Lihat ke Halaman Asli

Khulfi M Khalwani

Care and Respect ^^

Perlunya Perspektif Gender dan Lingkungan Hidup dalam Penanganan Covid-19

Diperbarui: 12 April 2020   02:51

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ach.org.uk

Keterkaitan perempuan dengan lingkungan hidup merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, karena perempuan dapat mempengaruhi gaya hidup keluarga dan masyarakat. Disisi lain, masalah terkait kualitas lingkungan hidup juga erat korelasinya dengan masalah kesehatan masyarakat

Perempuan dan kesehatan keluarga adalah ibarat cermin dalam sosial budaya ketimuran seperti di Indonesia. Oleh karena itu, dalam penanganan wabah penyakit seperti Covid-19 yang saat ini merebak tampaknya hal ini perlu lebih diperhatikan.

Merujuk pada website resmi Gugus Tugas Penanganan Covid-19 https://www.covid19.go.id/situasi-virus-corona/ (diakses pada tanggal 11 April 2020), disebutkan bahwa jumlah Kasus Terkonfirmasi ialah 3.512 kasus (+219 kasus),  Dalam Perawatan 2.924 kasus (83,257% dari terkonfirmasi); Pasien Sembuh 282 kasus (8,03% dari terkonfirmasi); dan Meninggal sebanyak 306 (8,713% dari terkonfirmasi).

Jika dilihat dari data yang bisa diakses tersebut, belum menyajikan berapakah proporsi perempuan dan laki-laki yang terkena infeksi Covid 19. Berapa persen perempuan yang sembuh ? Apakah perempuan di Indonesia lebih rentan daripada laki -- laki dalam menghadapi epidemi covid-19 atau sebaliknya ? Secara ekonomi siapakah yang lebih dirugikan, apakah perempuan atau laki-laki ? Hal ini tentunya penting sebagai langkah antisipasi dan strategi penanganan pasien, maupun dampak lanjutan lainnya.

Untuk itu perlu adanya data terpilah yang disajikan oleh pemerintah terkait jumlah masyarakat yang terinfeksi Covid-19, proporsi perempuan dan laki-laki yang telah mengakses tes kesehatan terkait Covid-19 dan lain-lain. Hal ini penting karena dalam penanganan epidemi Covid-19 kita juga perlu menganalisis dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan hingga ke level rumah tangga.

Pandangan atau stereotip yang menilai laki-laki lebih kuat dari perempuan bisa saja menjebak kita dalam penanganan Covid-19. Hal ini juga serupa dengan di AS.

Data dari sekitar 1,5 juta tes yang dilakukan di AS menunjukkan bahwa mayoritas orang yang diuji atau mengikui tes sebanyak 56% adalah wanita. Sebesar 16% dari wanita tersebut dinyatakan positif virus. Sebaliknya, hanya 44% dari tes dilakukan pada pria dan 23% dari mereka dinyatakan positif (https://www.whitehouse.gov/briefings-statements/).

Hal  ini menunjukkan bahwa bisa jadi laki-laki lebih rentan dan harus lebih peduli terhadap Kesehatan diri sendiri dan orang sekitarnya atau keluarganya. Gambaran ini penting untuk menekan penyebaran Covid-19 di Indonesia dari aspek pencegahan.

Sebuah penelitian terhadap 44.672 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi dilakukan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, menemukan bahwa tingkat kematian untuk pria adalah 2,8% sedangkan untuk wanita hanya 1,7% . (China CDC Weekly  > 2020, 2(8): 113-122). Sebuah penelitian terhadap 1.591 kasus orang sakit kritis yang dirawat di unit perawatan intensif  di Italia menunjukkan bahwa sekitar 82% dari mereka adalah laki-laki (Grasselli G, dkk 2020). Selanjutnya sebuah penelitian terhadap orang-orang yang dirawat di rumah sakit di AS untuk COVID-19 pada bulan Maret menemukan bahwa laki-laki secara proporsional lebih mudah terkena COVID-19 dibanding perempuan (Sumber). Dari angka kematian di Rumah Sakit, jumlah pasien laki-laki yang meninggal lebih banyak dibanding perempuan (Sumber diakses 11 April 2020).

Merujuk pada berbagai data dari luar tersebut, mungkin bisa menjadi bahas analisis untuk pencegahan dan penanganan dampak Covid-19 di Indonesia. Jika proporsi kasus Covid-19 terbesar adalah laki – laki, strategi lebih yang mungkin bisa dikembangkan ialah mendorong peran perempuan dalam aspek sosialisasi di level keluarga, serta aspek pengelolaan limbah masker maupun limbah infeksius lainnya.

Dalam kesehariannya peran perempuan cenderung lebih dekat dengan lingkungan, seperti ketersediaan air bersih, penyiapan makanan di rumah, pengelolaan sampah rumah tangga, persemaian dan pembibitan pohon, merawat tanaman, hortikultura, agroforestry, dsb. Khususnya perempuan yang berada di desa-desa, umumnya mereka mempunyai pengetahuan tradisi mengenai pengolahan hasil hutan untuk pangan, tanaman obat dan kearifan lingkungan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline