Lihat ke Halaman Asli

Review Film Dokumenter Cingcowong oleh Mahasiswa Inbound UPI Kelompok 2

Diperbarui: 14 Oktober 2022   23:48

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri

Pada tanggal 9 Oktober tahun 2022, mahasiswa inbound kelompok 2 melakukan kegiatan modul nusantara dengan menonton film documenter persembahan dari program studi film dan televisi (FTV) Universitas Pendidikan Indonesia Bandung Jawa Barat. 

Film documenter yang di sutradaraioel Dede Yusriasi Pamungkas tersebut berjudul "Cincowong". Cincowong ialah ritual pemanggilan hujan jika terjadi kemarau panjang. 

Masyarkat percaya guna dilakukan ritual ini memiliki hubungan erat dengan keberlangsungan dan ketergantungan hidup manusia terhadapap tuhan yang maha Esa dan alam sekitar untuk menyuburkan kembali sawah dan kebun yang telah lama kering karena kemarau.

Dokpri

Ritual ini kini menjadi sebuah tradisi oleh masyarakat Kabupaten Kuningan, profinsi Jawa Barat, dan bertempatkan pada Desa Luragung Landeuh. Asal muasal nama Cincowong ialah darikata cing yang diterjemahkan dari Bahasa Sunda yang berarti "coba" dan kata cowong berartikan "bercakap keras". Jadi, Cincowong memiliki arti mencoba berbicara keras. Ada arti lain dalam bahasa Jawa dari kata Cincowong sendiri yaitu "coba terka siapa ini".

Film ini dikemas dengan begitu rapi dan bagus, memiliki grafik yang tidak membosankan, alur dari setiap tokoh yang ditampilkan memiliki peran penting dalam menjelaskan ritual cincowong ini.

Di film ini juga ditampilkan adegan dimana masyarakat melakukan ritual pemanggilan hujan tersebut yang dipaduh oleh Mulya Punduh atau yang kerap kita kenal dengan sebutan dukun dan menggunakan boneka perempuan yang dihias menggunakan baju gaun dan riasan wajah agar terlihat cantik sebagai media jejelmaan roh gaib nantinya. 

Dalam cuplikan tersebut, ritual ini kerap dilakukan oleh wanita tua maupun muda untuk memegang boneka tersebut bersama dengan punduh ritual. Kemudian, ritual tersebut dimulai dengan memperlihatkan punduh dan sejumlah wanita berjalan diatas taraje (tangga bamboo) bolak-balik sebanyak tiga kali. Ritual tersebut juga diiringi oleh musik yang dimainkan menggunakan alat music utama yang bernama buyung dan bokor. 

Dalam cuplikan dimana boneka Cincowong ini mulai dirasuki oleh roh gaib ditandai dengan menolehnya boneka secara perlahan dari kanan ke kiri dan sebaliknya. Jika roh gaib tersebut mulai lebih agresif sudah ada yang siap untuk menahan atau memegangi boneka tersebut. 

Dalam film ini juga diperlihatkan bahwa salah satu dari narasumbernya menjadi keturunan terrakhir yang mewarisi ilmu ritual cincowong ini. Menurut warga setempat ritual ini sudah tidak benar dan menyimpang, karena sama saja dengan mempersekutukan Tuhan Yang Maha Esa dan menjadi musyrik. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline