Lihat ke Halaman Asli

Saktya Alief Al Azhar

Human Resources

Kamu Belajar untuk Bekerja? Semoga Tidak (2)

Diperbarui: 3 September 2017   13:37

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Melakukan beberapa pendekatan untuk membuat F kembali lagi ke sekolah formal

Pembukaan yang (Masih) Manis

Anak adalah titipan dari Tuhan kepada hambanya, katanya beberapa orang seperti itu. Ada juga yang menganggap bahwa anak adalah permata hati orangtua. Dan masih banyak lagi perumpamaan-perumpamaan anak sebagai cerminan dari orang tuanya.

Setelah kemarin kita bersama-sama mengulas anak dengan inisial A, mari kita lanjutkan kembali ceritanya dengan dua anak yang berinisial F dan B. Dua anak ini sedikit lebih nakal dibandingkan anak yang berinisial A yang telah saya ceritakan kemarin. Walaupun dengan cerita-cerita inspirasi pun kedua anak ini masih saja tidak terketuk hatinya untuk kembali lagi mengenyam pendidikan formal.

Anak Berinisial F

Sebut saja dengan inisial F. F adalah orang yang tertutup dengan lingkungannya bahkan kepada keluarganya sekalipun. F sekarang sedang memasuki umur ke 15 dalam hidupnya. Sehari-hari F terlihat lebih menyendiri di dalam kamar ataupun keluar untuk pergi ke jalan bersama teman-teman anjal (anak jalanan) yang tak jauh dari rumahnya. Itulah aktivitas sehari-hari dari F untuk menyambung hidupnya. Nyepek -- bahasa malangan- adalah makanan sehari-hari yang harus dilalui oleh F untuk bertahan hidup. Seperti tak terawat oleh orang tuanya, anggapanku sejak awal ketika bertemu dengan F dan orang tuanya.

Jika bersekolah, sekarang ini F harusnya sudah duduk di kelas 3 SMP sama halnya dengan A yang kemarin aku ceritakan. F memiliki masa-masa yang sulit ketika bersekolah selama di SMP. Lingkungan sekolah yang tidak mendukung perkembangan pembelajaran dia, membuat karakter F semakin tertutup, bahkan teman-temannya yang di sekolah pun banyak yang berbuat jahat terhadapnya. Dari hari ke hari masa-masa sulit tersebut mengekang F dalam belenggu kesalahan. Sampai pada suatu hari F menghilangkan topi milik temannya yang berakibat dirinya semakin dibenci oleh teman-temannya.

Cerita ini aku dapatkan dari cerita orang tuanya ketika aku dan teman-temanku berkunjung ke rumahnya. Sambil menangis ibunya menceritakan segalanya yang berkaitan dengan F, yang lebih mengenaskan ibunya tahu segalanya soal F bukan dari F sendiri melainkan dari kepala sekolahnya yang sempat memanggil ibunya karena F sudah bolos sekolah berhari-hari.

Dalam sebuah teori dari para kaum-kaum behaviorisme, bahwasannya lingkungan akan membentuk atau mempengaruhi tingkah laku dari manusia, hal ini diungkapkan oleh B. F. Skinner dan Ivan Pavlov dalam teorinya. Akan tetapi, teori dalam psikologi begitu dinamis, munculah teori dari tokoh psikologi, yaitu Albert Bandura dengan teorinya yang dinamakan Triadic Reciprocal Determinism, yang menyatakan bahwa bukan hanya lingkungan saja yang mempengaruhi tingkah laku, namun manusia memiliki kognitifnya untuk memilih tingkah laku tersebut. Jadi, jika diambil kesimpulan antara tingkah laku, lingkungan dan kognitif saling mempengaruhi.

Hal ini terjadi pada kehidupan F. Bahwasannya tingkah laku F yang tertutup kepada lingkungannya atau tidak ingin melanjutkan sekolah lagi dipengaruhi oleh perilaku lingkungan sekolah yang menjadi momok traumatis kepada diri F.

Pada pertemuanku yang pertama dengan F, ketika itu F benar-benar tidak mengucapkan sepatah katapun, akhirnya aku lebih banyak ngobrol dengan kakaknya yang paling besar sambil menyinggung-nyinggung pembahasan soal F. Tetapi pertemuanku saat itu tak membuahkan hasil apapun pada diri F. Semua hal yang diobrolkan dengan kakaknya mungkin hanya masuk telinga kanan dan keluar langsung dari telinga kiri.

Kemudian, pada pertemuan keduaku bersama teman-temanku dengan F sedikit membuahkan hasil dengan proses konseling dan intervensi yang kami lakukan ketika itu membuat F mengeluarkan suaranya dihadapanku untuk pertama kalinya. Saat itu F mengungkapkan keinginannya, seluruh keinginannya dikeluarkan dihadapan kita, baik itu tidak ingin sekolah lagi, permasalahannya di sekolah ataupun pekerjaan yang ingin dia geluti setelah ini. Setelah semuanya terungkapkan, aku beserta teman-temanku tetap mengajak F untuk kembali sekolah atau masuk pendidikan formal sesuai dengan keinginannya, namun apalah daya keinginan F sudah sangat bulat untuk bekerja.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline