Lihat ke Halaman Asli

Pujakusuma

Mari Berbagi

Sekolah Virtual, Berkah Anak Miskin Jateng Saat Pandemi

Diperbarui: 16 Oktober 2020   09:08

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. dok kompas.com

Mimpi sekolah tinggi telah dikubur dalam-dalam oleh Aprilia Lestari. Bocah asal Boyolali berusia 15 tahun ini hanya bisa pasrah dengan keadaan. Kondisi ekonomi orang tua yang hanya buruh tani, membuatnya tak bisa apa-apa. Jangankan untuk melanjutkan sekolah, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah susah.

Hal sama juga dialami Yevi Nurfahmi,16, warga Brebes yang nasibnya tak jauh beda dengan Aprilia. Ia harus rela melupakan mimpinya menjadi seorang penyanyi, karena nasib tak berpihak padanya. Orang tua yang hanya bekerja sebagai pembantu, tak cukup untuk biayanya melanjutkan sekolah ke jenjang SMA.

Ada 45.000 lebih warga Jawa Tengah yang bernasib sama dengan Aprilia dan Yevy ini. Mereka anak-anak miskin itu, hanya bisa terpaku melihat kawan-kawannya berlari riang berangkat ke sekolah dengan seragam putih abu-abu yang keren. Dengan lirih mereka berdoa, suatu saat bisa memakainya.

Tak disangka, doa itu terjawab.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo membuat sebuah terobosan baru bernama Sekolah Virtual. Program sekolah daring itu ia luncurkan pada Selasa (13/10) lalu dan digunakan untuk menampung anak-anak putus sekolah atau tidak sekolah karena permasalahan ekonomi.

Ganjar mengatakan, Sekolah Virtual ini terinspirasi dengan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang berlangsung selama pandemi. Meski tak bisa berangkat ke sekolah, namun pelajar tetap bisa belajar di rumah. Ganjar berpikir, kalau itu bisa dilakukan, berarti ada cara untuk memberikan ruang pada anak-anak yang putus sekolah di Jawa Tengah.

Sekolah Virtual Ganjar dibuat layaknya sekolah reguler biasa. Meski berkonsep daring dan hanya sesekali melakukan tatap muka, namun siswa-siswi Sekolah Virtual memiliki hak yang sama. Mereka akan diajari mata pelajaran sesuai kurikulum yang ada, dan lulus juga mendapatkan ijazah yang bisa untuk melamar kerja atau melanjutkan kuliah. Bahkan, mereka juga mendapatkan nomor induk yang tercatat dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) di instansi terkait.

Kok bisa?

Karena Ganjar mengindukkan Sekolah Virtual itu ke sekolah negeri yang sudah ada. Untuk pilot project, Ganjar membuat dua Sekolah Virtual yang dititipkan di SMAN 3 Brebes dan SMAN 1 Kemusu Boyolali. Saat ini, sudah ada dua rombongan belajar di Sekolah Virtual Ganjar, masing-masing 36 siswa.

Keren ya?

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline