Lihat ke Halaman Asli

Tarmidinsyah Abubakar

Pemerhati Politik dan Sosial Berdomisili di Aceh

Cabai, Tomat, Bawang di Halaman Rumah Atasi Pemborosan Biaya Dapur

Diperbarui: 18 Desember 2020   14:11

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dok rumah.com

Dalam masa kehidupan sulit perlu berbagai cara mengatasi penanganan kebutuhan hidup dalam rumah tangga. Salah satu masalah besar adalah terbatasnya ketersediaan makanan dan ketergantungan pada uang secara total dalam sistem kehidupan masyarakat. Dalam segala kebutuhan masyarakat membutuhkan uang untuk membelinya, termasuk dalam hal cabe, bawang dan tomat bahkan alat congkel gigi sekalipun.

Sebahagian besar rakyat hanya berpikir bagaimana menghasilkan dan memproduksi uang, sementara sedikit masyarakat yang bekerja menghasilkan makanan untuk kebutuhan dirinya dan masyarakat. Pemilik modal, apakah bank konvensional maupun syariah, perusahaan pembiayaan, perusahaan keuangan negara, semua lembaga itu juga tidak memberi apresiasi kepada sektor pertanian untuk membantu usaha masyarakat kecil.

Padahal support modal inilah menjadi alat utama untuk membangun masyarakat berkreatifitas dan membangun ekonomi dalam standar memelihara kehidupan keluarganya masing-masing.

Dalam posisi masyarakat ini maka dapat dipastikan bahwa kita adalah masyarakat Indonesia yang konsumeris setia sepanjang hidup dan masyarakat dunia lain sebaliknya mereka akan terus bekerja untuk menjadi produsen yang setiap detik, menit, jam dan hari-harinya menghasilkan segala kebutuhan manusia dengan discovery dan inovasi yang timbul kreatifitas masyarakat itu sendiri.

Sementara negara kita yang mengandalkan sektor agraris, maritim namun untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari kita juga mengeluarkan biaya yang bila kita perhitungkan perbulan lumayan jumlahnya. Anehnya tanaman cabe, bawang dan kebutuhan dapur untuk kebutuhan rumah tangga dalam pembudidayaannya tergolong sangat mudah, kita hanya membeli bibit dan menaburkan di halaman rumah yang sebahagian besar tanahnya subur.

Pada kisaran harga cabai perkilo gram mencapai seratusan ribu, masyarakat kewalahan untuk mengadakan kebutuhan dapur rumah tangganya. Padahal lima belas sampai dua puluh batang tanaman cabai atau tomat sudah cukup untuk menekan pengeluaran belanjaan dapur keluarga.

Lalu, kalau barang elektronik masyarakat kita harus membelinya, kebutuhan kenderaan seperti sepeda motor, sepeda angin juga membeli dipasar bahkan hasil import, maka pertanyaannya, adakah bahan kebutuhan sehari-hari yang tidak dibeli? Tentu saja semua harus dibeli. Oleh karena itu pengeluaran rumah tangga untuk sehari-hari pada masyarakat di kampungpun tidak bisa teratasi tanpa Rupiah.

Jika kurang yakin, silakan mwngunjungi rumah-rumah dalam suatu komplek atau diwilayah kampung halaman anda, saya meyakini tanaman kebutuhan dapur tersebut hanya beberapa rumah yang akan anda temui, selebihnya mereka harus membeli kepasar tradisionalnya sebagai belanja rutin setiap dua atau tiga hari bahkan ada keluarga yang setiap hari wajib membelinya.

Memang kalau dipikir-pikir ini sebagai hal sepelean, yang tidak pernah kita perhitungkan, padahal tidak ubahnya ibarat seorang kepala keluarga dan beberapa anaknya sebagai perokok. Dimana setiap bungkus harga rokok di jaman ini mencapai harga untuk dua atau tiga bungkus nasi. Jika membeli beras maka sudah mencukupi untuk beberapa kilogram dimana keluarganya dapat menikmati hingga dua dan tiga hari. Tetapi harga rokok dan dampak terhadap kesehatannya tidak pernah diperhitungkan yang setiap bulannya masyarakat wajib menambah pendapatannya dua kali biaya dapurnya.

Cara hidup terbiasa ini menjadi pemborosan dalam pengeluaran untuk keluarga sehingga banyak kepala keluarga yang menjadi berat kala membiayai biaya anaknya bersekolah, padahal kalau kebiasaan ini ditunda akan banyak hal lain yang mendongkrak pendapatan keluarganya.

Wahington DC adalah kota besar, ibukota negara Amerika Serikat masih banyak kita ketahui sebagai masyarakat producen dunia, tetapi di kota itu kita masih menemukan kebun tanaman-tanaman ringan di kota yang merulakan investasi kecil keluarganya. Mereka tidak menganggap remeh pengeluaran biaya untuk kebutuhan rumah tangganya sehari-hari. Kecuali mereka yang bekerja di perusahaan besar dan pejabat pemerintah yang menghasilkan uang dalam jumlah besar dengan pekerjaan tetap dan disiplin serta kesibukannya diluar rumah.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline