Lihat ke Halaman Asli

Rullysyah

Penulis

Bila Teori "Surinc Passed" Benar, Jokowi akan Kalah di Pilpres 2019

Diperbarui: 23 Maret 2019   19:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi dari detik.com

Sudah hampir  10 tahun menulis artikel di Kompasiana membuat  banyak  pembaca yang bertanya tentang siapa saya sebenarnya.   Banyak yang berpikir bahwa saya adalah Pengamat Politik.  Tentu saja itu salah.  Sebenarnya saya ini bukan siapa-siapa melainkan hanyalah masyarakat pemerhati masalah social, politik dan demokrasi.

Kebetulan saja  dulu  tahun 2012 Prediksi  yang saya buat  untuk  Pilgub DKI  cukup tepat hasilnya. Begitu juga dengan Prediksi saya di Pilpres 2014 cukup tepat sehingga banyak orang yang menganggap saya sebagai Pengamat Politik. Padahal semua  itu hanyalah kebetulan  belaka  karena latar belakang   pernah kuliah di Fakultas Matematika  sehingga  sudah terbiasa  mengutak-ngatik angka.

Pada momen Pilgub DKI 2012 Putaran Kedua  sebuah Prediksi yang saya tulis di artikel saya : Jokowi-Ahok  54,28% dan Foke-Nara 45,72% dan hasil KPUD DKI  adalah Jokowi-Ahok 53,82 dan  Foke-Nara 46,18%. Jadi prediksi saya meleset 0,46 %. 

Sementara untuk Pilpres 2014 dalam artikel  tanggal 7 Juli 2014, saya menuliskan prediksi untuk Jokowi-JK 53,69% dan  Prabowo-Hatta 46,31%  dan hasil KPU waktu itu adalah Jokowi-JK :53,15% dan  Prabowo-Hatta 46,85%.  itu artinya prediksi saya  meleset 0,54%.

Dalam kedua artikel prediksi tersebut saya menggunakan basis data Survey Elektabilitas dari berbagai lembaga survey dan mengolah angka-angkanya menjadi sebuah prediksi. 

Saya menyebut teori yang saya gunakan itu sebagai  "Teori Proporsi Pemilih".  Teori ini mengabaikan angka Undecided Voters dimana angka Undecided Voters  kemudian saya proporsikan (dibagi secara proporsional ) kepada  kedua kandidat.

Saya menamai seperti itu karena saya bukan pakar Survey ataupun  Pakar Politik sehingga memang tidak tahu istilahnya. Dan kemarin ternyata saya baru paham bahwa teori yang saya pakai d itahun 2012-2014  itu disebut juga oleh Litbang Kompas sebagai "Extrapolasi Elektabilitas".

Baiklah kita tinggalkan dulu soal teori itu. Teori itu mungkin sangat layak dipakai untuk memprediksi hasil Pemilu ataupun Pilkada.  Berikutnya saya ingin mengajak pembaca untuk menelaah  soal Potensi Melesetnya Hasil Survey Lembaga Survey di Pilpres 2019.

Tapi sebelum itu saya jelaskan sedikit tentang sebuah teori  lagi yang  baru saja saya temukan dalam beberapa hari terakhir ini. Silahkan disimak dan silahkan disanggah di kolom komentar kalau anda menyimpulkan teori ini salah.

BENARKAH SETIAP SURVEY PILKADA UNTUK  KONTESTAN INCUMBENT PASTI MELESET?

Mungkin pembaca setia Kompasiana sudah hapal dengan kalimat-kalimat saya dalam banyak artikel yang sudah saya publish dalam sebulan terakhir ini.  Bahwa saya meragukan Hasil-hasil Survey Pilpres 2019 yang sudah ada.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline