Lihat ke Halaman Asli

Seandainya Tarif Internet Telkomsel Turun

Diperbarui: 4 Mei 2017   17:42

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

Desakkan agar tarif internet Telkomsel turun, terus didengungkan oleh berbagai pihak. Namun tidak ada yang pernah mengulas bagaimana dampak yang terjadi jika tarif internet Telkomsel turun. Benarkah masyarakat akan diuntungkan ?Betulkah industri akan makin sehat ? Yuk mari kita kupas satu persatu secara objektif apa dampaknya ketika tarif internet Telkomsel dipaksa turun.

Dengan tarif internet yang dianggap mahal saat ini harus diakui Telkomsel adalah operator dengan jangkauan terluas dan kualitas terbaik. Data dari Open Signal membuktikan hal tersebut bagaimana Telkomsel unggul secara kualitas di sebagian Jawa dan hampir seluruh kawasan di luar Jawa. Testimoni para pelanggan yang bisa ditangkap di media sosial juga memperkuat hal tersebut. Setiap orang yang punya mobilitas tinggi hingga ke kota kecil dan pelosok bisa dipastikan menggunakan kartu Telkomsel. Silakan cek langsung dilapangan jika sekiranya informasi tadi tidak valid.

Jumlah BTS yang dimiliki Telkomsel pun sudah jauh melewati operator lain. Hingga akhir tahun 2016 berdasarkan data yang dipublikasikan oleh masing-masing operator disebutkan bahwa jumlah BTS Telkomsel  mencapai  129 ribu, bandingkan dengan XL yang 84 ribu dan Indosat 56 ribu.  Dari sini saja sudah bisa mencerminkan betapa luas jangkauan Telkomsel.

Memang pelanggan saat ini, khususnya pelanggan data adalah pelanggan yang menuntut kualitas tinggi. Maka tidak heran banyak yang tetap bertahan menggunakan Telkomsel dengan alasan kualitasnya lebih baik dari yang lain. Anggapan harga mahal akhirnya jadi bisa ditolerasi mengingat kebutuhan kualitas tadi. Ya layaknya ungkapan yang terkenal ini “ada uang ada barang, ada harga ada rupa, ada biaya ada kualitas”.

Oke, jadi itu gambaran saat ini. Lalu dengan adanya anggapan tarif mahal saja, Telkomsel tetap menjadi pilihan sebagian besar pelanggan. Dari berbagai pemberitaan, konon market share Telkomsel lebih dari 50% secara nasional.

Sekarang, mari kita berhandai-handai. Gimana kalau Telkomsel memenuhi tuntutan sebagian masyarakat di media sosial agar menurunkan tarif internet ? Ada yang bilang dengan tarif yang terlalu mahal Telkomsel mencatatkan laba bersih yang luar biasa bahkan cenderung abnormal sehingga net profitmargin nya mencapai 31%. Satu angka yang dibilang tidak masuk akal karena perusahaan besar lain di dunia saja rata-rata punya margin di bawah 25%.

Turun tarif mungkin kabar gembira bagi pelanggan….mereka bisa menikmati layanan telekomunikasi tanpa dibebani urusan kantong. Biaya telekomunikasi mereka bisa jadi lebih ringan dan bisa dialokasikan untuk belanja kebutuhan yang lain. Tapiiii…mau sampai kapan pelanggan mendapat previledge itu? Karena turun tarif Telkomsel juga memiliki efek domino yang perlu diwaspadai.

Akibat tarif Telkomsel turun adalah OPERATOR LAIN BAKAL MEGAP MEGAP. Lho…kok bisaa ? Sederhana sih penjelasannya. Siapa yang tidak suka tarif lebih murah dengan kualitas terbaik ? Seperti dibilang di atas, dengan tarif yang dianggap mahal saja 51% pelanggan masih memilih Telkomsel. Kebayang kan kalau tarif itu jadi lebih murah, apa tidak berbondong-bondong tuh pelanggan hijrah ke Telkomsel ? Lumayan kan, bisa menikmati jaringan terluas hingga ke pelosok dengan kualitas yang baik tapi bayarnya lebih irit

Operator lain yang selama ini kebagian pasar yang lebih memilih tarif yang dianggap murah, bisa jadi gigit jari karena pelanggannya menemukan layanan yang lebih menarik dengan harga yang lebih kompetitif. Apa tidak kasihan sama operator-operator ini ? Nanti Telkomsel dibilang monopoli lagi….padahal kan pelanggan adalah raja, yang bisa memilih apa saja yang dia mau dan ia butuhkan.

Kalau operator lain megap-megap, pasti secara langsung akan berdampak secara langsung pada LEMAHNYA INDUSTRI. Nah ini adalah akibat kedua jika Telkomsel turunkan tarif. Tidak ada industri yang sehat jika satu perusahaan saja yang tegak berdiri dengan kinerja bagus. Seharusnya para pemain bisa berkompetisi secara fair yang membuat pelanggan happy tapi perusahaan juga tetap beroperasi dan mencetak profit. 

Masalahnya kompetisi di telekomunikasi sudah dibuka lebar oleh pemerintah sejak deregulasi di tahun 1999. Tapi nyatanya strategi para operator ini berbeda-beda dan sekarang baru kelihatan strategi membangun di luar Jawa adalah berkah luar biasa. Telkomsel melakukan itu sejak awal berdiri meskipun pada saat itu banyak pertanyaan mengenai profitabilitas. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline