Lihat ke Halaman Asli

Zulfikar Akbar

TERVERIFIKASI

Praktisi Media

Teureuboek, Santet ala Aceh

Diperbarui: 26 Juni 2015   18:20

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

[caption id="attachment_58790" align="alignleft" width="253" caption="Jangan pernah iblis lebih dipercaya dari Tuhan. Karena pengaruh baik dan buruk itu datang dari "yang dipercaya" (Fickar. Gbr: Google)"][/caption] Lelaki itu memegang dadanya, terbatuk-batuk, mata mendelik, lantas mengeluarkan darah yang sangat banyak dari mulutnya. Beberapa kali lelaki itu sempat di bawa ke rumah sakit, tetapi dokter hanya mengatakan lelaki tersebut mengalami masalah psikologis saja, tidak ada penyakit apa-apa. Saat disebutkan, bagaimana dengan darah yang terus keluar. Nyaris tak  bisa dipercaya, dokter tersebut memilih diam, selanjutnya bersikeras mengatakan itu bukan penyakit. Tidak ada apa-apa dengan kesehatannya.

Iya, itu pengalaman tetangga saya sendiri yang menderita penyakit yang tidak terdekteksi dokter. Berobat sampai ke Penang tetapi tetap saja harus menderita penyakit itu sampai sekitar 10 tahun--bagi yang sangat mempercayai logika dan sains, sebaiknya tidak membaca ini---. Dan, ending dari cerita lelaki itu tidak lain, kematian. Kematian setelah 2 baskom darah yang entah darimana tumpah ruah dari mulutnya. Melihat matanya mendelik kesakitan, seperti akan keluar, terasakan trenyuh dalam hati. Begitu berat siksa yang ia terima. Sampai ia kejang dan kemudian terdiam, mati.

***

Jika disebutkan masyarakat Aceh sebagai masyarakat relijius itu benar. Tetapi, tetap saja mereka bukan malaikat. Tidak sedikit ureung Aceh yang tidak begitu peduli dengan persoalan agama, dan malah mempertuhankan kepentingan. Baik kepentingan untuk berkuasa maupun kepentingan untuk berumahtangga sekalipun.

Yang saya ilustrasikan di pembukaan adalah bentuk efek dari sebuah bentuk 'santet' yang dikenal masyarakat Aceh dengan sebutan "teureuboek". Biasa digunakan dengan cara dimasukkan dalam minuman. Bahan untuk tereuboek tersebut di ambil dari serpihan di dalam bambu, dicampur dengan beling yang sudah di giling halus. Kemudian diritualkan.

Biasanya, bentuk ritual yang dilakukan untuk teureuboek itu adalah dengan dimanterai--beberapa sumber menyebutkan, pelaku tidak boleh mengenakan pakaian selama proses ritual, tidak boleh mandi dan tidak dibenarkan membersihkan kotorannya--. Jadi, sekalipun pelaku ritual buang air, dia harus membiarkan itu begitu saja. Setelah ritual selesai, bahan teureuboek itu ada juga yang dicampur dengan minyak lintah. Uniknya, pada saat tertentu, jika tidak ada korban, teureuboek yang biasanya dimasukkan botol itu bisa loncat-loncat sendiri. Mengeluarkan bunyi seperti sandal jepit karet yang dipakai saat sedang basah.

Berdasar penuturan beberapa "ureueng tuha" (baca: tokoh masyarakat yang menguasai sesuatu masalah, biasanya memang sudah berusia senja), teureuboek bekerja dalam waktu lama. Bisa 5 sampai 10 tahun. Keunikan lain dari teureuboek tersebut, orang yang menjadi sasarannya baru akan mati setelah semua hartanya habis untuk berobat, dan kondisi korban sudah benar-benar cukup tersiksa.

Saya sendiri punya pengalaman terkait teureuboek. Terdapat sebuah gampoeng yang jamak dikenal sebagai tempatnya masyarakat yang masih melakukan ritual dan peulhara (memelihara teureuboek). Dan aparat pemerintah kecamatan mewanti-wanti saya dan teman-teman yang akan melakukan riset ke sana untuk tidak memakan dan meminum apapun yang disuguhkan masyarakatnya (karena Sekcam sendiri menjadi salah satu korban saat berkunjung di daerah tersebut). Tersepakati, semua membeli air mineral di keudee (pasar: terj.) untuk bekal di daerah pedalaman tersebut. Karena memang untuk menuju gampong (desa: terj.) tersebut butuh waktu 2-3 jam. Apalagi jalanan gampong yang masih sangat 'natural' karena masih berkonstruksi batu dan kerikil. Sesampai di tujuan, kebetulan sedang jelang jum'at. Bersama warga, saya dan rekan satu tim riset ikut shalat berjamaah setelah bincang-bincang sejenak dengan beberapa tetua gampong.

Selesai shalat, di meunasah (mesjid: terj.) itu juga kami duduk kembali untuk mewawancarai beberapa tokoh gampong. Meski yang dibutuhkan sebenarnya hanya aparat gampong, tetapi entah karena mereka suka dengan kedatangan tamu, seluruh warga yang menjadi jamaah jumatan ikut berdiri di luar menonton ke dalam--sedikit mengganggu konsentrasi saya dan teman--.

"Pat, cok ie nyoe keu jamee geutanyoe nyeung ban troeh jak saweue tanyoe (Mana, mana air untuk tamu kita yang sudah datang mengunjungi kita ini? :Terj)." Tak lama talam berisi gelas kopi dan teh terhidang di depan kami.

Saya dengan rekan-rekan sudah saling pandang karena teringat wanti-wanti dari aparat kecamatan,"jangan makan atau minum apapun yang diberikan penduduk gampong itu). Seketika, teman di samping kiri saya berujar,"meu'ah teungku, lon troe that mantoeng. Bunoe sipanyang roet kamoe jak di joek ie. Nyoe ka punoeh that pruet. (Maaf Pak. Tadi sepanjang jalan yang kami singgahi selalu saja disuguhi dengan air, perut sudah terasa penuh sekali.)

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline