Lihat ke Halaman Asli

Akhmad Saefudin

An Amateur Writer

Apa Pentingnya Pemilu buat Kami?

Diperbarui: 6 Juni 2018   00:17

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bupati Batang, Wihaji, berswafoto dengan puluhan pemilih pemula yang mengikuti sosialisasi Pilgub Jateng 2018, belum lama ini. (dokumen pribadi)

Ya, apa pentingnya pemilu buat kami? Dalam pengertian retorik, pertanyaan itu wajar saja diajukan setiap anak bangsa yang melihat hasil berbagai pesta politik yang tak banyak memberikan dampak bagi kehidupan berdemokrasi maupun kehidupan berbangsa secara umum? Toh, nyatanya kondisi bangsa tak banyak beranjak, jadi wajar dong jika ada yang skeptis dengan pemilu.

Seingat saya, pertanyaan bernada skeptis atau bahkan apatis sekalipun juga bukan hal baru. Dulu, pertanyaan itu justru sering saya dengar dari anak-anak yang bangga dengan identitas aktifisnya, sebagian besar yang mengaku berhaluan kiri. Sejak 1999, ketika pemilu pertama paska reformasi digelar untuk pertama kalinya, pun tak sedikit di antara mereka yang memilih tak menggunakan hak pilihnya alias golput.

Saat ini, gugatan ala pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang nyaris tak terdengar lagi. Bahkan oleh mereka yang dulu antipati terhadap pemilu. Mungkin sebagian dari mereka kini telah nyaman dengan posisinya.

Kembali, apa pentingnya pemilu buat kami? Pertanyaan itu belum lama ini kudengar kembali. Bukan dari tokoh pergerakan ataupun aktifis. Bukan pula dari akademisi dan praktisi. Percaya atau tidak, soalan itu justru meluncur dari mulut seorang calon pemilih pemula yang masih duduk di bangku kelas XI SMA.

Menariknya, pertanyaan itu dilontarkan di saat kegiatan sosialisasi Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jateng Tahun 2018 yang diperuntukkan bagi pemilih pemula. Acara yang diselenggarakan Kantor Kesbangpol Kabupaten Batang itu menghadirkan tiga narasumber, yakni Kepala Kesbangpol sendiri Dr Agung Wisnu Barata, S.Sos MM, Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pancasila Hukum dan Demokrasi (Puskaphdem) Unnes, Arif Hidayat SH MH, serta Bupati Batang Wihaji, M.Pd.

Dihadapkan pertanyaan itu, Bupati mengajak para pemilih pemula tak apatis terhadap proses demokratisasi di Indonesia yang mungkin belum menemukan pola terbaiknya. Justru, kata bupati muda itu, pemilih pemula yang persebarannya tak sedikit itu berkesempatan untuk memperbaiki proses dan hasil berdemokrasi.

"Jadilah pemilih pemula yang cerdas dan peduli dengan nasib daerah dan bangsa ke depan. mari lahirkan bupati yang baik, gubernur yang baik, DPRD dan DPR yang baik, presiden yang baik. Kawal mereka agar tetap baik dan mampu melahirkan sistem yang baik," pesan Bupati.

Kata dia, sistem yang baik sangatlah menentukan orang-orang yang ada di dalamnya. Menurut Wihaji, sebaik apapun manusianya, sistem yang buruk berpotensi membuatnya jadi buruk.Sebaliknya, dalam sistem yang baik, orang akan belajar menjadi baik.

"KPK itu sistemnya sudah baik, sehingga siapapun yang mengisi di dalamnya ya tetap baik. Maka pemilu harus menjadi momentum untuk menentukan kabupaten, provinsi, dan negara ke depan agar baik. Jadilah pemilih pemula yang menentukan itu, yang menggunakan hak pilihnya dengan cerdas," terang Bupati.

Diretur Eksekutif Puskaphdem Unnes, Arif Hidayat SH MH, mengatakan, keberadaan pemilih pemula dalam pemilu menjadi penting karena prosentase mereka yang mencapai 20%. Untuk menjadi pemilih pemula yang cerdas, kandidat Doktor Unissula itu menawarkan 3 syarat, yakni memilih kata hati, rasional, dan kritis.

"Bagaimana menjadi kritis, Anda harus memahami hak dan kewajiban dulu. Kalau Anda belum mengenal calon-calon Pilgub, ya jangan tunggu mereka mendatangi Anda, tapi cari tahu mereka. Itu contoh pemilih pemula yang smart," ujar Arif.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline