Lihat ke Halaman Asli

Sugiyanto Hadi Prayitno

TERVERIFIKASI

Lahir di Ampel, Boyolali, Jateng. Sarjana Publisistik UGM, lulus 1982. Pensiunan Pegawai TVRi tahun 2013.

Dari Lelaki, Nyawa, hingga Perut

Diperbarui: 8 Juli 2017   17:19

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

berboncengan sepeda dalam hujan / www.erv.co.uk

Lelaki yang Diam

diam membuatmu serupa lelaki putus asa
 karena itu bergumamlah sesukamu
 atau mengetuk-ngetukkan ujung jemari
 dan mulai menyanyi lirih, lagu ihwal mati
 kemana seharusnya kamu menyerah
 didera sakit dalam yang tak ada siapapun peduli
 separah apa, segawat bagaimana
 namun khusuk kamu terus bernyanyi
 lirih tanpa lirik menuju sunyi:
 kulihat kamu tetap diam dari tadi.
 ***

Nyawa yang Melayang

Hujan tak reda sejak petang dan sekarang
 menangislah bersama hujan, seiring derasnya.
 Lampu jalanan menyala di ujung maghrib
 menandai bayang malam segera berkunjung.

Sebuah ambulance melintas dengan raungnya
 tanpa isak tanpa duka selain rintik hujan.
 Teror kembali menyorongkan alat rakitannya
 ada nyawa warga melayang, tanpa mengerang.
 ***

Perut yang Lapar

Puasa itu semata urusan perut
 bila karena haus dan lapar hidupmu liar.
 Puasa itu tak lebih mainan harap
 bila karena surga engkau menghalalkan cara.

 Di sana betapa banyak perangkap
 untuk mengejar yang satu seraya melalaikan
 yang lain, haus dan lapar itu, ingatlah:
 bukan satu cara untuk rakus di lain waktu.
Cibaduyut, 13 Juni 2017

Gambar




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline