Lihat ke Halaman Asli

Gibran, dari Pilwakot Solo hingga Sekjen PBB

Diperbarui: 27 Juli 2020   19:43

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kompas.com

LEBIH dari sepekan, nama Gibran Rakabuming Raka patut diakui mampu membius mayoritas warga masyarakat tanah air. Hal tersebut tak lepas dari kesuksesannya "menghipnotis" DPP PDI Perjuangan untuk memberikan rekomendasi pencalonan Pilwakot Solo, 9 Desember 2020 mendatang.

Sengaja, saya pilih kata "hipnotis", sebab hingga hari ini, saya masih meyakini bahwa sejatinya yang lebih cocok memperoleh rekomendasi untuk tiket maju pada pencalonan pesta demokrasi rakyat lima tahunan itu adalah sang petahana, Ahmad Purnomo.

Namun, dengan "hipnotis" Gibran yang memanfaatkan kelebihannya sebagai putra presiden, mampu membuat pihak DPP partai berlambang banteng gemuk moncong putih tersebut lupa, bahwa di Solo ada kader partai yang jauh lebih pantas diberikan rekomendasi.

Dengan "hipnotis" Gibran pula, arah politik di Kota Bengawan ini dalam seketika berubah. Dalam arti, hampir dipastikan tidak akan ada kader partai lain yang berjiwa ksatria menandingi pengusaha martabak "Markobar" tersebut.

Sebagian besar partai politik yang ada di Kota Solo, bagai kerbau dicocoki hidungnya. Belum apa-apa, mereka sudah "manut" dan turut bergabung dengan tim Gibran. Alasannya sudah jelas, para partai politik ini jiper dan sama-sama ingin menangnya saja. Tak peduli, harga diri, yang penting bagi mereka lebih baik mengekor dan menang daripada bertanding terus kalah.

Itulah politik, yang ada dalam benaknya hanya ada tiga kata. Yaitu, kepentingan, kepentingan dan kepentingan.

Kembali ke laptop. Eh, maksudnya kembali ke Gibran Rakabuming Raka. Paska mendapatkan tiket "istimewa" dari DPP PDI Perjuangan, seketika langsung menjadi bahan sorotan tajam sejumlah kalangan.

Ada yang bilang, Gibran adalah korban politik ayahnya, Presiden Jokowi, yang berambisi melanggengkan kekuasaannya. Ada pula yang ngomong, Gibran calon pemimpin karbitan, mengingat pengalamannya di dunia politik belum genap satu tahun, sejak mendaftar jadi kader PDI Perjuangan, bulan September 2019 lalu.

Bahkan, tak sedikit pula yang mencibir, bahwa majunya Gibran pada Pilwakot Solo, tak lebih dari memanfaatkan kekuasaan ayahnya yang masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia (RI). 

Atau kalau boleh meminjam kata dari Kompasianer senior, Prof. Felix Tani, ayah dari Jan Ethes ini sedang menggunakan aji mumpungisme. Mumpung ayahnya berkuasa, mumpung segala fasilitasnya masih ada dan mumpung tidak ada larangan politik dinasti.

Kendati begitu, nasi sudah menjadi bubur. Rekomendasi yang telah diperoleh Gibran mustahil ditarik lagi. Sekeras apapun kritik, cibiran dan nyinyiran publik, tidak akan mempengaruhi keputusan DPP PDI Perjuangan yang mempercayakan tongkat estapet kepemimpinan FX Hadi Rudyatmo (Wali Kota Solo saat ini) terhadap Gibran Rakabuming Raka.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline