Lihat ke Halaman Asli

Teguh Ananto

Tinggal di Bengkulu

Cerpen | Penumpang Misterius

Diperbarui: 9 Februari 2017   23:35

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi || Kompas.com/ Ericssen

Perjalanan dari Argamakmur ke Bengkulu jalur lintas tengah, sebelum memasuki desa Dusun Curup, kita pasti akan melewati sebuah jembatan. Tak terlalu panjang. Hanya 15 – 20 meter. Melintang di atas sungai Air Besi yang curam berbatu-batu. Jembatan ini, oleh masyarakat setempat dinamai Jembatan Pengantin. Kendaraan yang akan melalui jembatan ini harus ekstra hati-hati. Jalannya menyempit, menurun tajam, dan menikung. Selepas jembatan, di sisi kiri jalan terlihat bangunan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Air Besi. Faham kan mengapa jembatan ini dinamai Jembatan Pengantin. Seratus meter dari jembatan terdapat pemakaman umum.

Konon, Jembatan Pengantin tergolong angker dan menyeramkan. Konon pula, beberapa kendaraan bermotor yang melewatinya pernah tiba-tiba mesinnya mati mendadak saat mendaki. Beberapa kawan bahkan bercerita, ada pengendara yang tiba-tiba mendapat penumpang misterius saat melewati jembatan, terutama bila melintas saat senja. Tak tahu siapa, namun kehadirannya terasa. Bulu kuduk meremang, dan akan menghilang saat telah melewati kuburan.

Sudah menjadi kebiasaan, saya pulang ke Bengkulu hari Jumat dan kembali ke Argamakmur hari Senin. Itu berarti dua kali dalam seminggu saya melewati Jembatan Pengantin, atau setidaknya seratus empat kali dalam setahun. Belum ditambah kalau ada perjalanan dinas lainnya. Pernahkah saya mendapat penumpang misterius ? Itulah yang hendak saya ceritakan.

Tiadanya angkutan umum yang setiap waktu melintasi desa-desa disepanjang jalur tengah Argamakmur, memang membawa kesulitan tersendiri bagi masyarakat desa untuk bepergian. Bagi yang punya kendaraan pribadi mungkin tak bermasalah. Namun bagi yang tak memiliki kendaraan, pilihannya hanya dua : berjalan kaki atau menumpang pada kendaraan yang lewat. Dan tak sekali dua saya mendapat penumpang yang menumpang seperti itu.

Seperti Jumat kemarin, ketika melewati tikungan Desa Gardu dalam perjalanan ke Bengkulu, seorang emak melambaikan tangan menghentikan laju kendaraan saya. Tentu bukan untuk minta om telolet om. Si emak ingin menumpang.

“Mau ke mana, Mak ?” tanya saya sambil menghentikan mobil.

“Numpang ke Padang Sepan, pak” jawabnya.

Karena desa Padang Sepan akan saya lalui, dan juga karena mobil yang saya gunakan ini “dibeli dari pajak yang rakyat bayar”, maka saya mempersilakan naik. Siapa tau jadi kebanggaan juga buat si emak bisa naik mobil dinas dengan nomor plat dua angka. Si emak membuka pintu samping. Memasukkan barang bawaannya, sebutir kelapa dan dua buah rebung yang belum dikupas.

“Sudah sore kok pergi, Mak. Nanti pulangnya bagaimana ?” tanya saya berbasa basi setelah mobil kembali berjalan. Saya tahu, tak akan ada kendaraan umum yang melintas jalan di sore begini.

Tanpa menjawab pertanyaan saya, berceritalah si Emak. Tadi pagi ada tukang sayur keliling, mampir ke rumahnya, membawa pesan dari anaknya yang tinggal di desa Padang Sepan. Pesan si anak, katanya kehabisan bahan sayur. Jadi minta tolong dipotongkan rebung, dan dititip ke tukang sayur untuk diantar ke Padang Sepan. Namun karena pagi tadi rumah sepi, tetangga juga pergi, baru sore ini ada yang bantu memotong rebung di belakang rumah.

Masya Allah, pikir saya dalam hati. Begitu besar kasih sayang seorang emak terhadap anak. Bukan soal sebutir kelapa dan dua buah rebung, tapi kepedulian emak terhadap anak yang tak lekang oleh waktu. Padahal dari ceritanya, si anak sudah dewasa, sudah berkeluarga. Hanya saja saat ini sang suami sedang berkebun di luar daerah.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline