Lihat ke Halaman Asli

Rina Susanti

Mama dua anak yang suka nulis, ngeblog dan motret. Nyambi jualan kopi dan jualan anggrek/tanaman hias. Bisa intip blog saya di www.rinasusanti.com

'Horornya' Calo Kargo di Bandara

Diperbarui: 7 Desember 2016   13:12

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber gambar: bandarasoekarnohatta.com

Malam-malam tidak bisa tidur karena ingat kejadian ini, kejadian yang bikin shock, panik dan marah. Jadi saya tuliskan biar bisa tidur tenang sekaligus berbagi pengalaman terutama untuk teman-teman UKM pemula seperti saya.

Beginilah Ceritanya Kawan
Sebagai pedagang online pemula dengan skala UKM tidak pernah terbayangkan akan berhubungan dengan pengiriman barang oleh kargo. Karena di benak saya, pengiriman oleh kargo itu harus dalam jumlah besar. Walaupun pembeli barang dagangan saya berasal dari seluruh kepulauan Indonesia selama ini ter-handle dengan jasa pengiriman Pos atau JNE. Lagipula barang yang dikirim pun memang tidak besar, hanya bunga.

Untuk bunga potong, saya hanya melayani pengiriman daerah Jabodetabek, paling jauh Bandung. Dengan begitu kondisi bunga sampai di tangan pembeli dalam kondisi segar dan memuaskan. Sampai bulan lalu saya mendapat pesanan ratusan tangkai bunga potong dari Kalimantan Tengah.

“Maaf mba gak bisa, saya khawatir, bunganya sampai sana layu dan tidak bisa dipakai,” tolak saya. Perkiraan saya jika tetap dikirim akan sampai paling cepat tiga hari walaupun ada jasa layanan sehari sampai, saya tidak yakin kalau ke Kalimantan beneran bisa sehari sampai.

“Dikirim pake kargo Mba, sehari sampai.”

“Duh saya belum pernah pake jasa kargo Mba lagi pula saya kurang bisa packing bunga kalau jarak kirim terlalu jauh, khawatir bunga sampai di tangan Mba rusak.”

“Ya, udah kalau begitu saya ke Jakarta Mba. Soalnya di sini bunga itu stoknya sedikit dan harganya mahal. Bunga di tempat mba selalu ready kan?”

“Insyaallah ready karena di sini banyak kebunnya, kalau di kebun saya kosong bisa ambil dari kebun rekan saya.”

Tunggu ditunggu calon pembeli tidak datang sampai suatu malam tiba-tiba dia mengirimkan pesan lewat WA.

“Mba, lusa bunganya tolong dikirim ya, maksimal jam 8 malam sampai bandara Soeta karena mau dipakai Hari Minggu. Besok saya transfer uangnya. Minta rincian harga, biaya ongkir dan nomor rekening. Oh ya mba nama kargonya Tr*g***.”

Sejenak saya bingung. Walaupun pernah ke bandara ya untuk naik pesawat, tidak kebayang seperti apa kargo di sana. Pak Suami berinisiatif membantu dengan mencari tahu nama kargo yang disebutin konsumen kami. Akhirnya dapatlah nomor telepon kargonya. Kami pun menanyakan secara detail letak kantor kargonya di bandara, jam layanan dan harga ongkir.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline