Lihat ke Halaman Asli

Severus Trianto

Mari membaca agar kita dapat menafsirkan dunia (W. Tukhul)

Mengapa Bebunga Balai Kota Begitu Mengganggu?

Diperbarui: 2 Mei 2017   16:23

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Mengapa ada yang terganggu dengan bunga? Ada dua jenis jawaban untuk pertanyaan ini. Jawaban pertama bersifat fisiologi-patologis. Jawaban kedua bersifat psikologi-patologis. Jawaban yang bersifat fisiologi-patologis merujuk pada reaksi tubuh orang-orang tertentu terhadap serbuk sari yang dikandung bebungaan. Beberapa orang mengalami batuk-batuk atau gatal-gatal bila terkena atau menghirup serbuk sari bunga yang terbang dibawa angin. Mereka punya alergi serbuk sari. Itu sebabnya, mereka merasa tidak nyaman dengan kehadiran banyak bunga. Bisa dibayangkan, betapa menderitnya para pengidap alergi serbuk sari ini mana kala musim semi datang ketika udara dipenuhi serbuk sari yang melayang-layang bebas tak kenal batas. 

Jawaban kedua, psikologi-patologis, merujuk pada reaksi kejiwaan beberapa orang atas bebungaan. Biasanya, reaksi ini muncul akibat kenangan traumatis yang pernah menimpa mereka. Sebagai contoh, beberapa orang akan sedih dan murung kalau melihat bunga kamboja atau mencium wanginya karena keduanya mengingatkan mereka akan peristiwa ditinggalkan orang terdekat. Beberapa orang punya reaksi berbeda lagi. Di depan kehadiran rimbunan bunga kamboja, mereka malah ketakutan karena bunga itu menghadirkan kembali suasana mistis, sakral bahkan horror. Bunga kamboja, dalam kasus terakhir, dikaitkan dengan roh-roh gentayangan apapun itu namanya: genderuWo, kuntilanak, pochong, zoendel bolong, dst.

Nah, bagaimana dengan orang-orang yang merasa tidak sreg dan terganggu dengan kumpulan bunga di Balai Kota DKI Jakarta? Digolongkan pada patologi manakah mereka: fisiologis atau psikologis? Jawabannya tidaklah terlalu sukar. Kalau ada orang-orang yang berkomentar nyinyir terhadap leretan bunga di depan gedung Balai Kota, jika ada yang merasa tidak sreg dengan gejala wisata bunga dan tamasya kata yang tercipta di sana, pastilah bukan karena alasan alergi serbuk sari. Pun gangguan psikologis-sosial-politis yang muncul akibat ribuan bunga yang terus mengalir memenuhi Balai Kota dan membuncah sampai melingkari pinggang pepagar Monumen Nasional dapat diklasifikasikan lagi.

Gangguan kejiwaan stadium satu sangatlah ringan. Ia lebih disebabkan oleh ketidakakuran gagasan yang membuahkan rasa tidak sreg semata. Ketidaksregan itu muncul biasanya dalam komentar seperti: kenapa memboroskan uang milyaran rupiah untuk bunga? Kenapa tidak dikumpulkan saja untuk membantu saudara-saudari yang berkekurangan pangan, sandang, pangan dan budaya?

Gejala berbeda muncul pada gangguan kejiwaan di stadium dua. Pada level ini, orang tidak sekedar merasa tidak sreg, tetapi juga merasa terancam. Akibatnya, lahir komentar yang bernada tuduhan seperti: pasti dipesan oleh satu orang ribuan bunga ini untuk pencitraan. Komentar yang lebih keras semacam ini tak akan terlontar tanpa alasan dan alasan yang paling masuk akal adalah perasaan terancam: takut terenggut legitimasinya, takut kalah tenar, takut terbongkar kedoknya, dst. Merasa diri terancam melahirkan ketakutan dan ketakutan melahirkan tindak kekerasan, dalam level ini kekerasannya masih berwujud verbal.

Dalam level yang lebih akut, kekerasan yang tercipta tidak lagi sebatas verbal, tetapi sudah sampai pada kekerasan fisik. Tindak kekerasan semacam ini merupakan ungkapan ketakutan yang lebih besar lagi. Jika kata-kata tidak cukup, perlu tindakan nyata. Yang muncul bukan lagi komentar miring, bukan lagi tuduhan verbal tetapi: pembakaran, pembrangusan,penghancuran. Tindak kekerasan berupa pembakaran bebungaan di depan Balai Kota DKI Jakarta lebih dari sekedar menghancurkan dan meniadakan papan-papan bunga; ia juga lebih dari sekedar aksi spontan "bersih-bersih". Setiap tindak kekerasan bermuara pada satu tujuan: merendahkan korban kekerasan karena dianggap tidak ada atau bukan apa-apa. Maka, bukan sekedar bunga yang dibakar, tetapi bersama bebungaan itu ikut terbakar juga susunan kata dan rasa yang terungkap di sana.

Dari situ, lahir pertanyaan: mengapa bebungaan di Balai Kota dapat begitu mengganggu sampai perlu dikomentari miring, ditimpakan tuduhan dan dibakar segala?

Pada hemat kami, itu semua terjadi karena kekuatan bunga sebagai simbol. Mari kita coba telaah kekuatan simbol bunga dalam setiap stadium gangguan tadi satu persatu.

Pada stadium pertama, orang-orang  yang berkomentar miring dengan mengatakan lebih baik mengubah bunga jadi rupiah, melupakan perbedaan hakiki antara tanda dan simbol. Setiap bahasa punya dua jenjang, yaitu jenjang tanda yang bersifat informatif dan jenjang simbol yang bersifat transformatif. Tanda bersifat informatif karena menunjuk sesuatu di luar dirinya. Sebagai contoh: lampu lalu lintas berwarna merah, tandanya berhenti. Warna merah merujuk pada sesuatu di luar dirinya yaitu perintah untuk berhenti. Ia menginformasikan setiap pengemudi untuk berhenti. Simbol bersifat transformatif karena ia tidak merujuk pada hal lain di luar dirinya. 

Simbol menciptakan empati, seperasaan, persekutuan. Misalnya, warna merah dan putih pada bendera kita tidak mengacu pada kenyataan abstraksi yang disebut negara Indonesia tetapi melahirkan ikatan sebangsa dengan saudara-saudari dari sabang sampai merauke. Itu sebabnya mengapa kita menghormati bendera merah-putih. Ia lebih dari sekedar kain atau apapun yang dilumuri warna merah di atas dan putih di bawah. Bendera merah-putih kita hargai karena ia menopang identitas kita, sesuatu yang datang dari dalam diri kita sendiri. Jika tanda bersifat informatif dan berada di luar diri manusia hingga bisa dibuat sebagai objek yang dapat dinilai kegunaannya, simbol tidak demikian. Simbol terkait dengan identitas seseorang yang tidak dapat diukur dengan kriteria berguna atau tidak berguna. 

Maka, seruan untuk mengubah bebungan menjadi rupiah menandakan ketidakmampuan untuk membedakan hirarki bahasa tadi. Bunga di Balai Kota adalah simbol karena menciptakan kesatuan identitas: pada bebungaan yang berleret di Balai Kota, orang merasa satu dalam perjuangannya melawan korupsi, perjuangan membuat Jakarta menjadi kota yang lebih baik, perjuangan menjadi jujur, dst. Kesatuan identitas yang dibungkus oleh harapan, impian, cita-cita yang sama ini tidak dapat dibeli atau dinilai dengan rupiah. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline