Lihat ke Halaman Asli

Theodorus

Pengembara

Sumpah Pemuda: Warisan Semangat dan Tantangannya di Masa Kini

Diperbarui: 11 Februari 2023   10:58

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri

Dalam sejarah perkembangan bangsa Indonesia, Pemuda selalu berada digarda terdepan dalam mempelopori setiap perubahan sosial. hal ini sejatinya sudah menjadi tugas dan tanggung jawab dari setiap pemuda Indonesia. Sebagaimana hakikat dari pada pemuda itu sendiri adalah kelompok yang memiliki idelisme tinggi. Pemuda juga identik dengan simbol semangat, perlawanan dan patriotisme.

Sejarah mencatat bagaimana Pemuda Indonesia menorehkan kebesaran "Namanya" dalam lembaran sejarah bangsa Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari peran pemuda dalam berjuang melawan penindasan kolonialisme Belanda hingga memperoleh kemerdekaan. Dengan dilandasi semangat juang yang tingi, mereka berjuang tidak hanya dengan mengangkat senjata tetapi juga dengan pena dan diplomasi untuk mencapai cita-cita mulia yaitu Indonesia Merdeka hingga sampai pada upaya mempertahankan dan mengisi kemerdekaan.

Semangat juang dan perlawanan para pemuda ini, dapat kita lihat secara kongkrit bagaimana mereka (Pemuda/i) pada waktu itu menghimpun diri dalam wadah-wadah perjuangan. Seperti organisasi Budi Utomo (1908), Perhimpunan Indonesia (1925), Jong Sumatra, Jong Java, Jong Sulawesi dan beragam organisasi berskala nasional maupun daerah lainnya. Dengan dilandasi semangat membara yang sama mereka melakukan perubahan sosial sehingga mendorong seluruh elemen bangsa untuk ikut memperjuangkan kemerdekaan negara Indonesia.

Hingga Pada tanggal 28 Oktober 1928 menjadi sejarah terbesar yang pernah dicatatkan oleh Pemuda Indonesia. Dengan penuh kesadaran dan kerelaan hati mereka melepaskan segala bentuk ego pribadi serta golongannya dan menyatakan sumpah. Kesadaran dan kerelaan hati itu disadari oleh kondisi masih terkotak-kotaknya perjuangan berbagai elemen Pemuda dalam merebut kemerdekaan. Sehingga jika tidak ada keinginan dan semangat nasionalisme untuk menyatu, maka dipastikan penjajah akan semakin leluasa dalam menindas dan menguasai alam Indonesia. Karena itulah pemuda mempelopori gerakan untuk menghimpun segenap kekuatan anak bangsa yang termanifestasi dalam Sumpah Pemuda.

Mereka bersumpah untuk satu hati, satu tujuan mewujudkan mimpi untuk merdeka, melepaskan diri dari penjajahan dan kolonialisme. sumpah pemuda ini kemudian menjadi Fondasi dasar persatuan dan kesatuan NKRI yang kita nikmati hari ini.

Tak hanya sampai disitu semangat kepeloporan pemuda dalam membangun bangsa setelah kemerdekaan terus di upayakan dalam rangka mempertahankan dan mengisi kemerdekaan yang telah diraih. Sejak tahun 1945 sampai pada masa orde baru tahun 1998 terlihat dengan jelas, bagaimana Pemuda memberikan kontribusi nyata dengan  berbagai aksi yang dilakukan oleh pemuda khususnya mahasiswa yang menginspirasi seluruh elemen masyarakat untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang dirampas penguasa yang korup.

Namun sejarah kebesaran pemuda itu telah mengalami kemunduran. Dimana pada kehidupan dewasa ini, nilai-nilai persatuan dan kesatuan sebagaimana yang menjadi spirit atau nilai-nilai dalam sumpah pemuda semakin tergerus oleh arus zaman. Pesatnya perkembangan diberbagai bidang (arus globalisasi), teknologi dan informasi yang kian memanjakan pemuda dan membuat pemuda dewasa ini semakin individualis dan hedonis, dimana pemuda lebih mementingkan kepentingan individu atau sekotoral dibanding dengan kepentingan umum (Bonum) Commune. Pola-pola berfikir seperti ini yang kemudian berdampak pada rasa persatuan dan kesatuan yang kian memudar.

Padahal tantangan untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dewasa ini sebenarnya lebih membutuhkan semangat kesatuan dan persatuan yang teguh. Tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara kita hari ini menjadi semakin kompleks. Banyak problem-problem sosial, politik dan ekonomi yang mestinya disikapi oleh Pemuda, dan lebih dari itu tugas pemuda untuk mendewasakan pemikiran pemuda dan membangun karakter masyarakat.

Pemuda hari-hari ini semakin nyaman berada dalam zona aman yang semu yang diciptakan oleh diri kita sendiri. Padahal realitas sesungguhnya tak demikian adanya. Hari ini kita hidup di zaman yang penuh ketidak pastian, itu berarti juga beragam tantangan setiap saatnya menghampiri.

Tentunya fakta tentang situasi kaum muda diatas disebabkan oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal. Dalam konteks eksternal adalah bagaimana masyarakat mempengaruhi budaya dan pola fikir kaum muda, sedangkan faktor internal adalah ketidak mampuan kaum muda dalam membangun mental dan kepribadianya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline