Lihat ke Halaman Asli

Rizky Febriana

TERVERIFIKASI

Analyst

Jakmania, A.C.A.B. dan Gerakan Anti Polisi

Diperbarui: 30 Juni 2016   22:24

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi (dok Ivan Ramirez dkk)

A.C.A.B. Nampaknya istilah ini makin hari makin akrab di telinga masyarakat Indonesia, apalagi setelah Kombes Krishna Murti yang merupakan Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya mengunggah foto salah satu oknum The Jakmania yang memiliki tato bertuliskan A.C.A.B di tangan kanannya.

Oknum tersebut menurut informasi Krishna Murti ikut diamankan karena diduga melakukan penghinaan "hate speech" terhadap kepolisian di sosial media dan diduga turut serta melakukan pengerusakan terhadap mobil kepolisian yang sedang mengamankan laga pada saat Persija vs Sriwijaya FC bertanding dilanjutan TSC 2016, Jumat pekan lalu (24/6/2016).

Lantas apa itu A.C.A.B? All Cops Are B*st*rd. Semua aparat (khususnya polisi) itu kep*r*t. Kurang lebih begitulah terjemahan bebas dari akronim A.C.A.B. Istilah tersebut memang sebenarnya sudah lama dikenal dikalangan suporter sepakbola.

Suporter dengan tato A.C.A.B

Beberapa literatur menyebutkan A.C.A.B mulai populer di negeri para Hooligan, Inggris, sekitar pertengahan tahun 1970-an. Menurut buku A Dictionary of Catch Phrases karangan Eric Patrige, A.C.A.B mulai dikenal luas karena tulisan seorang Jurnalis asal Kota Newcastle Inggris setelah dirinya mengunjungi penjara-penjara dimana disetiap dinding penjara banyak terdapat coretan A.C.A.B, All Coopers Are B*st*rd.

Beberapa literatur lain kemudian menyebutkan, istilah A.C.A.B telah dikenal pada era 1920-an ketika peristiwa "UK Miners' Strike", A.C.A.B adalah slogan yang digunakan para pekerja tambang yang mogok kerja. 

Dalam tulisan London's Protest Stickers: Anti-Police, dikisahkan gerakan anti-police bahkan sudah ada sejak era polisi modern (metropolitan police) lahir pada era 1820-an. Tepatnya pada 28 Oktober 1830 di Hyde Park Corner London Inggris protes terhadap polisi sudah terus disuarakan "No New Police".

Di Inggris, di tahun 1980-an, istilah A.C.A.B makin populer setelah grup musik beraliran punk The 4 Skins menciptakan lagu dengan judul A.C.A.B pada tahun 1982. Selang 7 tahun berikutnya tepatnya di tahun 1989, grup Punk lainnya Doom juga merilis lagu yang sama dengan judul Police B*st*rd.

A.C.A.B, slogan anti-police ini seperti merupakan bentuk "perlawanan kelas" dari sipil terhadap para kepolisian yang dirasa tidak berpihak kepada mereka para demonstran justru sebaliknya lebih berada dibarisan para penguasa, pemerintah maupun land lord. 

Padahal seharusnya seperti kata Bapak Polisi Moderen Inggris Sir Robert Peel, the police are the public and the public are the police. Itu artinya menurut penulis, polisi yang sebenarnya berasal dari masyarakat seharusnya juga bisa menjadi mitra masyarakat luas.

Disetiap kejadian pasti ada pahlawan yang hadir melerai (dok JPPN)

Hingga kini A.C.A.B sudah seperti ideologi baru. Maka jangan pernah heran, istilah tersebut cepat berkembang dan makin populer termasuk di komunitas suporter sepakbola dunia juga Indonesia apalagi mereka yang sering mengklaim dirinya sebagai Hooligans, Ultras maupun garis keras.

Namun apapun itu, penulis pribadi sangat tidak sepakat dengan istilah A.C.A.B atau simbol angka 1.3.1.2 (1=A, 3=C, 1=A dan B=2) yang sudah lama digunakan oleh para pengusungnya. Alasannya sederhana, coba jawab pertanyaan saya apakah semua polisi itu penjahat, brengsek dan kep*r*t?

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline