Lihat ke Halaman Asli

Suparjono

Penggiat Human Capital dan Stakeholder Relation

Zona Nyaman; Benarkah Tidak Aman?

Diperbarui: 29 Maret 2024   23:23

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Worklife. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Lagi, comfort zone atau zona nyaman menjadi sebuah perbincangan dan perdebatan yang cukup masif bagi diskursus saat ini. Zona nyaman yang menjadi tujuan dan harapan setiap insan manusia menjadi kondisi yang tidak layak untuk dimiliki dalam waktu yang lama. Sebuah paradok yang menjadi permakluman bagi kondisi realitas saat ini. Pertanyaan kembali muncul, mengapa harus ada zona nyaman kalau hanya sementara dimiliki, dirasakan atau didiami. Tak hanya itu saja, Mengapa zona nyaman sebegitu menakutkan sehingga banyak yang menganjurkan untuk segera keluar dari zona tersebut. Apakah karena zona nyaman tidak aman untuk didiami atau dimiliki oleh setiap insan manusia. Membongkar ketakutan dan kekhawatiran tentang keberadaan zona nyaman perlu menjadi perhatian lebih agar penempatan posisi kita sebagai manusia mampu menghadirkan solusi terbaik baik diri dan lingkungan sekitar.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas adalah bukti bahwa penghidupan manusia di alam raya ini sangat bergantung pada gerak dalam ruang dan waktu. Dimana gerak merupakan keniscayaan bagi seluruh eksistensi di muka bumi ini. Tanpa bergerak maka kematian dan kejumudan adalah konsekuensinya. Oleh sebab itu, kenyamanan yang hadir saat ini perlu dibumbui dengan paradigma baru agar tidak semenakutkan dan mengkhawatirkan yang terlihat, terdengar pada timeline, cookies dan suara-suara podcast serta panggung motivator. Penyikapan atas menakutkannya zona nyaman yang kurang tepat mungkin saja bisa menyebabkan kondisi yang lebih buruk. Alih-alih keluar dari zona nyaman justru berujung pada kondisi tidak aman. Disinilah kearifan dan kebijaksanaan setiap insan manusia dipertaruhkan.

Membongkar paradigma atau melihat sudut pandang yang baru dengan membumbui hal-hal yang baru atau terbarukan adalah salah satu upaya mengembalikan zona nyaman agar tidak menakutkan (lagi). Paling tidak ada tiga hal yang  perlu menjadi perhatian kita dalam membangun paradigma baru tentang zona nyaman, antara lain bahwa Zona nyaman adalah sebuah perjalanan, yang kedua adalah zona nyaman adalah sebuah proses perbaikan secara terus menerus dan yang ketiga zona nyaman adalah sebuah proses refleksi yang hadir sebagai konsekuensi perjalanan hidup manusia. Satu per satu akan kita kuliti secara perlahan-lahan agar zona nyaman yang baru mampu memberikan gambaran yang paling tidak berbeda dari kondisi saat ini.

PERJALANAN

Perjalanan adalah proses bergeraknya entitas dari titik satu menuju titik kedua, ketiga dan seterusnya. Titik-titik yang terus bergerak akan menggambar sebuah garis yang panjang. Proses perjalanan tersebut bisa menggambarkan realitas baru lewat pengalaman yang hadir pada setiap titik yang dilalui. Tak hanya itu, perjalanan tersebut merupakan sebagai wujud dari hidupnya entitas yang ada dan terlihat disekeliling kita semua. Wujud kehidupan yang terus berubah, bergerak, tumbuh seperti halnya usia manusia yang setiap detik menemukan tambahan umurnya entah bisa diartikan sebagai tambahan atau berkurangnya quota umur manusia. Yang jelas proses bergeraknya manusia dan alam ini adalah perwujudan sekaligus menegaskan adanya kehidupan.

Zona nyaman dalam konteks ini memperlihatkan bahwa manusia beserta alam akan merasakan kenyamannya jika terus-menerus bergerak. Merasakan kenikmatan setiap pergerakan dan perubahan adalah upaya memberikan kenyaman pada diri manusia dalam menjalankan fitrah kemanusiaannya. Tidaklah mungkin manusia tidak bertambah usianya dalam keterikan ruang dan waktunya. Maka sudah selayaknya perjalanan yang menjadi fitrah kemanusiaan perlu dijadikan zona nyaman. Zona nyaman dalam perjalanan bisa dinikmati dengan penuh suka cita dan kelegaan jika kita mampu membaca petunjuk yang hadir dan melintas dalam setiap perjalanan. Petunjuk tersebut merupakan batas dan cara untuk mencapai tujuan. Tanpa petunjuk maka perjalanan yang kita lalui seperti tanpa cahaya atau perjalanan dalam gelap gulita yang berujung pada kedukaan.

PROSES PERBAIKAN

Proses perbaikan perlu menjadi perhatian bagi setiap manusia beserta alam  agar perjalanan yang menjadi keniscayaan wujud manusia dalam menikmati zona nyaman mampu dihadirkan. Mengapa demikian, karena setiap manusia akan melakukan perjalanan yang bervariasi dengan berbagai macam kondisi dan situasi yang berbeda. Ada yang mempunyai perjalanan yang panjang, ada yang mempunyai perjalanan dengan jarak menengah ada juga yang mempunyai perjalanan yang sangat pendek. Tak hanya itu saja, setiap manusia ada yang dibekali dengan perbekalan yang cukup, ada yang merasa kurang, ada yang merasa lebih bahkan ada yang merasa tidak sama sekali dibekali. Pandangan tentang perbekalan yang dimiliki dalam proses perjalanan yang sangat bervariasi ini sesungguhnya menjadi modal utama. Modal pandangan harus dihadirkan agar upaya perbaikan secara terus menerus dalam perjalanan menjadi zona nyaman.

Pandangan tentang kondisi dan situasi setiap diri manusia dalam proses perbaikan akan menemukan dengan mudah zona nyaman yang sesungguhnya. Hal tersebut dapat diartikan sebagai kondisi bahwa manusia sebagai mahluk mempunyai kecenderungan untuk melakukan tindakkan yang salah atau kurang tetap dalam melangkah. Tetapi dalam waktu yang bersamaan manusia diberikan free will dalam setiap langkah. Artinya sepanjang manusia tidak memiliki niat jahat dalam langkahnya maka dapat dibenarkan melakukan eksperimen dalam setiap perjalanannya, meskipun hasilnya kurang tepat atau salah. Namun, dengan kesadarannya setiap langkah yang salah selalu menjadi modal untuk melakukan perbaikan tanpa paksaan dari pihak manapun.

PROSES REFLEKSI

Akhirnya zona nyaman merupakan proses refleksi yang memiliki kenikmatan dan kenyaman yang perlu kita elaborasi lebih jauh. Mengapa demikian, karena kesadaran manusia selalu mengantarkan kepada jalan terbaik yaitu jalan kebenaran untuk menuju kesempurnaan. Proses refleksi atas setiap titik perjalanan manusia jika direnungkan dan dipelajari seharusnya menemukan kebaruan petunjuk untuk menemukan tujuan yang absolut. Proses refleksi tersebut juga memunculkan gambaran baru tentang langkah perjalanan yang akan menjadi rencana perjalan selanjutnya. Kemampuan reflektif setiap manusia yang berbeda sangat bergantung kepada bekal atau atribut yang dimilikinya. Perbedaan inilah yang memunculkan varian terhadap petunjuk perjalanan dalam mencapai target yang absolut.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline