Lihat ke Halaman Asli

Guru sebagai Model Pengajaran Sastra

Diperbarui: 28 September 2021   15:22

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Image by 14995841 from Pixabay 

Guru sastra sering dituding sebagai penyebab hampanya atmosfir pengajaran sastra. Meskipun tidak bagi seluruh guru, tudingan itu ada benarnya. Tak bisa dipungkiri, ada guru sastra yang tidak berpotensi mengajarkan sastra, karena tidak berminat pada sastra, sehingga untuk sekadar memenuhi tuntutan kurikulum terpaksa kawin paksa dengan sastra. Begitu pula dengan guru sastra yang hanya mengajarkan takhayul sastra, menyebut judul dan pengarang tetapi tidak pernah membaca bukunya. Namun, pernyataan yang menuding bahwa hanya guru sastra penyebab "sakit" bahkan "kegagalan" pengajaran sastra, sama sekali tidak bisa diterima.

Guru sastra hanyalah satu komponen pengajaran sastra selain siswa dan buku-buku sastra. Oleh karena itu, siswa dan buku-buku sastra juga patut diperhitungkan dan dibicarakan dalam kaitannya dengan masalah pengajaran sastra. Tidak bisa dipungkiri bahwa minat siswa terhadap sastra amat rendah. Bukan sekali dua kali terdengar keluhan dari sana-sini bahwa siswa malas membaca karya-karya sastra, dengan berbagai alasan. Pun buku-buku sastra - di banyak sekolah tetap kurang jumlahnya bahkan tidak tersedia - turut  menciptakan kondisi yang kurang menguntungkan, selain kini bermunculan buku-buku pegangan sastra yang lebih menyesatkan daripada menumbuhkan apresiasi sastra siswa.

Penyempitan Makna

Masalah-masalah yang timbul sekitar pengajaran sastra sangat mungkin berawal dari kekurangpahaman (atau ketidakpahaman?) akan makna penting mengajarkan sastra itu sendiri, sehingga timbul sikap yang kurang mempedulikan pentingnya pengajaran sastra. Pemahaman yang keliru tentang sastra dan sikap yang kurang bersahabat terhadap sastra melahirkan pandangan yang meremehkan sastra. Akibatnya, pengajaran sastra dianggap kurang (tidak) penting sehingga tak patut menduduki "tempat" yang selayaknya. Benarkah pengajaran sastra kurang (tidak) penting? Kalau jawabannya tidak benar, lalu apa gerangan makna pengajaran sastra bagi siswa khususnya dan dunia pendidikan pada umumnya?

Pengajaran sastra yang didaktis dan humanis itu setidaknya memiliki empat manfaat penting; membantu keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta rasa, dan menunjang pembentukan watak siswa (B. Rahmanto, Metode Pengajaran Sastra, 1988:16).

Penguasaan empat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dibantu oleh pengajaran sastra. Keterampilan menyimak siswa dilatih dengan mendengarkan suatu bentuk karya sastra (imajinatif atau nonimajinatif) yang dibaca nyaring oleh guru sastra. Dengan bercerita di depan kelas atau bermain drama, siswa melatih keterampilan berbicara. Siswa melatih keterampilan membaca dengan membacakan puisi, cerpen, atau artikel. Dengan menulis berbagai bentuk karya sastra dan mendiskusikan suatu karya sastra lalu menuliskan hasil diskusi tersebut, siswa berlatih keterampilan menulis.

Karya sastra senantiasa menghadirkan sesuatu dan kerap menyajikan banyak hal, yang apabila dihayati benar-benar, akan semakin menambah pengetahuan. Pengajaran sastra tidak hanya membantu meningkatkan pengetahuan siswa, tetapi juga menanamkan pemahaman budaya pada diri siswa. Pemahaman budaya menumbuhkan rasa bangga, percaya diri, dan rasa ikut memiliki.

Setiap siswa adalah individu dengan kepribadian yang unik, kemampuan, masalah, dan kadar perkembangannya masing-masing. Pengajaran sastra berfungsi membantu proses pengembangan individu secara keseluruhan. Berbagai kecakapan siswa seperti kecakapan yang bersifat indera, penalaran, perasaan, sosial, dan religius dikembangkan melalui pengajaran sastra.

Sehubungan dengan upaya menunjang pembentukan watak (kepribadian) siswa melalui pengajaran sastra, ada dua hal yang diharapkan. Pertama, pengajaran sastra mampu membina perasaan yang lebih tajam. Pengajaran sastra bila dibandingkan dengan pelajaran-pelajaran lainnya mempunyai kemungkinan lebih banyak untuk mengenal seluruh rangkaian kemungkinan hidup manusia seperti kebahagiaan, kebebasan, kesetiaan, kekalahan, kebencian, dan lain-lain. Dengan pengajaran sastra, siswa mempunyai perasaan yang lebih peka untuk memilih hal mana yang bernilai dan mana yang tak bernilai. Kedua, pengajaran sastra dapat mendukung upaya mengembangkan berbagai kualitas kepribadian siswa seperti ketekunan, kepandaian, pengimajian, dan penciptaan. Melalui pengajaran sastra siswa dipertemukan dengan berbagai kesempatan untuk menelusuri semacam arus pengalaman segar yang terus mengalir. Pengalaman bersastra itu merupakan persiapan yang baik bagi kehidupan siswa di masa depan, terutama dalam profesinya di mana ia harus selalu siap menilai dan mengambil keputusan dalam menghadapi berbagai macam masalah.

Menerapkan Dua Tradisi

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline