Lihat ke Halaman Asli

Abrar Rizq Ramadhan

Mahasiswa Aktif S1 Jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang Akt.2022

Jejak Langkah Sang Pemula

Diperbarui: 24 Mei 2023   17:21

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tirto Adhi Soerjo/ foto: 1001indonesia.net

Tirto Adhi Soerjo sejatinya adalah orang dibalik kebangkitan nasional. Kiprahnya dalam jurnalistik dan organisasi pergerakan merupakan wasiat besar bagi bangsa Indonesia. Banyak surat kabar dan organisasi mengikuti gayanya dalam menentang kolonialisme.

Berbicara soal kebangkitan nasional di tanah air pastinya masyarakat luas lebih mengenal Dr. Soetomo selaku salah seorang pendiri dari organisasi kebangkitan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Tanggal berdirinya organisasi Boedi Oetomo kemudian dijadikan momentum sebagai penanda kebangkitan nasional oleh Soekarno pada tahun 1948. 

Namun, ada satu orang yang menurut hemat saya ialah yang sebenarnya memulai dan menjadi akar dari kebangkitan nasional. Ia juga yang mungkin menjadi orang pertama yang memperkenalkan istilah Nasionalisme kepada kita sebaga bangsa yang tertindas pada masa itu. Namanya adalah Tirto Adhi Soerjo, sang bapak pers nasional. Pribumi pertama yang merintis surat kabar sebagai advokasi rakyat, propaganda dan pendapat umum.

Raden Mas Djokomono atau Tirto Adhi Soerjo lahir di Blora, Jawa Tengah pada 1880. Sesuai dengan gelarnya sebagai Raden Mas, Tirto merupakan seorang keturunan bangsawan dari ayahnya, Raden Ngabehi Hadji Moehammad Chan Tirtodhipoero yang bekerja sebagai pegawai kantor pajak. Berkat status kebangsawanannya itu, Tirto kemudian mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan Eropa di HBS (Hoogere Burgerschool), dan kemudian melanjutkan studinya di STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artshen) yang berfokus pada pendidikan kedokteran ketika ia masih berumur 14 tahun.

Pemikiran Tirto mulai terasah ketika ia menuntut ilmu di STOVIA. Ia berbenturan dengan berbagai paham-paham Eropa yang kemudian membentuk dirinya menjadi pribadi yang egaliter dan bebas. Pemikirannya soal feodalisme mulai terlepas bersamaan dengan statusnya sebagai seorang bangsawan atau Raden Mas yang selalu membelenggu hidupnya.

Pada 1901, Tirto dikeluarkan dari STOVIA tanpa sebab yang pasti. Kemungkinan karena Tirto lebih menyibukkan dirinya dalam kegiatan kepenulisan dibanding studi kedokterannya. Tirto memang sejatinya lebih tertarik pada profesi kewartawanan dibanding menjadi dokter. Semenjak masih bersekolah di STOVIA, Tirto sudah sering menulis artikel untuk surat kabar Batavia.

Di tahun yang sama, Tirto kemudian bergabung dengan sebuah surat kabar bertajuk “Pembrita Betawi”. Ia bahkan ditunjuk menjadi redaktur hingga tahun 1903. Dari Pembrita Betawi ini Tirto kemudian belajar soal menjadi jurnalis dan wartawan yang baik. Tirto sadar bahwa menjadi wartawan berarti mengabdi kepada kepentingan publik.

Idealisme Tirto kemudian terwujud ketika ia berhasil mendirikan surat kabar sendiri bertajuk “Soenda-Berita” yang dibantu oleh modal seorang bupati Cianjur, Raden Aria Adipati Prawiradiredja. Soenda-Berita tercatat sebagai surat kabar pertama yang dirintis dan dikelola oleh pribumi.

Tahun-tahun berikutnya, Tirto melakukan perjalanan menuju Maluku bersama teman-temannya. Pengembaraanya di Maluku menjadi titik awal kebangkitan rasa nasionalisme dalam diri Tirto. Mengenang ke masa lalu, Maluku merupakan salah satu pusat awal kedatangan Belanda ke Nusantara dalam melakukan praktik kolonialisasi. Hal ini yang menimbulkan rasa geram Tirto kepada pemerintah Hindia Belanda sehingga memengaruhi gaya tulisannya yang semakin tegas menentang kolonialisme. Di Maluku juga, Tirto bertemu dengan pujaan hatinya, Siti Fatimah. Seorang putri raja yang cerdas.

Selepas dari Maluku, Tirto dan teman-temannya mendirikan koran mingguan dengan tajuk “Medan Prijaji”. Tujuan utama pembuatan surat kabar ini adalah sebagai upaya dalam melawan pemerintahan kolonial dengan koran sebagai sarananya. Karenanya, Medan Prijaji menjadi surat kabar yang memuat banyak kritik pedas terhadap kolonial dan karena itu juga, Medan Prijaji harus mandiri dalam proses pencetakan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline