Lihat ke Halaman Asli

Umi Faddillah

Sebuah tekad, tekun dan penuh keyakinan, terus berusaha tak kenal lelah dapat menjadi kunci suksesmu di masa depan.

Meludahi Langit

Diperbarui: 9 Februari 2021   14:30

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Bicara yang baik atau lebih baik diam. Dalam sebuah hadis, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia berkata baik atau diam" (HR Muslim No 222).

Bermuamalah, bersosialisasi, bekerjasama dalam menjalin kegiatan demi tercapai kata mufakat atau tujuan bersama menjadi sebuah keharusan dalam bekerja tim. Baik itu hanya sekedar di rumah ataupun bermasyarakat bahkan sampai pada sebuah pekerjaan. Berkomunikasi dan sinergi demi mencapai tujuan bersama diperlukan sebuah kerelaan hati dan kebijakan dalam bertingkah laku.

Mampu berkomunikasi dengan apik dan cakap baik dalam menyampaikan pendapat atau memberi saran dan kritikan pada sesama kawan adalah hal yang sangat lumrah dalam hal kerjasama tim.

Akan tetapi menjadi hal menyakitkan jika harus mengkritik dan memberi saran dengan kalimat kasar atau menjudge orang lain, terlebih dalam satu tim yang sama. Bagai meludahi langit, ketika wajah menengadah ke langit maka wajah sendiri yang menjadi kotor.

Sama halnya, ketika kita mengeluarkan kata-kata tak bijak pada kawan sendiri dalam satu lingkup yang sama, sedangkan memiliki tujuan yang sama. Kata-kata dengan energi negatif itu dapat merusak citra diri sendiri. Kata yang terlontar melalui lisan kita terkadang mampu melukai orang lain yang mendengar, terlebih kawan dalam tim yang bekerjasama untuk tujuan bersama.

Saat mengkritik atau memberi saran, ada baiknya gunakan yang arif dan bijaksana. Karena lidah tak bertulang, akan tetapi lisan mampu menjadi belati. Kata bijak dan arif dalam menyikapi setiap masalah atau kejadian dapat mencerminkan sikap hati kita sebagai insan yang lembut dan bijak.

Makian atau cacian pada orang lain, mungkin saja terdengar oleh telinganya akan tetapi jika orang lain tak menerimanya maka cacian dan makian itu suatu saat akan kembali pada diri sendiri dengan cara yang berbeda.

Meludahi langit hanya akan mengotori wajah sendiri. Menjadi sebuah kiasan bagi mereka yang mampu berkata kasar pada orang lain, keburukan ucapannya itu akan kembali pada dirinya sendiri.

Jika memang tak mampu berkata bijak maka diam sajalah, jika memang terlalu sulit untuk mengasihi janganlah menebar benci, jika memang tak mampu menghibur orang lain, janganlah membuat sedih, jika tidak bisa memuji maka jangan menghujat, jika belum mampu menghargai karya orang lain, janganlah menghina.

Tidakkah dalam tim, pasti punya visi yang sama. Lalu mengapa, begitu mudahnya menjudge hasil karya orang lain yang masih dalam tim yang sama.

Tak patut rasanya, dikatakan bijak, jika harus menganggap semua hasil karya kawan sendiri dalam tim sebagai keburukan. Cobalah menoleh atau paling tidak melirik sedikit hasil jerih payahnya untuk maksimalkan tujuan bersama. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline