Lihat ke Halaman Asli

Zulfikar Akbar

TERVERIFIKASI

Praktisi Media

Catatan dari Pengalaman Persekusi

Diperbarui: 11 Januari 2018   16:34

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bersama Damar Juniarto, aktivis anti-persekusi dan Safenet, dan Ge Pamungkas - Gbr: Zulfikar Akbar

Menjelang akhir tahun 2017, di luar dugaan kegiatan saya di media sosial Twitter mengundang kehebohan. Berbagai media mengangkat kasus tersebut, terlebih lantaran saya akhirnya harus mengakhiri pekerjaan saya di salah satu media olahraga. Berbagai respons bermunculan, tak terkecuali hari ini, masih terus berdatangan. Lalu apa yang bisa dipetik dari pengalaman itu?

Bagi sebagian orang, apa yang saya alami adalah sebuah contoh buruk. Sialnya, dari sana mereka terlihat berusaha turut menebar ketakutan, misalnya, jika Anda terlalu lancang di media sosial, maka Anda akan berhadapan dengan sebuah risiko yang fatal. Kehilangan pekerjaan digambarkan sebagai sesuatu yang menakutkan, dan bahkan dipersepsikan sebagai aib.

Jika ditanya, mana yang lebih menakutkan bagi saya antara risiko dipersekusi dengan mewabahnya ketakutan, hal kedua lebih saya takutkan terjadi. Sebab jika ketakutan seperti itu terjadi, bagaimana berharap pencerahan, pencerdasan, dan kemajuan bisa terjadi?

Dalam kasus saya, memang ada konsekuensi yang sekilas mahal menimpa saya dan keluarga. Kehilangan satu pekerjaan, dihantui teror, sampai dengan citra saya yang mungkin semakin buruk. Namun saya memilih beranjak dari sudut pandang negatif atas sebuah kejadian besar sepanjang saya bermedia sosial itu, dan berusaha melihat pada misi saya untuk publik.

Apa misi itu? Agar kritik-kritik sosial, yang memang tak bisa dipisahkan begitu saja dari agama, tetap hidup dan lebih akrab dengan publik. Kenapa itu diperlukan, tak lain karena kritik-kritik sosial itulah yang saya yakini bisa membantu terciptanya pola pikir, sudut pandang, sampai dengan perilaku dan kebiasaan lebih baik di masa mendatang. 

Sebab, fakta yang saya simak, di sekeliling kita masih banyak yang menabukan banyak hal, sehingga banyak hal yang justru menjadi abu-abu. Kondisi abu-abu itu tentu saja bukanlah kondisi ideal, karena di sana keculasan, penipuan, penyesatan, sampai dengan penggiringan ke arah destruktif lebih rentan terjadi.

Publik dapat saja kelak justru memilih permisif dengan kekerasan, pengeroyokan, atau bahkan penipuan hanya karena kelihaian figur-figur publik yang lihai memanfaatkan ketertutupan sudut pandang yang memasyarakat. Ini tentu saja bukanlah realita ideal yang harus terjadi. Sebab jika mengulik lagi, kedatangan agama sendiri tak lepas dari misi menciptakan kultur membebaskan, mencerdaskan, dan memperbaiki; bukan merusak atau menghancurkan.

Seorang Nabi Muhammad, misalnya, dari kacamata di luar urusan kenabian dan religiusitas, datang untuk memperbaiki kultur dan habitsyang ada di tengah masyarakat Arab jahiliyah yang jamak diketahui sadis, gemar menipu, sampai dengan berbagai hal negatif lainnya.

Bagi penganut konsep teologi pembebasan, kedatangan para Nabi, termasuk Muhammad dan berbagai nabi lainnya, dipahami sebagai upaya untuk perubahan tersebut. Manusia kembali kepada kemanusiaannya, dan menjadi spirit beragama untuk memantapkan keyakinan bahwa usaha membantu sesama manusia, membela sesama manusia, adalah sesuatu yang disenangi Tuhan. 

Juga jika menyimak dari sudut pandang ketauhidan, sebagai acuan bagi masyarakat Muslim, yang memiliki kebutuhan itu hanyalah manusia, sedangkan Tuhan sendiri tak punya kebutuhan apa-apa kepada makhluk-Nya. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline