Lihat ke Halaman Asli

Taufik Uieks

TERVERIFIKASI

Dosen , penulis buku travelling dan suka jalan-jalan kemana saja,

Ada Rahasia Apa di Halaman Belakang Museum Sejarah Jakarta?

Diperbarui: 17 Agustus 2022   20:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Museum Sejarah Jakarta: Dokpri

Kota Tua Jakarta.  Sebenarnya saya sudah berkunjung ke sini berulang kali sehingga saya lupa menghitungnya.  Namun entah mengapa, setiap ada teman yang mengajak, atau hanya sekedar menghabiskan waktu senggang, apalagi ada acara khusus di sini, saya selalu berusaha untuk turut serta. Demikian pula dengan acara Koteka Trip bersama Wisata Kreatif Jakarta yang diadakan pada satu hari menjelang HUT Proklamasi ke 77.

Gedung BNI dan Stasiun Beos: Dokpri

Pukul 14 kurang 10 menit, saya sudah keluar dari Stasiun Kota dan langsung disambut wajah baru Jalan Lada yang dulunya semerawut dengan lalu lintas kini berubah menjadi wilayah pedestrian yang nyaman.  Memang belum sepenuhnya selesai, namun kini gedung BNI, di sebelah timur dan beberapa gedung tua seperti Rumah Makan Padang dan juga sisi timur Gedung Museum Sejarah Jakarta yang merupakan pintu keluar terlihat jauh lebih rapi dibandingkan sebelumnya.   Saya sendiri sekitar dua bulan sebelumnya sempat bertandang ke kawasan ini.

RM Padang : Dokpri

Saya terus melangkah memasuki Taman Fatahillah dan pemandangan yang familier langsung menyambut. Gedung-gedung tua nan cantik, sepeda ontel yang berhias medok serta orang-orang yang lalu Lalang. Kebetulan siang itu suasana tidak terlalu ramai. Sebagian besar teman-teman Koteka Kompasiana sudah siap berkumpul di depan Caf Batavia yang menjadi titik berkumpul.  Tetapi sambil menunggu beberapa teman yang belum muncul dan juga waktu masih belum pukul 2 siang, saya mampir dulu ke sebuah mini market untuk membeli es krim favorit.   Lumayan untuk membuat tubuh dan jiwa menjadi lebih adem.

Tidak lama kemudian Mbak Gana dan keluarganya pun tiba . Mbak Gana bersama suami dan kedua putri nya khusus datang dari Jerman untuk ikut acara ini dan bertemu teman-teman Koteka. Sudah cukup lama kami tidak bertemu langsung dan selama ini lebih banyak bertegur sapa melalui zoom meeting via Koteka Talk.   Singkat kata acara langsung dibuka oleh tuan rumah yaitu Ira Latief dari Wisata Kreatif Jakarta.

Ira Latief memulai dengan sedikit latar belakang mengapa dia juga sama seperti saya suka sekali dengan Kota Tua. Menurutnya Kota Tua perlu lebih banyak lagi diperkenalkan baik kepada wisatawan asing dan juga kadang kepada penduduk Jakarta sendiri. Menurutnya banyak sekali hidden gems atau permata tersembunyi yang perlu dijelajahi agar kita lebih mengenal kawasan ini. 

Ira Latief dan Koteka : Dokpri

Menurut Ira, Jakarta atau lebih tepatnya Batavia pada masanya kejayaannya merupakan bandar atau kota Pelabuhan paling penting di Asia Tenggara.  Tentu saja Singapura pada saat itu boleh dibilang belum tampil di dunia internasional seperti sekarang dan karena di Batavia ini pula pusat VOC, sebuah perusahaan dagang multinasional pertama dan terbesar di dunia bermarkas.   Ira bercerita sekilas mengenai Gedung Museum Sejarah Jakarta yang dulunya pernah menjadi Balai Kota Batavia dan juga Kantor Gubernur sebagaimana masih terukir kata "Gouverneur Kantoor" di fasad depan gedung berwarna putih dan sangat bersejarah ini.  

Tidak lupa juga dikisahkan mengenai Meriam Sijagur yang konon berkhasiat bisa membantu perempuan menjadi hamil bila megelus-ngeus meriam tersebut dan juga tentang lonceng di Balai Kota yang dibunyikan untuk memanggil penduduk bila ada eksekusi hukuman mati. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline