Lihat ke Halaman Asli

Raden Mahdum

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia

Belajar Kehidupan yang Bukan Kehidupan, Lebih Sinting dari Abstraksi Para Jenius

Diperbarui: 27 Mei 2021   11:38

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

medium.com/the-neo-humanist-museum

Manusia kiranya memiliki indra yang lebih baik dari simpanse yang dianggap memiliki persamaan dalam DNA. Bukan seperti gajah yang memiliki dua belalai, manusia punya telinga tapi tidak punya pendengaran yang baik seperti kelelawar. 

Gelap bukan jadi soal, layaknya burung hantu di malam hari yang tidak aktif di siang hari, tapi sepertinya manusia selalu aktif pada siang dan malam. Malam berikutnya bukan jadi kepayang, setiap malam nasibnya pun sama seperti hujan saat matahari terik. 

Bukan manusia namanya jika tidak suka cari perkara, Hukum Pidana yang ber asaskan ultimum remedium pun rasanya bukan lagi sebuah asas dalam kehidupan dewasa ini. Pantaskah dibilang dewasa? 

Layaknya Socrates yang dibunuh karena dianggap menyesatkan banyak orang, ternyata memang hidup tidak selalu mengarah kepada ekspektasi belaka. Bukan hidup namanya jika kebohongan masih dipertontonkan. Layaknya dukun yang dianggap orang pintar, seberapa pintar para ilmuan bisa dianggap pintar jika masih meneliti dunia yang obscure libel.

Dua dunia yang dipertontonkan banyak orang, layaknya para penguasa yang membawa negara entah ke mana tujuanya, ke dunia ghaib kah? mungkin itu lebih baik dari pada rakyat masih dipertontonkan budaya politik yang lebih kejam dari pembunuhan kaum yahudi oleh petinggi Jerman Adolf Hitler pada abad ke 19 yang suram itu. Tapi kiranya pahlawan revolusi dianggap super hero padahal zaman itu bukanlah zaman yang lebih baik dari sekarang.

Aneh rasanya di dalam negara sendiri, merasa tidak aman seperti dalam kandang harimau liar yang tidak makan santapan. Entah sampai kapan kehidupan ini berlangsung seperti jahanam yang siap membakar para pendosa, tapi apakah seperti itu? 

Sudah lebih dari 75 tahun bangsa yang dianggap hasil perjuangan melawan penjajah ini merdeka, tapi rupanya mulut masih dijajah. Bukan halnya jika sepertinya manusia sudah meninggalkan budaya yang diciptakan, budayalah yang dibuat orang, bukan orang yang dibuat budaya, benar atau tidak, tapi itulah yang bisa dikatakan oleh para budayawan nusantara.

Hal yang tidak bisa disadari adalah saat Homo Sapiens mengikuti nafsu berkuasa, tapi ternyata nafsunya berujung tragis dalam bui dan dikutuk oleh rakyatnya sendiri. Hierarki dingin yang berkecamuk seperti es yang tiba-tiba dilelehkan oleh api yang yang membara. Oleh sebab itu ada saja kejadian di atas kejadian. 

"Usaha dan keberanian tidak cukup tanpa tujuan dan arah perencanaan." itulah kiranya yang bisa diucapkan oleh John F Kenedy. Jahatnya para penjahat, ternyata dalam realitanya ada penjahat yang menyamar menjadi pahlawan. Bak memainkan peran dalam theater. 

Setelah melibas kawan baiknya, semua takjuk akan jasanya. 32 Tahun bangsa yang dianggap sebagai powernya sumber daya alam. Ternyata dipimpin oleh manusia lapar yang kekurangan bantuan sosial bapak menteri sosial yang terkena kasus Korup. Ternyata setelah beberapa dekade rakyatpun tau bahwa dia juga penjahat. Digulingkanlah kekuasaan manusia yang lapar akan bansos itu.

Kehidupan yang tidak bisa ditebak arah dan tujuannya, selalu digeluti banyak orang. Dunia yang dianggap dewasa ini masih saja berbuat curang hanya untuk mendapatkan anggur merah geratis oleh orang lain. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline