Lihat ke Halaman Asli

Syarif Yunus

Dosen - Penulis - Pegiat Literasi - Konsultan

Respek, Kata yang Gampang Diucapkan Sulit Dilakukan

Diperbarui: 21 Januari 2022   21:44

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: Pribadi

Negeri ini ramai lagi, gara-gara politisi tidak membolehkan rapat memakai Bahasa Sunda. Masa orang pakai bahasa-nya sendiri tidak boleh. Itu kan gaya bahasa selingkung, hanya berlaku di lingkungannya. Kenapa jadi si politisi yang kebakaran jenggot.Entah apa dasarnya? Anehnya si politisi, kok diam saja saat ada pejabat daerah yang kena OTT KPK. Dikasih amanah oleh rakyat, kok malah korupsi. Si politisi kok diam saja, katanya wail rakyat. Sangat jelas, itu berarti si politisi tidak punya sikap respek.

Respek, memang sikap yang makin ditinggalkan orang. Respek, sebuah rasa hormat soal apapun dan kepada siapapun. Bila mau dihormati maka belajar menghormati. Bersedia menghormati orang lain sebelum minta dihormati. Itulah kehormatan seseorang. Tanpa rasa hormat atau kehormatan maka sulit untuk bersikap respek. Karena respek pula, cara berpikir positif, kebaikan bahkan keberkahan dapat tumbuh. Tanpa respek, bisa jadi semua omong kosong.

Sikap respek, faktanya memang kian langka. Apalagi di era digital dan media sosial. Sikap respek kian dikebiri. Pernah nggak ngobrol sama orang tapi sambal mainin gawai. Atau nge-chat di WA, sudah dibaca tapi tidak dibalas. Ditanya tapi tidak dijawab-jawab. Itu pertanda tidak punya respek. Sikap yang sulit untuk menghormati atau menghargai orang lain. Tapi giliran kepo atau gibahin seseorang, semua mengaku karena respek.

Di taman bacaan pun sikap respek kian terbelenggu. Sudah tahu di daerahnya ada taman bacaan, kok hanya mengimbau anak-anak untuk membaca saja tidak mau. Ehh, malah menampung anak-anak yang tidak mau baca untuk nongkrong yang tidak karuan. Ada pula orang tua yang malah "melarang" anaknya membaca buku di taman bacaan. Katanya taman bacaan perbuatan baik. Boro-boro membantu, perhatian saja tidak. Itu semua jadi bukti, sikap respek kian terkikis. Lalu, bagaimana mau membangun masyarakat yang literat?

Jadi, sikap respek adalah "hutang terbesar" semua orang. Terlalu sulit untuk menghormati dan menghargai orang lain. Banyak orang hari ini hidupnya milih-milih. Bila ada uangnya baru respek, bila tidak ada uangnya ya peduli amat. Semua diukur dari uang dan materi. Lupa, bahwa hidup bukan soal uang semata. Tapi ada sosial dan amal perbuatan yang harus dilakukan setiap orang. Agar hidup seimbang, lahir dan batin. Respek itu untuk dunia dan akhirat. 

Respek, bisa jadi kata yang mudah diucapkan, tapi sulit dilakukan. Banyak orang makin tidak peduli pada aktivitas sosial dan kebaikan. Termasuk aktivitas taman bacaan dan literasi pun kian sulit dipedulikan orang lain. Banyak orang apatis terhadap kebaikan. Maka wajar, saat ini banyak orang saling berbeda pendapat, saling bermusuhan, dan saling marah. Terlalu mudah menodai harmoni menjadi disharmoni. Karena tidak punya sikap respek.

Jika ingin dihormati, maka hormatilah dulu orang lain. Jika ingin dihargai, maka hargailah orang lain. Itulah respek. Dan respek tidak ada hubungan dengan pangkat dan jabatan. Apalagi status sosial dan harta. Respek adalah kepribadian, karakter seseorang. Maka siapapun, tidak penting menjadi "perfect". Tapi cukup menjadi orang yang "respect". Seperti kata Les Giblin, "Anda tidak akan bisa membuat orang lain merasa penting bila diam-diam Anda merasa bahwa orang lain itu bukan siapa-siapa". 

Seperti buku-buku yang terpajang di rak-rak taman bacaan, pun tidak pernah meminta untuk dibaca siapapun. Tapi buku hanya butuh sikap respek pembacanya. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline