Lihat ke Halaman Asli

trimanto ngaderi

Penulis Lepas

Setelah Puasa Ramadhan, Saatnya Berpuasa dari Media Sosial

Diperbarui: 13 Mei 2022   08:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

source: sindonews.com

Puasa secara harfiah berarti menahan diri dari makan dan minum selama waktu tertentu. Sedangkan secara hakikat adalah menahan diri dari berbagai hal yang dilarang oleh Allah swt, menahan diri dari perbuatan buruk, menahan diri dari sesuatu yang tidak bermanfaat; kapan pun dan di mana pun, tidak hanya pada bulan Ramadhan saja.

Barangkali untuk melaksanakan puasa wajib (Ramadhan) maupun puasa sunnah kita sudah terbiasa melakukannya. Bahkan ringan dan mudah dilakukan. Justeru puasa terberat saat ini adalah berpuasa dari media sosial. Ini tentu suatu hal yang amat berat dan sulit dilakukan, terlebih bagi mereka yang sudah masuk kategori "pecandu".

Pecandu di sini dalam arti mereka yang nyaris tak pernah melepaskan HP dari genggaman, selalu membuka setiap ada notifikasi yang masuk, aktif melakukan posting maupun upload, senantiasa melihat postingan maupun story orang lain, sering melakukan like-comment-share, maniak game, youtuber, dll. Hampir seluruh waktunya dipakai untuk mantengin layar HP.

Para pecandu ini menganggap semua hal itu penting. Mereka ingin tahu orang lain sedang apa, lagi dimana, makan apa, bersama siapa, dan hal detail remeh-temeh lainnya. Jika dia seorang artis atau selebgram, mereka juga pingin tahu pakai baju apa, minyak wanginya apa, sepatunya merk apa, dst. Penyakit serba KEPO (knowing every particular object) dan FOMO (fearing of missing out) sudah begitu akut.

Saat ini dibutuhkan orang yang bisa membedakan mana yang penting dan mana yang tidak penting. Diperlukan orang yang bisa memilah mana yang bermanfaat dan mana yang mengandung mudharat. Mana konten yang bisa menambah ilmu dan wawasan, mana konten yang hanya "sampah" dan "kotoran". Mana postingan yang dapat membuat kita lebih produktif, dan mana status yang hanya membuat kita pasif dan kontraproduktif.

Saat ini diperlukan juga orang yang matanya berpuasa dari melihat sesuatu mengandung pornografi. Dibutuhkan pula orang yang jari-jarinya berpuasa dari membuat postingan yang mengandung provokasi, fitnah, dan berita bohong. Pun orang yang bisa menahan diri dari berkomentar negatif, share konten yang tidak bermanfaat, termasuk pamer aurat di aplikasi live streaming.

Berpuasa dari media sosial istilah kerennya adalah Dopamine Detox, yaitu menahan diri dari berbagai kesenangan yang bisa mengakibatkan kecanduan atau ketagihan. Caranya adalah dengan melakukan aktivitas lain yang positif dan produktif, seperti membaca, berolahraga, berkebun, berkegiatan sosial, melakukan ibadah, dll.

Dopamine Detox bisa disamakan dengan pause, jeda sejenak, agar otak punya waktu untuk reset ulang (refresh) sehingga tercapai keseimbangan kadar hormon dopamin di dalam otak. 

Sebab kelebihan maupun kekurangan dopamin dapat menyebabkan gangguan baik kepada organ tubuh, emosi, maupun perilaku. Dopamine Detox bisa diartikan "Going Offline" sebagaimana judul buku yang ditulis oleh presenter televisi, Desy Anwar.

Kembali Kepada FITRAH

Nah, setelah kita sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan, diharapkan kita bisa kembali fitri ('idul fitri), fitrah seorang hamba yang senantiasa mengabdikan diri kepada Sang Pencipta, suci dari segala dosa dan suci dari mempersekutukan Allah. Fitrah manusia yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusanNya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline