Lihat ke Halaman Asli

Supartono JW

Pengamat

Sepakbola Nasional, Antara Program dan Keterbatasan Waktu 2018

Diperbarui: 16 Maret 2018   00:01

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

sumber foto: offside.co.id

Kegembiraan atas prestasi Egy Maulana Vikri direkrut klub kasta tertingga Polandia dan keberhasilan timnas U-16 menyabet gelar turnamen Jenesys Jepang 2018, memang telah menjadi catatan awal pembuktian, bahwa tahun 2018 digadang-gadang sebagai  tahun untuk prestasi sepakbola nasional.

Namun, di dalam negeri sendiri, nampaknya PSSI yang tanpa nakoda, masih bergeming dengan ambisinya melontarkan segala angannya dengan gelontoran program sepakbola yang memaksakan. Inilah tahun yang dapat disebut sebagai tahun padat program sepakbola nasional. Malah teranyar, PSSI sedang mengejar target wasit menembus Piala dunia melalui kerjasama dengan Jepang.

Padatnya agenda kegiatan sepakbola nasional di tahun 2018, sejatinya telah terdeskripsi dari jauh tahun sebelumnya. Bahkan Sidang umum Komite Olimpiade Asia (OCA) yang berlangsung di Incheon, pada tanggal 20 September 2014, empat tahun yang lalu, secara resmi telah menetapkan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Indonesia mendapat dukungan dari 42 negara di antara 45 negara peserta Asian Games. Luar biasa, 42 negara mendukung Indonesia dalam pesta olahraga terbesar di Asia.

Dalam kaitannya dengan sepakbola, maka sudah sejak empat tahun yang lalu sewajibnya PSSI, telah merancang program untuk timnas hingga mencapai target prestasi yang diharapkan pemerintah, minimal masuk semifinal alias 4 besar.

Upaya Edy Rahmayadi

Kendati Asean Games bukan kalender FIFA, tidak berbuah poin, untuk menyelematkan target hingga dapat menembus empat besar, Sang Ketua Umum PSSI  malah harus ciptakan polemik. Setelah riuh rendah  berbagai komentar di media sosial, polemik transfer dua penggawa timnas Indonesia U-23, Evan Dimas Darmono dan Ilham Udin Armaiyn, ke klub Malaysia, Selangor FA, dapat diselesaiakan dengan baik.

Selangor FA  mengikuti arahan dari Ketua Umum PSSI terkait penyesuaian jadwal dan durasi pelepasan pemain yang nantinya akan ditetapkan PSSI sesuai kesepakatan digelar di Jakarta, Rabu (3/1).

PSSIpun  berterima kasih atas kunjungan silaturahmi dan persetujuan Selangor FA, mengingat pentingnya posisi Indonesia sebagai tuan rumah di Asian Games 2018. Hubungan PSSI dan Selangor tetap terjaga dan semakin erat sebagai bagian dari keluarga besar sepakbola di Asia Tenggara.

Sebelum polemik yang diciptakan oleh Edy berakhir, sikap Ketua Umum PSSI tak pelak menuai pro dan kontra  dari publik sepakbola nasional dan media massa dalam dan luar negeri. Banyak yang setuju atas sikap Edy, banyak pula yang menyesalkan mengapa Edy harus membuat polemik tersebut.

Pada akhirnya, kini semua publik sepakbola nasional justru bangga atas sikap Edy. Sikap Edy menunjukkan jiwa patriot, militan, demi prestasi sepakbola nasional untuk rakyat Indonesia. Tegas dan disiplin, karena pada akhirnya sikap yang dianggap polemik, dapat diselesaikan dengan jalan kekeluargaan.

Upaya Edy demi timnas berprestasi layak diacungi beberapa jempol. Bila Ketua Umum PSSI bukan Edy, barangkali polemik semacam itu tidak akan pernah ada. Karena untuk bertindak tegas dan berani mengambil sikap memang dibutuhkan seseorang yang memiliki karakter.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline