur hidup. Bukan lagi tentang egomu, egonya, tapi tentang bagaimana kalian mampu menyeimbangkan ego masing-masing dan membangun mimpi bersama." (Ibu, 15 Juli 2018)

Setiap kisah cinta pasti memiliki keistimewaannya masing-masing. Mungkin saya dan suami saya, salah satunya. Kami menikah di tanggal 16 Juli 2018, sekaligus merayakan 29 tahun pernikahan kedua orang tua kami (baik Ayah dan Ibu saya, maupun Ayah dan Ibu suami saya) yang juga menikah di tanggal 16 Juli 1989.

Saya mengenal suami saya di akhir November 2017, ketika kami sama-sama tepilih menjadi penerima beasiswa pemerintah Indonesia. Tak sampai empat bulan masa perkenalan, lelaki ini menyatakan perasaan dan ingin bertemu langsung dengan orangtua saya.

Semula terasa ganjil, mengapa begitu cepat? Tapi, seringkali Tuhan, sang Maha Penulis Skenario terbaik memang punya cerita surprise, salah satunya adalah bagaimana Ia mempertemukan dua insan dalam waktu yang singkat menurut logika kita sebagai manusia, mengikat janji dunia akhirat.

Pasca menikah, mungkin sebagian besar pasangan millennial akan mengunggah cerita manis berbulan madu di Labuhan Bajo, Bali, atau tempat-tempat romantis lainnya. Tapi tidak dengan kami.

Kami memutuskan untuk berlibur selama satu malam di Malang, itu pun karena hadiah dari sahabat saya. Setelah itu, kami kembali pada realita merajut mimpi bersama: mempersiapkan studi master.

Hari ketiga pernikahan, kami berpanas-panas ria di Jakarta yang semrawut, untuk mengambil visa. Saya akan menempuh studi master di Clinical Pychology di University of Groningen, Belanda. Sementara suami saya akan mengambil studi master Robotics and Mechatronic Engineering di University of Leeds, Inggris.

Ya, Long Distance Marriage adalah salah satu keputusan besar sekaligus pengalaman terbaik di awal tahun pernikahan kami.

Sanggupkah LDM di awal tahun? Begitu tanya sebagian besar orang yang saya temui, yang mau tidak mau cukup memengaruhi pikiran saya. Mungkin ini hikmah dari mengambil mata kuliah Psikologi Keluarga di tahun 2014 silam. Tuhan mengajak saya untuk mengimplementasikan ilmu lewat kehidupan sehari-hari, yaitu pernikahan.

Salah satu konsep yang saya ingat sampai sekarang adalah Relationship Maintenance Behaviours (Dinda dan Emmers-Sommer, 2006), yaitu perilaku yang dilakukan untuk mempertahankan sebuah hubungan, termasuk Long Distance Marriage.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline