Lihat ke Halaman Asli

Syarif Nurhidayat

Manusia yang selalu terbangun ketika tidak tidur

Jalan yang Mengantar Manusia pada Tujuannya

Diperbarui: 26 Agustus 2020   06:04

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Dalam sebuah pengantar laporan penelitian tentang jalan, dinyatakan bahwa jalan pada awalnya merupakan tempat orang-orang melakukan interaksi, dan semua aktifitas dapat berjalan dan dilakukan dijalan.

Jalan menjadi media komunikasi aktif yang antar penghuni yang ada. Namun kini, jalan telah dipenuhi dengan kendaraan berkecapatan tinggi, sehingga semua bentuk kegiatan yang dilakukan menjadi tersingkir karena keberadaan kendaaran cepat itu.

Tidak lagi dapat kita lihat orang saling menyapa di jalanan, apalagi untuk sekedar ngobrol bertanya kabar, untuk mengangguk saja ketika berpapasan sudah jarang kita temukan.

Dengan mobil kita sudah tidak mungkin berinteraksi dengan dunia luar ketika berada di dalamnya. Mobil telah membentuk satu dunia yang ekslusif bagi para penumpangnya dari pemakai jalan lain, atau orang-orang yang mereka lewati adalah dunia lain yang asing.

Motor yang dirancang dengan kecepatan tinggi, menuntut pengendaranya untuk menutup rapat semua bagian tubuhnya, apalagi ditambah dengan panas dan debu yang beterbangan di jalanan.

Setiap pengendara mengenakan masker dan kaca mata, atau menutup rapat kaca helemnya. Sehingga ketika berpapasan dengan tetangga sekalipun belum tentu bisa saling mengenal, apalagi menyapa.

Ketika dahulu, jalan diperuntukkan sebagai media pertemuan semua manusia ketika tengah menuju tujuannya yang lain, kini jalan telah mengasingkan para penggunanya dengan semakin lebar dan mulusnya jalanan itu. Semakin lebar dan halus jalan itu, semakin tidak saling kenal sapa antar pengguna. Yang ada hanya persaingan saling mendahului dan uji cepat kendaraan masing-masing.

Coba bandingkan dengan jalanan yang berbentuk gang-gang sempit, ketika di sana ada pintu-pintu yang menempel berderet sepanjang jalan, laju kendaraan tidak boleh seenaknya sendiri. Namun itupun tidak juga serta merta menghadirkan kesadaran sosial kita.

Lihatlah semakin banyak gang-gang yang ditumbuhi barisan polisi tidur. Para warga mengatakan itu sebagai peringatan bagi pengendara untuk tidak ngebut. Karena meski sudah diperingatkan di pintu masuk gang dengan papan-papan pemberitahuan (untuk tidak mengatakan papan ancaman) bagi para penguna gang itu, toh mereka sering ugal-ugalan dan membahayakan pengguna gang yang lain.

Budaya berjalan kita sudah begitu jauh berubah. Jika ingin kita telusuri faktor apakah yang mengantarkan hilangnya budaya tegur sapa di jalanan adalah efisiensi.

Kita sering beralasan bahwa untuk sekedar turun dari kendaraan untuk menghormati orang-orang yang tengah duduk-duduk di pinggir jalan adalah sesuatu yang kurang efektif, buang-buang waktu. Apalagi jika harus selalau berhenti dan menyapa bertanya kabar, bisa jadi urusan kita tidak kelar karenanya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline