Lihat ke Halaman Asli

Ridha Afzal

TERVERIFIKASI

Occupational Health Nurse

Work From Office, Jangan Asal Kerja

Diperbarui: 10 November 2021   05:57

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Personal Collection. Pak Saeroji, Jangan Asal Kerja. 

Jauh sebelum merebaknya Covid-19, saya pernah berkunjung ke sebuah kecamatan kecil, Munjungan namanya, di bagian pesisir laut selatan, Kabupaten Trenggalek. Di Munjungan, yang memiliki 11 desa tersebut, kami bertamu ke seorang senior, karyawan BKKBN. Pak Saeroji namanya. Beliau bekerja di lembaga Keluarga Berencana, milik Pemerintah, sudah lebih dari 35 tahun menggeluti profesinya sebagai PKB (Penyuluh Keluarga Berencana).

Berlatar belakang pendidikan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Pak Saeroji, menekuni profesi PKB dari bawah, di tempat yang sama. Saya bayangkan betapa menjenuhkan. Lebih dari 35 di kantor yang sama, dengan orang-orang yang sama, kecamatan yang menurut saya terpencil, 40 km dari kota, di wilayah pegunungan, rawan longsor, tentu tidak mudah bekerja sebagai PKB.

Makanya saya salut dengan beliau. Di tengah kesulitan menghadapi tantangan kerjanya, beliau sangat tegar. Akhir tahun 1980-an belum ada motor, belum ada HP di instansinya , naik turun bukit, dengan sepeda buluk yang digunakan bergantian dengan 2 orang rekan kerja lainnya. Pak Sae menyadari dari awal, bahwa tantangan kerjanya makin besar nantinya.

Oleh sebab itu beliau kuliah lagi. Ambil pendidikan sarjana, kemudian lanjut dengan pascasarjanya. Beliau selesaikan pendidikan di kota Trenggalek. Mondar-mandir sejauh 40 km perjalanan, liku-liku dan berkelok, tidak kurang dari 6 bukit yang harus dilaluinya guna menuju kota.

Saat ini Pak Sae yang asli kecamatan Tegal Dlimo, menjabat sebagai Kepala PKB di Kecamatan Munjungan. Di usianya yang senja, beliau tidak lagi mampu ngantor sebagaimana semula. Penyakit Stroke yang dideritanya mengakibatkan Pak Sae tidak lagi bisa naik motor karena separuh dari organ ekstremitasnya mengalami gangguan fungsi. Mengetikpun hanya bisa menggunakan tangan kanan.

Meski demikian, dari pancaran wajahnya, saya masih bisa melihat pancaran semangat kerjanya yang luar biasa. Beliau pimpin kantor dengan 5 anak buah.

Kini, BKKBN Munjungan tidak lagi seperti dulu di tahun 80-an. Setiap staf PKB dilengkapi dengan gadget, masing-masing punya motor selain ada motor dinas. Absen kerja harian wajib menggunakan aplikasi, bekerja dengan target. Bukti kerja harus dilampirkan dalam setiap laporan kegiatan. Ada target spesifik yang harus diraih. Perolehan insentif dan kenaikan pangkat akan dievaluasi sesuai perolehan hasil kerja.

Kata Pak Sae, system yang baru ini baik. Beliau sangat mendukung. Dengan system baru ini akan bisa dilihat mana yang kerja dan mana yang tidak. System yang mirip dengan SMART Objectives (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound) ini membantu karyawan lebih fokus, memiliki kegiatan yang jelas dan memotivasi. Dengan SMART goals ini akan terhindar dari iri-dengki sesama karyawan. Karena perolehan penghasilan akan didasarkan pada aktivitas dan perolehan capaian kegiatan. Buka sama rasa sama rata. "Dulu..." Kata Pak Sae, "....kita semua dibayar sama. Kerja atau tidak, sama saja gajinya. Itu tidak bagus." Lanjutnya.

*****

Beberapa pekan belakangan kini sepertinya terlihat tanda-tanda akan berakhirnya pandemi Covid-19 (semoga). Beberapa kantor, instansi mulai memberlakukan kebijakan WFO (Work From Office). Kembali lagi kerja di kantor sebagaimana semula, sesudah hampir dua tahun Work From Home (WFH) tidak mudah. Konon WFH bagi sementara orang dirasakan membosankan dan banyak yang malas kerja serta tidak produktif.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline