Lihat ke Halaman Asli

Syifatul Mauliddiyah

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Resensi Buku "Bumi Manusia"

Diperbarui: 11 Desember 2023   23:47

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Book. Sumber ilustrasi: Freepik

Resensi buku ditulis oleh Syifatul Mauliddiyah

Judul Buku: Bumi Manusia

Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Lentera Dipantara

Tahun terbit: 2018 (cetakan ke-27) 1980 (terbit ke-1)


Bumi Manusia

                     Di awal novel Bumi Manusia, kita dikisahkan bahwa Minke adalah seorang pemuda pribumi berprestasi yang menempuh pendidikan di HBS. Minke juga bergabung dengan teman-temannya yang sebagian besar adalah anak-anak totalok Belanda/Eropa dan campuran totalok dan Pribumi (Indo). Sahabatnya, Jean Marais, adalah seorang totalok Prancis yang pernah menjadi tentara Kumpeni dan kehilangan salah satu kakinya. Jean, seorang aktivis humanis, terpaksa menjadi tentara karena kemiskinannya. Di medan perang, ia mempersunting seorang wanita Aceh dan dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik bernama Maysaroh. Malangnya, sang istri meninggal dunia. Jean hanya bisa mempertahankan hidup sebagai pelukis upahan di Hindia Belanda. Minke sering membantu menemukan pesanan untuk temannya itu.

Hidup di antara kalangan Indo, Minke tidak mempermasalahkan hal itu. Ia tumbuh dalam latar belakang keluarga priyayi Jawa dan bisa berbahasa Belanda dengan lancar. Meski begitu, ia sadar bahwa ia hanyalah seorang pribumi. Bagaimanapun, dia tidak "sekeren" orang Indo dan totalok.
Minke adalah pengagum keindahan. Pada bagian awal novel ini, mudah untuk mengenali karakter Minke. Pram menjadikannya terlihat seperti seorang remaja yang sedang kasmaran. Dia jatuh cinta pada Ratu Wihelmina, seorang Ratu Belanda.

Karakter Minke yang diketahui mudah jatuh hati pada wanita ini telah membuat teman-temannya, termasuk Suurof, menjadi rasis. Ia sangat bangga dengan dirinya yang memiliki darah Eropa. Suatu hari, ia mendapat tantangan dari Suurof untuk menaklukkan hati seorang wanita yang katanya lebih cantik dari Ratu Belanda. Tantangan itu diterimanya. Minke kemudian diundang ke rumah seorang gundik pribumi Belanda bernama Nyai Ontosoroh. Di rumah inilah Minke berjumpa dengan wanita yang konon katanya luar biasa cantiknya. Dia adalah Annelies, anak bungsu Nyai Ontosoroh dan adik dari Robert Mellema.

Pada pandangan pertama, Minke tidak bisa berkata-kata. Namun Minke tidak hanya terpesona oleh kecantikan Annelies. Menurutnya, keluarga Nyai Ontosoroh alias Sanikem sangat khas. Nyai Ontosoroh menampilkan sosok perempuan yang super cerdas. Ia tak seperti kebanyakan pengasuh atau gundik Belanda pada umumnya. Putrinya, Annelies, juga memiliki keunikan tersendiri. Meski luar biasa cantik, ia tidak bergaul dengan orang Indo dan totalok karena putus sekolah. Secara mental ia juga seperti anak kecil sebab ia harus membantu ibunya di perkebunan sejak kecil, tanpa ditemani teman-teman seusianya. Kakaknya, Robert Mellema, sangat mengesankan. Walaupun yang satu ini memiliki kesan negatif. Tapi paling tidak Robert tidak seburuk Herman Mellema (kepala keluarga) yang begitu buruk sehingga orang pribumi seperti Minke masuk ke rumahnya. Herman Mellema bahkan mencaci maki Minke dengan sebutan monyet. Beruntungnya, Nyai Ontosoroh memiliki keberanian untuk membela Minke. Ini adalah sebuah tindakan yang luar biasa dimana biasanya seorang nyai pribumi tunduk di bawah totok Belanda.

Dengan berjalannya waktu, Minke dan Annelies akhirnya saling jatuh cinta. Namun Minke tidak mengira bahwa Annelies menjadi begitu ketergantungan padanya. Ia terus menerus mendapat surat untuk kembali ke rumah Nyai untuk tinggal bersamanya. Annelies juga jatuh sakit parah setelah sekian lama tidak bertemu dengan Minke, yang terpaksa datang ke rumah orang tuanya. Minke ingin tetap bersama Annelies. Tetapi tinggal di rumah seorang Nyai membuatnya mendapatkan pandangan buruk di masyarakat. Seorang Nyai atau gundik Belanda dianggap sebagai wanita yang mesum dan menggoda. Minke juga berpandangan demikian. Untungnya, ia berbagi pandangan yang sama dengan sahabatnya, Jean Marais. "Bersikaplah adil dalam pikiranmu!" Itulah pesan Jean kepada Minke. Jangan menghakimi Nyai Ontosoroh tidak bermoral sebagaimana orang lain.

Minke kemudian kembali tinggal di Wonokromo (rumah Annelies) sambil melanjutkan sekolah di HBS. Ia mulai menulis untuk surat kabar. Sebagai seorang pribumi, Minke mendapat pujian karena mampu menulis bahasa Belanda dengan baik. Namun sayang, banyak keluarga di sini yang merupakan keturunan Eropa. Sehingga mereka merasa kebangsawanannya terluka karena ada pribumi yang lebih baik. Secara perlahan, Minke juga mulai mengetahui mengapa Annelies begitu tergantung dan "rentan". Rupanya Annelies pernah diperkosa oleh kakaknya sendiri. Rasa trauma itu masih membekas hingga bertahun-tahun kemudian. Terlebih lagi, Annelis tidak pernah bercerita tentang kejadian tersebut kecuali kepada Minke seorang.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline