Lihat ke Halaman Asli

Ofi Sofyan Gumelar

TERVERIFIKASI

ASN | Warga Kota | Penikmat dan rangkai Kata

Biarkan Duyung Terus MeLamun

Diperbarui: 27 Mei 2018   10:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Duyung sedang meLamun (sumber: Anugrah Nontji/ Buku Dugong Bukan Puteri Duyung)

 Halo kawan, perkenalkan namaku Dugong.  Kalau kamu sering mendengar cerita dongeng tentang Duyung, maka kukatakan akulah Duyung asli itu. Tentu saja aku tak berwujud wanita cantik berbadan setengah ikan sebagaimana seringkali digambarkan dalam buku atau film kartun di televisi kesayanganmu. Tapi benar, aku juga hidup di air seperti duyung-duyung dalam imajinasi kamu itu.

Hmm, biar pun tak secantik imajinasimu tentang putri duyung, rasanya aku juga cantik untuk hewan yang tinggal di air. Buktinya hingga kini aku sering diburu oleh nelayan liar!

Badanku bongsor, panjang tubuhku bisa mencapai 3 meter dan beratku mungkin sekitar 400kg. pastinya aku tak tahu, aku tak pernah mengukur badanku secara detail. Walau terhitung bongsor,  aku jago berenang lho. Aku akan dengan mudah meliuk-liuk di lautan, entah untuk bepergian ke samudera atau sekedar mencari makan.

Oh ya, biarpun badanku serupa ikan, menurut ilmu pengetahuan aku sejatinya bukanlah ikan, tapi hewan mamalia laut. Aku sejenis dengan paus yang bernafas dengan paru-paru, bukan insang. Makanya setiap 6 menit sekali aku pasti muncul ke permukaan, untuk mengambil nafas. Sementara di air, aku bisa menahan nafas hingga 12 menit lamanya.

Dugong sedang mencari makan di padang lamun (sumber: noblebrute.com)

Usiaku saat ini 50 tahun. Tua yaa? Iya, Dugong memang mempunyai rata-rata umur hidup seperti kalian, manusia. Usia Kami bisa mencapai 70 tahun. Aku sudah melewati episode hidup yang panjang, ada banyak kisah yang ingin kuceritakan padamu tentang pengalaman hidupku. Mau kan kamu membaca kisahku ini?

Deskripsi Dugong (Sumber: DSCP Indonesia Factsheet 2017)

Kisah yang ingin kuceritakan ini mungkin tak begitu menyenangkan. Sedikit getir. Tapi kurasa kamu perlu membacanya, karena apa yang menjadi keresahanku bisa jadi berhubungan dengan apa yang kalian lakukan.

Ya, saat ini aku resah soal kelangsungan hidup kami.  Selama ini kami, para Dugong, tak bisa tenang mengarungi samudera kehidupan kami. Eaaa... sedikit lebay yaa bahasanya. Tak apa lah, toh faktanya memang seperti itu.

Apa yang menyebabkan para Dugong begitu resah? Boleh dibilang hidup kami terancam karena dua hal, pertama kami diburu oleh para nelayan, dan kedua  karena semakin sulitnya kami mencari makan.

Perburuan Dugong

Kisah perburuan Dugong telah ada sejak dahulu. Pada beberapa wilayah pesisir, berburu Dugong bahkan sudah menjadi tradisi masyarakat sekitar. Jaman dahulu ketika populasi kami begitu besar, mungkin ini tak dilihat sebagai masalah. Tapi kini, kami sudah mulai terancam punah.

Penangkapan dan penjualan Dugong telah dilakukan sejak lama (Sumber: Anugerah Nontji/Buku Dudong Bukan Puteri Duyung)

Kami diburu untuk dikonsumsi dagingnya, diambil taring, gigi serta lendir mata kami. Iya, lendir mata kami yang kalian sebut air mata duyung itu dipercaya punya kekuatan magis. Katanya untuk pelet atau pengasihan, bahkan bisa mengabulkan permintaan kalian.
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline